Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Uang?

"Kalau menggambar tak menghasilkan uang, berhentilah menggambar" kata seseorang yang tak sengaja bertemu denganku di acara workshop komik kemarin. Uang? Apakah benar itu yang kuperlu? Egoku berontak, ada jawaban "setuju" di dalam diri, setuju terhadap omongan orang itu, setuju juga terhadap pertanyaanku mengenai perlu uang. "Tapi aku tak mau bekerja hanya untuk uang!" Muncul lagi satu pendapat. Robert berkata dalam bukunya "orang kaya tidak bekerja untuk uang, uang bekerja untuk mereka", di sana juga disebutkan bahwa punya banyak uang bukan berarti kaya, bisa juga budak yang dibayar tinggi. Bagaimana agar uang bekerja untuk manusia? Apa alasan bekerja selain uang? Tidak butuh uang, sama gilanya dengan cinta uang. Aku belum selesai dengan buku itu, belum juga paham betul akan konsep bekerja yang dimaksud oleh Robert. Aku juga belum selesai dengan pergumulanku terhadap pikiran dan egoku. Aku masih belum berani jika tanpa uang, a...

Tersenyumlah

Lakukan saja sambil tersenyum, meski kau sedang tak ingin tersenyum, atau kau tak ingin melakukan pekerjaan itu. Menunggu niat datang mungkin saja berakhir dengan kesia-siaan sebab rasa tak berniat bisa makin menjadi-jadi ketika kita hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kerjakan sesuatu di dalam penantianmu, nanti niat itu akan datang. Tersenyum juga begitu, ia bisa mengundang kebahagiaan untuk hadir. Banyak ide tak menjaminmu menyelesaikan sebuah karya. Niat memuncak juga tak menggaransikan, hanya tindakan yang paling menjamin jadinya karyamu, maka mulailah bertindak. Tindakan adalah sebagian dari doa, langkah adalah sebagian dari pencapaian, meningkat adalah sebagian dari puncak. Tempat terjauh hanya dapat dicapai setelah melalui dekat, tempat tertinggi harus memiliki dasar di kerendahan. Kau mungkin saja tak butuh ketinggian atau kejauhan, yang selama ini kau cari mungkin saja hanya sebuah semangat untuk tetap menjaga langkah, sebab dengan tetap melangkah kau takkan peduli sebe...

Tinggi-Rendah

Mengapa manusia suka membuat gedung tinggi, mendaki ke tempat yang tinggi, dan juga suka ditinggikan? Manusia bahkan mengaku sebagai makhuk yang derajatnya paling tinggi di antara semua ciptaan Tuhan. Apakah manusia memang istimewa seperti yang dituliskan dalam kitab suci? Atau itu semua karena kitab suci itu hanya diperuntukkan dirinya? Mungkin keistimewaan manusia adalah dalam kekosongannya, sebab anjing meskipun tidak diasuh oleh anjing tetap saja ketika dewasa akan menggonggong, kucing juga sudah pasti mengeong, cicak berdecak, namun manusia tidak demikian. Manusia harus meniru agar bisa sesuatu, manusia tak punya keaslian seperti halnya kucing dan anjing. Kucing tak perlu membaca buku atau berlatih berjalan agar nampak anggun. Anjing tak perlu mengikuti seminar atau kursus berbicara di depan pubik agar bisa berteman dengan manusia. Secara tidak sengaja, tanpa kehendak, kucing akan otomatis berjalan dengan cara yang anggun, begitu pula dengan kesetiaan anjing, ia tak memilih u...

Anak Baik

Seorang kawanku bekerja di luar negeri, mengirimkan uang ke keluarganya di kampung setiap bulannya. Kutemui dia di internet saat hari raya, ia bilang bahwa ia merayakan sendiri, kawan-kawannya telah pulang sebab kontrak telah habis, sementara anak baru belum datang. Seorang kawanku yang lainnya, tinggal di rumah bersama anak-istri dan kedua orang tuanya. Tawaran pekerjaan datang dari berbagai arah, kawan-kawan sepergaulannya saat di bangku kuliah tak jarang singgah sembari membawa kabar baik – kata mereka. Ia memilih menjadi seorang pengerajin, pekerjaan yang ia sebut sebagai sambilan. Pilihan yang ia ambil agar tetap bisa menjaga ibu dan ayahnya. Kedua kawanku ini kurasa sangat layak untuk dijadikan acuan, yang pertama rela bersusah di tanah orang, bertahun-tahun meredam rindu akan kampung halaman, menuai cemoohan kawan-kawan yang suka berkata “hidup di luar negeri, banyak uang, sampai lupa pulang!”. Dalam hati boleh saja ia mengumpat atau mengutuk orang-orang itu, namun yan...

