Aku sedang menggali lubang di kepalanya. Aku cabut rambutnya satu per satu untuk meneduhi tubuhku dari hujan dan badai yang terus saja menerpa. Aku harus aman dan bertahan dalam dinginnya hujan keinginan. Aku tak boleh koyak tergerus badai gengsi. Aku harus punya uang lebih bayak daripada yang kubutuhkan. Harus ada tabungan, harus ada simpanan untuk masa depan, harus sejahtera sampai tujuh turunan. Anak-anakku harus hidup dengan tenang dan bergelimang harta. Mereka harus mendapat kenyamanan hidup yang tak pernah aku rasakan semenjak aku memijak bumi. Bumi yang kupanggil sebagai Ibu sepertinya tak begitu kasih padaku. Kapan ia memberiku sesuatu? Kurasa tak pernah terjadi ia “memberi dan tak harap kembali”. Aku masih harus berjuang untuk mendapat sesuatu. Aku berupaya agar ada. Lalu ia marah padaku hanya karena secuil tanahnya kugali, hanya karena sepetak hutannya kugunduli. Apakah ia menganggap kami sebagai anaknya seperti kami menganggap ia sebagai Ibu? Aku meragukan keibuanmu w...
Ke mana harus sembunyi? Sedang daun pun memiliki mata.