Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi.
Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis.
Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pilihan ke dua, biasanya kulalukan ketika apresiasiku tidak dihargai atau sekadar sebagai selingan dalam apresiasi, agar dia tahu bahwa aku memang memperhatikannya. Pemberian apresiasipun tidak melulu ketika seseorang melakukan sebuah pencapaian, ia dapat diberikan di tengah-tengah proses, atau bahkan dalam sebuah kegagalan.
Apresiasi adalah keadaan di mana kita dapat menghargai sisi baik dari kejadian terburuk sekalipun. Untuk dapat menghargai sisi baik itu, kita harus benar-benar melihatnya. Kurasa ini tidak dapat dikategorikan sebagai toxic-positivity, sebab aku tidak mengajak orang untuk menghindari trauma. Aku justru mengajak orang untuk mengenal trauma, terkadang malah sengaja membawakan trauma kepada orang, agar dia dapat belajar. Sementara toxic-positivity yang aku tahu, adalah tata cara untuk menghindari trauma dengan menyangkalnya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja.
Penyangkalan terhadap trauma tidak akan membuat kita bertumbuh, sebab menyangkal berarti menghindari kesempatan untuk belajar. Tetapi penyangkalan merupakan hal yang wajar, terutama ketika kita belum siap untuk menjalani perihnya penyembuhan. Itulah mengapa penyangkalan dikategorikan sebagai tahap awal dalam penyembuhan trauma. Mengetahui bahwa penyangkalan merupakan tahap awal, tentu kita bisa langsung sepakat bahwa harus ada tahap lanjutannya. Maka suatu saat kita harus beranjak dari penyangkalan itu dan menerima trauma yang kita alami, sebab trauma terbaik adalah trauma yang sudah sembuh, yang membuat kita selalu teringat akan pelajarannya namun terlupa akan rasa sakitnya.
Trauma yang dialami oleh manusia rupanya tidak melulu berasal dari kejadian yang dialami sendiri. Beberapa kawanku mengalami trauma akibat menerima warisan dari orang tua atau lingkungannya. Sehari-hari dibombardir dengan kata-kata dan ilustrasi tentang kesakitan, membuatnya seolah-olah mengalami rasa sakit itu. Menurutku trauma jenis ini justru lebih lebih sulit disembuhkan daripada trauma yang berasal dari pengalaman pribadi, sebab pengidapnya tidak memiliki takaran yang pasti. Semua kesakitannya berada di ranah asumsi dan imajinasi. Bicara soal imajinasi, adalah bicara soal sesuatu yang tidak bisa dibatasi. Sekarang, bisa bayangkan betapa sakit orang yang mengidap “trauma warisan” ini?
Trauma warisan merupakan salah satu hal yang membuatku memperkenalkan orang kepada trauma yang sebenarnya. Aku merasa perlu mengajaknya keluar dari imajinasi yang begitu mengerikan, agar dia bisa melihat bahwa kenyataan tidak semenakutkan apa yang ada di dalam pikirannya. Memaksanya untuk hadir secara utuh di dalam kejadian, tak jarang memunculkan sebuah pertanyaan yang bahkan tak perlu kujawab: “Cuma gini doang?”. Bahkan pertanyaan itu tidak selalu muncul dalam wujud kata-kata, dari ekspresinya dapat terlihat bahwa dia mempertanyakan itu, dan terkadang dapat kulihat perasaan kecewa sekaligus lega di wajahnya. Kecewa, mungkin karena dia merasa rugi selama ini merawat ketakutan yang tak perlu. Lega sebab kenyataan tidak seburuk yang dibayangkan.
