Beberapa hari lalu dalam sebuah tongkrongan, seorang kawan nyeletuk begini “Suami itu biasanya sepulang kerja pengin disambut dengan senyuman oleh istrinya. Tapi dianya sendiri datang dengan wajah cemberut. Tunjukkanlah senyuman tulusmu, supaya istrimu senyum juga!” yang membuat penongkrong lainnya terdiam. Dalam diamku, aku berpikir “apakah aku sudah seperti itu? Apakah aku selalu masuk rumah dengan senyuman?”. Kurasa hadirin lainnya juga memikirkan hal yang serupa. Aku sangat bersyukur karena tidak ada yang menyampaikan “kalimat basi” dalam forum itu. Kalimatnya semacam “tapi kan capek sehabis kerja”. Kata-kata yang sangat sering kudengar digunakan sebagai tameng pembenaran atas perilaku suami yang bermuka cemberut setiap kali pulang kerja. Seolah-olah orang yang “hanya di rumah” tidak bisa merasa lelah. Padahal pekerjaan rumah tidak pernah telah. Tumbuh besar dalam asuhan Ibu Rumah Tangga murni – yang tidak bekerja cari cuan – membuatku sadar sejak dini, bahwa pekerjaan rumah ...
Ke mana harus sembunyi? Sedang daun pun memiliki mata.