Langsung ke konten utama

Tahun Baru

Ketika aku masih duduk di bangku SMP, pelajaran kimia membuatku bertanya pada kalender. Berawal dari penjelasan Bapak Guru mengenai penamaan angka-angka, kurang lebih begini katanya “Octa itu delapan, Nova itu sembilan, Desi itu sepuluh”. Pertanyaan yang muncul di pikiranku mungkin sudah bisa kau tebak. “Mengapa Oktober berada di bulan ke sepuluh jika octa itu delapan?”. Pertanyaan itu tinggallah pertanyaan yang tak pernah kusampaikan pada Guru, Ibu, Bapak, saudara ataupun teman. Berlalu begitu saja membaur bersama polusi pembakaran sampah di samping tembok sekolah.
Pada suatu hari yang indah di kota istimewa, seorang teman mengundang anak sekelas untuk main ke rumahnya. Kami ya mau saja, main sepak bola dijital sejenak lalu keluar cari angin sambil menunggu fajar. Datanglah teman-teman yang merupakan tetangga teman sekelasku itu. Sembari mereka berasap ria, topik berat dipicu oleh seorang yang terlihat cukup tua. Ia membahas sejarah uang dan prinsip ekonomi saat ini yang mengalami pergeseran, lalu berlanjut kepada manipulasi kalender. Angka tahun palsu yang tidak dimulai dari tahun satu, masehi yang awal mulanya hanya dikira-kira. Sampai pada peradaban Tionghoa yang tertua dan layak menjadi rujukan bahkan dihadiskan oleh Nabi Muhammad. Jangan berharap banyak! Pertanyaanku yang waktu SMP sudah berbaur dengan polusi! Kau ingat itu? Mana mungkin aku menanyakannya pada orang-orang elit ini? Ada-ada saja. Iya aku mengaku minder, puas kau hah? Tampilan mereka yang hanya pakai kaos oblong dan kain sarung, ternyata otaknya likuid. Muke gile.
Satu maret 2019 jika aku tak salah mengingat, aku membaca sebuah unggahan Gobind Vashdev yang mengucapkan selamat tahun baru. Dalam unggahan itu penjelasannya menjawab pertanyaanku secara gamblang sehingga aku merasa plong. Ia jelaskan bahwa Maret adalah bulan 1, maka April merupakan bulan 2, biar kuurutkan sekalian Mei bulan 3 agar lebih jelas urutannya dan juga kalau kau malas menghitung sendiri. Juni 4, Juli 5, Agustus 6, September 7, Oktober 8, November 9, Desember 10, Januari 11, Februari 12. Itulah juga mengapa Februari terkadang mendapat jatah 28 hari kadang 29 hari. Karena ia bulan terakhir dan mendapat sisa-sisa.
Entah politik apa yang berlaku sehingga pesta tahun baru masehi dirayakan pada satu Januari. Apakah karena takut kembang api melempem atau hasil panen sedang banyak-banyaknya. Membuat euforia sering-sering dapat meningkakan harga barang, maka para ekonom harus berterimakasih pada agama-agama yang memberinya banyak hari raya. Konsumen semakin gila membeli produk, makin jadi lah perusahaan penjual. Bungkus dagangan dengan kain merah berbulu putih saat bulan Desember tiba. Ganti putihnya dengan warna emas saat Imlek menjelang. Gunakan nuansa hijau saat bulan Ramadhan. Orang pemasaran harus pandai membaca kesempatan. Lagipula penjual tidak pernah salah. Selama ada pembeli, berjualan adalah hal yang sah – menurutku.

29 Februari 2020
@Kost Amal
11.10 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...