Sebelum mengajak orang terjun ke dalam trauma, pertama-tama dia harus percaya kepadaku. Untuk membuatnya percaya, aku harus meminimalisir kepura-puraan, dan tentu di situ tidak boleh ada kebohongan. Kejujuran, kejujuran dan kejujuran, itu saja. Namun “jujur” tidak sama dengan “terbuka”, maka aku hanya akan menyampaikan apa yang ingin kusampaikan, atau sesuatu yang kuyakin dia mampu untuk menanggungnya. Aku tak mau mewariskan semua traumaku pada orang-orang ini, yang kuwariskan hanya sesuatu yang kurasa mereka tidak perlu mengalaminya. Misalnya trauma dalam hal menyembelih hewan, aku rasa orang-orang tak harus memegang pisau dan memotong leher hewan peliharaan yang dia sayangi untuk dapat belajar tentang traumaku. Tenggang rasa dan video dokumenter sepertinya sudah cukup. Sisanya, biar mereka mengalami sendiri.
Setelah mengajak mengenal trauma, biasanya aku akan mengarahkan untuk mempertanyakan “pelajaran apa yang bisa diambil?”. Pertanyaan ini juga sering aku tanyakan setelah kawanku mengalami kecelakaan ataupun kekeliruan. Kemampuan untuk melihat apa yang bisa dipelajari, menurutku sangat penting untuk diapresiasi. Mengatakan “Aku yakin kecelakaan motor hari ini, akan membuatmu lebih hati-hati dalam berkendara. Karena kamu sudah mengakui bahwa tadi kamu salah: berkendara sambil lihat HP” benar-benar membuatnya lebih fokus setiap kali berkendara. Salah seorang yang kuberi kata-kata itu bahkan selalu menepi dan menghentikan kendaraannya ketika akan melihat HP. Padahal di tengah kalimat itu, secara tidak langsung aku mengatakan bahwa dirinya memang salah – dengan kata lain: aku mengritiknya – namun yang menjadi titik fokus kami adalah pelajaran yang bisa diambil.
Ketika seseorang belum memiliki kemampuan untuk melihat sisi baik dari sebuah kejadian buruk, atau tidak mampu mengakui pun mengidentifikasi kesalahannya, di situlah aku meletakkan kritik yang sekejam-kejamnya. Kupilih cara kejam karena orang tipe ini cenderung akan mencari kambing hitam atas kejadian dalam hidupnya. Berlarut-larut menyalahkan keadaan misalnya, atau mencari orang lain untuk dipersalahkan, yang mana kurasa itu jauh lebih kejam entah terhadap dirinya pun lingkungannya. Kritik pedas mungkin saja akan menamparnya, namun jika itu juga tak membuatnya melihat ke dalam, maka aku akan bergeser kepada ketidakpedulian. “Lalukan sesukamu, ini hidupmu” kurasa pantas menjadi kalimat pamungkas untuk orang yang sedang tidak mau berbenah. Maka akan kubiarkan pergi ke manapun dia mau, dan kuterima kembali setelah punya paradigma yang baru.
Pilihan terakhirku adalah pujian – seperti yang kusebutkan di paragraf ke dua –, yang mana merupakan ekspresi ketika apresiasi dan kritikku tidak diterima, namun aku masih menginginkan orang itu berbenah. Atau juga ketika aku ingin menyudahi perdebatan tidak berguna dengan orang yang besar kepala. Pujian dariku sering kali bernada sinis, meninggikan lawan bicara sampai dia takut berada di puncak dan memilih untuk turun (istilah “lawan bicara” hanya kugunakan untuk orang yang memang menganggapku lawan), atau justru meninggalkan forum dengan kepala yang mungkin akan tersangkut kabel listrik. Kata seorang kawanku “Hanya ada dua pilihan ketika seseorang berada di posisi tertinggi. Pertama adalah turun, yang ke dua adalah jatuh”.
“Meninggikan” berarti menaikkannya dari posisi sejati ke tempat yang lebih tinggi, maka wajar jika orang merasa tidak layak menerima pujian dan memilih untuk turun. Turunnya orang yang dipuji kadang kala ditandai dengan balik memuji, dan ketika itu ditujukan kepadaku, yang kerap kali kulakukan adalah menginjaknya. Posisi terinjak biasanya akan membuat orang mengatakan keburukan dirinya, dan di situ akan kukatakan “bagus kalau kamu sadar” untuk mengapresiasinya.
@MHI
11 Agustus 2023
04:15 pm
Komentar
Posting Komentar