Beberapa hari lalu dalam sebuah tongkrongan, seorang kawan nyeletuk begini “Suami itu biasanya sepulang kerja pengin disambut dengan senyuman oleh istrinya. Tapi dianya sendiri datang dengan wajah cemberut. Tunjukkanlah senyuman tulusmu, supaya istrimu senyum juga!” yang membuat penongkrong lainnya terdiam. Dalam diamku, aku berpikir “apakah aku sudah seperti itu? Apakah aku selalu masuk rumah dengan senyuman?”. Kurasa hadirin lainnya juga memikirkan hal yang serupa.
Aku sangat bersyukur karena tidak ada yang menyampaikan “kalimat basi” dalam forum itu. Kalimatnya semacam “tapi kan capek sehabis kerja”. Kata-kata yang sangat sering kudengar digunakan sebagai tameng pembenaran atas perilaku suami yang bermuka cemberut setiap kali pulang kerja. Seolah-olah orang yang “hanya di rumah” tidak bisa merasa lelah. Padahal pekerjaan rumah tidak pernah telah.
Tumbuh besar dalam asuhan Ibu Rumah Tangga murni – yang tidak bekerja cari cuan – membuatku sadar sejak dini, bahwa pekerjaan rumah tangga itu berat. Aku bahkan pernah bertanya kepada Ibu “mengapa Bapak tidak pernah mencuci pakaiannya sendiri?” Ibupun menjelaskan bahwa hasil cucian Bapak tidak sebersih cucian Ibu, maka Ibu mengambil alih semua cucian. Aku juga pernah menyebut “Ayah Rumah Tangga” di kelas saat masih SD, yang kala itu ditertawakan oleh kawan-kawanku sekelas. Kata mereka “Ayah Rumah Tangga itu tidak ada Lik!”, kemudian dijawab oleh Guruku “Ada…. Ayah Rumah Tangga itu ada. Hanya saja memang sangat jarang” dan membuat semua yang menertawakan pendapatku serentak terdiam. Rasanya, aku ingin menceritakan pada mereka tentang Bapakku yang sering melakukan pekerjaan rumah tangga.
Bapak sering memasak bersama Ibu, mereka juga kerap mengajak kami (anak-anaknya) untuk ikut memasak. Sering kali Bapak masak sendiri jika menunya untuk eksperimen, atau jika cita rasanya bukan selera umum. Bapak lebih sering mengepel dan mengerok lumut dibandingkan Ibu. Aku sepaham dengan Ibu, bahwa lantai yang disapu setiap hari hampir tidak perlu dipel. Bapak terlibat – bahkan mengambil peran besar – dalam pengasuhan anak-anaknya. Bapak selalu pulang kerja dengan senyuman di wajahnya, meski badannya terlihat sangat lelah sekalipun.
Berdasarkan apa yang kulihat dari kebiasaan Bapak, aku jadi mempertanyakan “memangnya pekerjaan orang-orang yang berlindung di balik ‘kalimat basi’ itu separah apa?”. Di tongkrongan lainnya beberapa tahun lalu, seorang kawan mengajukan pertanyaan “Kita ini bekerja, cari uang, sebenarnya untuk siapa sih? Bukankah untuk diri sendiri dan keluarga?” yang dilanjut dengan “Lalu kok bisa ada orang yang keluarganya berantakan, bahkan kehilangan dirinya sendiri hanya karena pekerjaan? Berarti kan ada yang salah di situ!” yang membuatku terpikir bahwa orang-orang yang dipertanyakan oleh kawanku itu, mungkin keliru dalam menentukan skala prioritas. Orang-orang macam itu, sangat jarang bisa tertawa lepas di rumah. Jangankan tertawa, senyum pun tidak. Tawa dan senyumnya mungkin sudah habis digunakan di tempat kerja – yang mana itu juga palsu – untuk menghadapi atasan atau kliennya. Keluarganya dapat apa? Jangankan senyuman tulus, senyum palsu pun tidak kebagian. Dari situ terlihat bahwa atasan dan kliennya lebih diprioritaskan daripada keluarganya.
Bicara soal skala prioritas, diri sendiri seharusnya merupakan prioritas utama. Prioritas ke dua adalah pasangan, disusul oleh anak, orang tua dan sahabat kita, kemudian saudara, keluarga jauh, barulah orang-orang yang bukan keluarga pun bukan teman. Jika sudah mampu meprioritaskan diri sendiri, seharusnya kita tidak akan menuntut orang lain untuk mejadikan diri kita sebagai yang utama. Diri sendiri harus menjadi zona paling aman dan nyaman yang kita miliki, maka jangan pernah keluar darinya. Justru yang kita butuhkan adalah memperluas wilayahnya.
Di luaran sana banyak sekali kutemukan ajakan “keluar dari zona nyaman”, padahal menurutku hidup ini memang cari nyaman. Justru akan menjadi masalah ketika kita tidak bisa nyaman dengan diri kita sendiri. Mengapa menjadi masalah? Karena hal itu akan bertumbuh dan berbuah. Salah satu buahnya adalah tuntutan kepada pasangan untuk menyamankan diri kita – yang cemberut sepulang kerja misalnya – dengan senyuman dan sebagainya.
Maka cukupilah dirimu. Buang kepenatan itu di sepanjang jalan dari tempat kerjamu menuju rumah, hingga sesampai di rumah kau bisa tersenyum kembali. Bila perlu dan memungkinkan, semprotlah orang-orang yang membuatmu marah, sehingga kau tidak perlu membawanya pulang ke rumah. Jika kau memang sedang ingin ribut dengan pasanganmu, memangnya permasalahan di rumah kurang untuk diributkan sehingga kau membawa pulang kepenatan dari tempat kerjamu?
By The Way….. ini kutuliskan berawal dari kepenatanku mendengar kalimat “Aku sudah kehabisan ‘tawa respect-ku’ di tempat kerja", yang mana tidak kalah basi juga.
@MHI
09 Maret 2024
02.42 pm
Komentar
Posting Komentar