Balas!

Lebih mudah untuk menulis dua ratus kata per hari daripada mengambar sebuah komik empat panel tanpa tulisan. Hal itu mungkin juga yang dirasakan oleh orang yang mengatakan bahwa satu gambar dapat mewakili juataan makna, cerita ataupun kata-kata. Satu menit saja sudah cukup untuk menuliskan lima puluh kata, sementara untuk menggambar mungkin memerlukan lima puluh menit bagiku untuk menyelesaikan satu panel saja, itupun masih belum berwarna. Keunggulan gambar, adalah dapat dipahami oleh siapa saja tanpa terbatas oleh bahasa, namun pengertiannya akan sangat bergantung pada keadaan emosional ketika melihatnya. Keunggulan tulisan adalah lebih sedikit persepsi dan akan terasa menyenangkan bagi mereka yang suka mengimajinasikan sendiri, namun mungkin sulit dimengerti oleh yang terbiasa dengan gaya bahasa berbeda, juga tak dapat dipahami oleh yang bahasanya berbeda. Tulisan ataupun gambar adalah sebuah karya, intinya si karyawan dapat mengekpresikan diri dan dapat menyampaikan suatu pesa...

NYA

Kekosongan bukanlah keadaan yang sepenuhnya kosong. Kamar kos yang belum disewa orang disebut kosong meskipun ada kasur dan lemari di dalamnya. Botol disebut kosong meskipun dipenuhi oleh udara. Omongan disebut kosong ketika yang bicara tidak bertindak sesuai omongannya, meskipun omongannya baik dan berisi. Tatapan disebut kosong ketika mata seseorang menatap ke suatu arah namun pikirannya terisi oleh hal lain, bukan suatu hal yang merupakan tempat mata itu sedang mengarah. “Sebelum proses penciptaan, hanya ada Tuhan” katamu, aku mencoba membayangkan, kemudian aku mengatakan apa yang ada dalam bayanganku “Gelap” yang kemudian kau jawab dengan “Benar, namun gelap belumlah ada sebab Ia belum menciptakan terang”. “Kosong?” jawabku yang kemudian kau balas dengan “Benar, Dia maha tiada dan maha ada. Berarti Ia ada di sana”. “Tak terbayangkan olehku” jawabku lagi, “Mungkin karena itulah ia juga disebut sebagai Tak Terpikirkan (Acintya)” katamu. Dia mencipta dari dirinya, merawat c...

Kopi Lagi

Kopi membantuku meningkatkan sensitivitas indra perasaku. Mencari rasa selain pahit di saat menyeruput kopi, membuat lidahku bisa menemukan rasa pahit dalam garam, atau rasa manis dalam cabai. Ada kopi yang memiliki rasa buah, ada yang terasa seperti madu ataupun gula aren, namun aku justru tak menemukan rasa itu ketika mencarinya, dan mereka datang saat aku hanya ingin minum kopi agar mata melek saja. Konsumsi garamku menurun semenjak aku menemukan rasa pahit di dalamnya. Dosis gula pasirku juga menurun drastis, namun makan nasi tetap banyak. Penggunaan bumbu dapur berkurang. Makan nasi-garam kadang terasa begitu nikmat dan istimewa. Semua berawal dari ngopi, hal yang sedang naik daun-naik daunnya saat ini. Aku bersyukur mengenal kopi sebelum mengenal Filosofinya, sama seperti mengenal naik gunung sebelum mengenal Lima Sentinya. Saat aku bertemu kopi asam yang dibagikan gratis pada perayaan hari kopi sedunia, aku tak pernah mengira bahwa ngopi tanpa gula akan menjadi kebiasaan ...

