Langsung ke konten utama

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki.

Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya.

Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan.

“Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, tidak kembalikan ke tempatnya” katanya, yang dilanjut dengan penjelasan jawaban dari seorang temannya, bahwa kemarahan itu berasal dari perasaan bertanggungjawab. “Ya” kataku, sebab jika ada apa-apa maka Bundo-lah yang akan kena semprotan Pembina Komunitas, maka sudah pasti dia merasa bertanggungjawab. Namun ada sisi lain yang aku tekankan padanya, yaitu memori yang kacau akibat kebiasaan menerima akomodasi dari orang lain.

Akomodasi yang diberikan orang tua kepada anaknya, rupanya bisa menyebabkan kepikunan dini pada anak. Contoh yang paling aku sukai untuk kasus ini adalah “handuk basah”. Peletakan handuk basah di atas kasur merupakan hal yang sangat sering terjadi. Masalahnya bukan pada handuk basahnya, bukan juga pada kasurnya, namun masalahnya adalah ketika kita lupa mengembalikannya ke tempat handuk. Maka kasur menjadi lembab, baunya jadi apek, bisa juga menyebabkan kita jadi jamuran. Maka kesimpulanku, masalahnya ada pada “lupa”.

Apa sebenarnya yang membuat kita lupa? Apa itu lupa? Mengapa kita bisa lupa?

Lupa adalah keadaan di mana kita kehilangan sebagian memori. Ini merupakan hal yang biasa terjadi kepada makhluk yang memiliki ingatan. Bicara soal ingatan, ternyata bukan hanya bicara soal pikiran, maka tidak bisa hanya ditunjang oleh teori saja. Mengomel mengatakan “kembalikan handukmu ke tempatnya” tidak terlalu berguna jika orang yang diajak bicara tidak mulai mempraktekkannya. Sebab memori manusia terbagi menjadi tiga bagian, yaitu memori tubuh/fisik, memori rasa/emosional dan memori pikiran/logika.

Kasus handuk merupakan contoh konkrit dari kurangnya memori fisik. Orang yang sejak kecil terbiasa dilayani oleh Ibunya – yang membuatnya tidak pernah meletakkan handuk kembali ke tempatnya saat ia masih bocah – sangat mungkin untuk tidak mengembalikan handuk ke gantungannya, bahkan ketika dia sudah berkeluarga. Mengapa? Tentu saja karena dia tidak memiliki ingatan akan hal itu. Setiap habis mandi, dia tinggalkan handuk sembarangan, lalu ibunya yang mengembalikan handuk itu ke tempat seharusnya. Ketika si anak akan mandi, dia tinggal mengambil handuk itu dari tempatnya. Ini adalah awal mula kekacauan memori fisik. Lihat saja ketika si Ibu tidak di rumah beberapa hari – atau si Ibu sakit sehingga tidak merapikan barang-barang – si anak akan mulai bingung “handukku di mana?” sebab setelah mandi dia meletakkannya sembarangan, dan ketika akan mandi lagi, dia mencarinya di tempat handuk.

Handuk hanyalah salah satu contoh. Masih ada kunci motor, flashdisk, dompet, kacamata, dan lain sebagainya yang sangat mudah dilupakan karena Ibu selalu merapikannya. Ini juga melatarbelakangi pola pikir “Ibu sebagai peta letak barang-barang”, sebab anggota keluarga yang lain tidak bertanggungjawab dalam hal peletakan barang. Seandainya semua anggota keluarga mengembalikan setiap barang ke tempatnya setelah selesai dipakai, pertanyaan semacam “Ibu, flashdiskku mana?” tidak akan pernah ada.

Apakah ini semua salah Ibu? Tentu saja tidak! Ini adalah kesalahan struktural di masyarakat, mulai dari struktur berpikir, berwacana hingga struktur tindakan. Paradigma “kebersihan dan kerapian rumah adalah tugas Ibu” merupakan hal yang bangsat! Hanya karena Ibu mengambil tanggungjawab itu, bukan berarti itu merupakan tugasnya. Kebersihan rumah merupakan tugas setiap yang tinggal di rumah, pun demikian dengan kerapian. Betapa beruntung diriku sebab Ibu-Bapakku merupakan orang tua yang dipandang “agak lain” oleh masyarakat di kampungku. Beberapa temanku yang berasal dari kampung lain juga pernah menyampaikan hal yang senada kepadaku.

Pernah suatu hari aku jatuh dari motor saat berangkat ke sekolah. Saat jam pulang sekolah sudah dekat, seorang teman berkata “kamu berani pulang?” lalu kujawab “berani, masih bisa bawa motor. Ga parah kok luka ini”, dan dia bertanya lagi “apa orang tuamu ga marah?” yang disambut peng-iya-an oleh beberapa teman. Hal itu sontak membuatku terkaget “Marah? kok marah?” tanyaku. “Ya, kan motornya rusak!” lalu kujawab dengan kata-kata yang biasa disampaikan oleh Bapak ketika di antara kami ada yang kecelakaan. Kumulai dengan “Kata Bapakku” lalu kulanjutkan “terkerna sial, celaka, masalah, merupakan hal yang wajar. Itu bukan kesalahan. Akan menjadi salah ketika kita sengaja cari-cari masalah”. Mendengar jawabanku, mereka malah plonga-plongo, keheranan, ada juga yang memasang ekspresi tidak percaya. Dulu saat aku belajar naik motor dan terjatuh, Ibu mengatakan “latihan naik motor itu, kalau belum pernah jatuh berarti latihannya belum komplit” yang kini baru aku mengerti bahwa terjatuh dan celaka pun bisa dipelajari, untuk memperbesar kemungkinan selamat dalam kecelakaan. Belajar yang kumaksud di sini bukanlah belajar di ranah pikiran, belajar jatuh adalah soal penciptaan memori tubuh. Orang yang terbiasa jatuh, mungkin akan lebih sering jatuh, atau malah menjatuhkan diri untuk menghindari kecelakaan yang lebih parah. Namun dia lebih bisa “celaka dengan selamat” dibandingkan orang yang tidak pernah mengalami kecelakaan.

