Barusan aku membaca sebuah tulisan kutipan kata-kata Osho. Kata-katanya kurang lebih menjelaskan bahwa kesibukan hanyalah cara kita untuk membunuh waktu. Katanya 99% kegiatan kita hanyalah cari-cari kesibukan, bukan sibuk yang sebenarnya. Maka dia menyarankan untuk beristirahat sambil berproses.
Kucoba untuk menariknya ke dalam diriku, melihat kembali kegiatan-kegiatan yang membuat hariku – yang durasinya sama saja 24 jam seperti orang lain – terasa penuh. Pagi-pagi aku bangun antara jam 6 sampai 8. Sebagun itu aku langsung merapikan tempat tidur lalu lanjut dengan membereskan kotoran kucing. Kotoran kucing kumanfaatkan sebagai pupuk di kebun. Kutimbun dengan dedadunan kering agar baunya tidak kemana-mana. Setelah selesai dengan kotoran kucing, aku lanjut menyiapkan sarapan lalu makan. Terkadang aku mandi sebelum berangkat ke tempat kerja, biasanya tidak. Jam 10 pagi hingga 5 sore aku berada di tempat kerja, kebanyakan memang terisi dengan planga-plongo, melihat media sosial dan bermain solitaire. Sesekali saja aku mengetik semacam ini, semoga bisa menjadi kegiatan yang selalu kulakukan saat tidak ada pelanggan yang datang.
Sepulang kerja biasanya aku tiba di rumah antara jam tengah enam hingga tengah tujuh petang. Jika badan berkeringat, terasa lengket atau bau asap, aku akan mandi. Jika tidak, maka aku akan langsung menyiapkan makan malam. Ada kalanya kotoran kucing sudah penuh lagi, maka harus kubawa ke kebun agar aromanya tidak merajalela di seantero kontrakan. Selanjutnya makan malam bersama Kekasihku, bercengkerama hingga tak ada yang dibahas lagi, terkadang diisi dengan nobar drama Korea dan kartun Jepang, kadang-kadang kami membaca buku, setelah itu tidur.
Sehari-hari berjalan sedemikian rupa sepertinya memang tidak ada yang terlalu penting, tetapi ada satu hal yang aku sadari yaitu “semuanya begitu nikmat”. Aku bangun pagi dengan badan dan pikiran yang segar, berangkat kerja dengan semangat, pulang kerja terkadang dalam keadaan yang sangat lelah (jika pelanggan sedang ramai) namun tetap menyenangkan. Tanaman di kebun yang tumbuh subur, kucing-kucing yang sehat dan bahagia meskipun masih banyak kutunya – mungkin kutu-kutu itu juga bahagia.
Menuliskan kata “bahagia” membuatku terpikirkan pertanyaan yang kerap kali ditanyakan oleh Kekasihku “Apa kau bahagia hidup bersamaku?” yang kujawab dengan “tentu saja” dan dia menanyakan lagi “Mengapa?” lalu kujawab “Dengan hidup seperti ini, apa yang dapat membuatku tak bahagia?” Hidup bersama Kekasih yang mau diajak berproses, membuatku merasa bahwa kata “penting” pun sepertinya tidak penting-penting amat. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia? Bagaimana mungkin aku bangun pagi tanpa semangat? Mungkin inilah Ikigai yang dicapai oleh para tetua Jepang.
Ikigai yang kutemukan dalam bentuk grafik – yang mana dibuat bukan oleh orang Jepang – kurasa terlalu materialistis dan tidak sederhana, sementara definisi Ikigai yang kutemukan pertama kali – yang dibuat berdasarkan penuturan orang Jepang – adalah “hal yang membuatmu semangat bangun di pagi hari” itu saja. Tidak perlu merasa penting pun bermanfaat bagi khalayak ramai, tidak harus kegiatan yang menghasilkan uang, tidak harus jago dalam hal itu, intinya hanya bersemangat melakukannya setiap hari. Sialnya, semua “tidak harus/perlu” yang kusebut barusan ada di dalam grafik Ikigai ala si-non-Jepang, dan dipercaya oleh banyak orang. Ikigai Jepang yang sangat dekat dengan ketidakmelekatan, justru dirombak sedemikian rupa kemudian dijual kepada orang-orang yang sedang jenuh dengan rutinitas kehidupannya.
Istilah Ikigai baru kukenal di tahun 2019, namun rasanya ia tidak asing. Setelah kucoba mengobrak-abrik perbendaharaan pengetahuan yang ada di dalam kepalaku, aku pun mengetahui mengapa ia terasa begitu akrab. Rupanya Jawa memiliki istilah untuk Ikigainya sendiri yang mulai kukenal antara tahun 2012-2015, istilahnya adalah “Nerima lan ngelakoni”. Nerima adalah menerima, sementara ngelakoni adalah melakukan.
Jauh sebelum aku mengenal falsafah Jawa tersebut – mungkin sekitar tahun 2007 hingga 2008 – aku telah merasa menerima. Aku merasa hidupku dipenuhi oleh karunia, sehingga tak jarang mempertanyakan “Apakah aku layak mendapatkan semua kebaikan ini? Apakah aku pantas?” di masa-masa itu. Sampai suatu ketika super-egoku berkata “Jika kamu memang tidak layak, lantas mengapa ini semua diberikan kepadamu?” yang kemudian dilanjutkan dengan “Jika kamu merasa tidak pantas, maka lakukanlah sesuatu agar dirimu pantas.” Dari situlah aku mulai ngelakoni. Aku mulai melakukan hal-hal yang perlu kulakukan, membatasi diriku dari kenyamanan, memercayai diriku sendiri dan menjadikannya sebagai orang yang paling kuandalkan, membuat rutinitas-rutinitas baru yang bermanfaat, sehingga ketika ada orang yang mengatakan bahwa aku hanya hidup bermodal privilese, akan kujawab dengan penuh keyakinan “mempertahankan privilese dengan cara memantaskan diri agar tetap layak menerimanya, mungkin tidak semudah yang kamu kira”.
Perasaan nerima membuatku siap untuk ngelakoni. Ngelakoni yang awalnya kumaksudkan untuk membalas segala apa yang telah kuterima, ternyata tidak pernah cukup. Baru sedikit yang kulakukan, ada lagi hal yang harus kuterima. Belum seberapa upayaku, ada lagi karunia yang didatangkan. Akhirnya aku menyerah untuk mengimbanginya, lalu kujalani hidup apa adanya.
@MHI
12 Agustus 2023
01:49 pm
Dari osho, lalu masuk ke dalam diri dan menjalani rutinitas, lalu soal kebahagiaan, kemudian ikigai dan problematikanya, terus masuk ke kepala, lalu balik lagi ke tahun 2007-08, dan berakhir di sekarang.
BalasHapusTernyata butuh sejauh dan selama itu untuk bisa mengenali diri dan menikmati yg ada kini.
Ada yang mengatakan bahwa "diri" hanyalah identitas yang kita percaya. Identitas itu dipengaruhi oleh memori kita akan masa lalu dan prediksi kita akan masa depan.
HapusOrang yang kesulitan menikmati kekinian, hampir selalu merupakan orang yang menyesali masa lalunya atau takut akan masa depannya.
Tulisan di atas baru soal masa lalu, bab masa depan ada di tulisan lainnya hehehe..... lebih panjang lagi itu sepertinya