Di hari lainnya, seorang teman berkunjung ke rumah tepat ketika aku sedang membongkar motor (merapikan bagian yang agak berantakan akibat kecelakaan). Lalu dia berkata pada Ibu “Kalau saya ga dibolehkan bongkar motor oleh orang tua saya”, Ibu menjawab “Gapapa buat belajar. Yang penting nanti dia rapikan kembali”. “Apa Ibu yakin dia bisa merapikannya kembali?” tanya temanku, kemudian Ibu menjelaskan bahwa hari itu bukanlah hari pertamaku dalam hal bongkar pasang. Sejak kecil aku terbiasa membongkar mainanku, dan ketika aku tak bisa memasangnya kembali Ibu akan mengarahkanku untuk menyimpannya dengan mengatakan “yang penting komponennya tidak hilang. Suatu saat kalau kamu sudah bisa memasangnya, kamu pasang kembali ya”. Bahkan ketika aku menghilangkan sebuah baut dari mainanku – yang berakibat satu part tidak bisa terpasang – ibu mengarahkanku untuk menyimpannya dan berkata “Suatu saat kalau kamu bisa mendapatkan baut yang serupa, saat itu kamu pasangkan kembali” Ibu mengistilahkan mainan itu memasuki masa “opname”, karena tidak boleh dimainkan agar tidak makin parah keadaannya. Cerita ini belum kuceritakan pada Bundo, namun aku menceritakan hal lain yang masih berkaitan, yaitu cerita yang membuatku yakin bahwa manusia butuh trauma.

Trauma yang kualami akibat mainan yang harus opname, membuatku jadi lebih berhati-hati saat membongkar sesuatu. Sebab mainan yang opname itu merupakan salah satu mainan favoritku (bahkan masih kusimpan di rumah sampai sekarang, tentunya sudah dalam kondisi sehat). Trauma lainnya yang kualami adalah trauma akibat tidak meletakkan mainan pada tempatnya, inilah yang kuceritakan pada Bundo.

Suatu hari ketika aku masih bocah, aku kebingungan mencari mainanku yang tidak ada di tempat mainan. Akupun bertanya pada Ibu “Apa Ibu melihat mainanku yang begini-begini-begini (menjelaskan ciri-ciri mainan yang hilang)?”. Ibu menjawab dengan pertanyaan “di kotak mainanmu tidak ada?” yang kujawab dengan penjelasan bahwa aku telah mencarinya hingga ke bagian paling bawah, kemudian Ibu memintaku mencarinya sekali lagi di kotak mainan “Coba keluarkan semuanya dari kotak, lalu masukkan satu per satu sambil mencarinya. Jika tidak ketemu, nanti Ibu bantu cari” katanya. Setelah mencari sekali lagi dengan tata cara yang disarankan Ibu dan tidak juga ketemu, aku mendatangi Ibu lagi dan mengatakan “tidak ada Bu! sudah kulakukan seperti yang Ibu bilang”. Ibu menatapku sejenak kemudian bertanya “kamu ingat terakhir kali kamu main? Mainnya di mana?” aku pun mengingat-ingat dan menyebutkan beberapa tempat, lalu Ibu berkata “ayo coba kita cari ke sana”, dan benar saja…. mainan itu ada di situ. Bantuan yang diberikan oleh Ibu bukanlah dia mencarikannya untukku, melainkan bantuan berupa penggalian ingatan fisik.

“Trauma itu tidak nyaman! Maka manusia secara alami akan menghindarinya. Di beberapa kasus kita membutuhkannya. Tanpa trauma karena kehilangan mainan, aku tidak akan paham manfaat mengembalikan barang ke tempatnya” kataku pada Bundo, “Iya ee Bli. Dan Ibumu mengajarimu dengan memberimu pengalaman langsung. Bukan sekadar teori dan omongan ‘setelah pakai, nanti taruh kembali dengan rapi!’ pengalaman jauh lebih membekas” jawabnya.

Kepada anak, Bapak-bapak, dan calon Bapak: rumah adalah tempat tinggal bersama. Jaga kebersihan dan kerapiannya bersama-sama. Ini adalah tugas kita sebagai penghuni.

Kepada para Ibu, calon Ibu dan orang yang diibukan: Kesabaranmu dalam membimbing anggota keluarga agar terbiasa mengembalikan barang-barang ke tempatnya, jauh lebih berguna dan berharga daripada kesabaranmu setiap hari merapikan barang-barang yang mereka letakkan sembarangan. Sampai kapan kau mau merapikan semua itu seorang diri? Dan kapan kau mau memberi anakmu waktu untuk belajar jika bukan sejak dini? Pun jika kau harus merapikan mainan anakmu, lakukanlah di depannya agar dia melihatnya, ini merupakan bagian dari proses belajar. Sebab ketika anggota keluarga lain terbiasa melakukan peletakan barang kembali ke tempatnya, kau bukan cuma merapikan rumah hari ini, namun sejatinya kau membantu anakmu merapikan rumahnya bahkan ketika kau sudah tidak hidup bersamanya lagi.

@MHI
31 Juli 2023
03.46pm


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...