Biasa Saja

Mudah sekali mengingat mereka yang pintar, begitu mudah juga mengingat yang bodoh, bagaimana dengan yang biasa-biasa saja? Si biasa, apakah hanya berlalu begitu saja? Menjadi biasa mungkin membuat kita tak diingat, namun sepertinya kita memang tak perlu diingat. Demi diingat oleh kawan-kawanku, aku berusaha menjadi yang terbaik. Mulai dari mencoba berbaik hati, sampai menjadi jawara kelas, semua demi diingat, atau mungkin bisa disebut “ingin tenar”. Itu waktu SMK, waktu semua ingin terlihat perkasa, seperti nyanyian Nosstress. Masa SMK berlalu, aku tak lagi menjadi jawara sebab aku masuk ke dalam kelas yang benar, karena katanya “jika kau menjadi yang paling pintar dalam suatu ruangan, mungkin kau masuk ruangan yang salah”. Gelar jawara dimiliki oleh teman kelasku yang lainnya, ia pasti sangat tenar. Aku tak mau kalah tenar, namun aku tak begitu pintar. Bagaimana ini? Kemudian kuputuskan untuk bertingkah bodoh, sebab yang bodoh juga akan mudah diingat. Hidupku selama ini, apa...

Berguru

Segelas kopi malam ini mengantarkan mataku pada keadaan terbelalak hingga pukul dua belas malam. Keadaan ini pernah kubayangkan sebagai “keren”, tentunya sebelum aku mengalami hari-hari penuh tugas yang membuat tubuhku tak sempat diistirahatkan dan ia mulai protes dengan mengeluarkan darah dari hidungnya. Kini tidur awal dan bangun siang terasa bagai surga yang nyata, meski kata guruku seharusnya seorang siswa tidur terlambat dan bangun sebelum mentari memerahkan ufuk timur. “Ada berkah dalam menatap mentari terbit dan tenggelam, pun dengan menatap bulan purnama.” Kata Guruku. Aku selalu bertanya-tanya, berapa jam ia tidur dalam sehari? Cukup banyak orang yang menjadi siswanya, dan hampir semua ingin meneladani apa yang dilakukan olehnya, hanya saja keinginan sering kali berakhir kandas di hadapan kemalasan. Aku adalah salah seorang yang ingin mencoba menjalankan pola hidup sepertinya, dan seperti yang lainnya, aku belum sesukses Guruku. “Kau takkan suka jika telah mencapai sepert...

Tentang Dia

Mulailah membicarakan tentang apa yang orang lain inginkan, atau mulailah membuat mereka menginginkan sesuatu. Jangan bahas apa yang kau ingin, jangan bahas apa yang kau mau, pun kalau harus membahas apa yang kau mau, bahaslah dengan cara seolah-olah itu adalah ide mereka. Terlalu banyak sudah cerita tentang “aku”, mengapa tak coba bercerita tentang Dia? Dia lagi dan lagi-lagi Dia. Bicarakan hanya Dia, inginkan hanya Dia, tuju hanya Dia, hiduplah demi Dia. Dia yang kau mau, sebab itulah jangan bahas Dia sebagai maumu di depan orang-orang, tak semua dari mereka memaui Dia. Tiada sesuatupun di muka bumi yang dapat memenuhi kebutuhanmu akan Dia, tak ada sesuatupun yang dapat menggantikanNya. Sumber dari segala yang ada, bagaimana mungkin dapat diwakilkan oleh benda, atau manusia? Mabuk akan Dia mesti membuat kita merasa sangat cukup atas segalanya. Keinginan? Apa itu keinginan? Jika berhasil berada dalam sumber segalanya, apa lagi yang bisa kau inginkan? Kini yang menjadi masalah...

Adu Paradoks

Dulu kau menyuruhku untuk belajar, setelah aku pandai, aku tak ingin akan kepandaianku, begitu juga denganmu. Katamu aku harus berani, namun ketika aku mulai melawan sesuatu yang tak sesuai dengan idealismeku, kau menangis dan memintaku berhenti melawan. Dulu kau ajarkan aku untuk rajin makan sayur, dan ketika aku hanya makan sayur, kau bilang kau khawatir aku takkan bertumbuh dengan baik. Apakah hidup memang hanya sebuah paradoksikal? Seorang pengajar berkata “gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pun jika kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang! Begitulah kata Bung Karno”, setelah berkata sedemikian rupa ia bertanya “Apa cita-citamu?” dan kujawab dengan “Moksa” ia terkejut, memasang tampang tak setuju atau apalah itu yang jelas membuatku merasa bahwa ia menentangku dengan ekspresinya. Dia bilang bahwa aku tak paham pertanyaannya, menurutku, ia yang tak paham akan cita-citaku. Terlalu tinggikah kata moksa itu? Melampaui langit barang kali sehingga ia harus mengupay...

Karyawan

"Aku tak mau menjadi karyawan!" Kata anak muda itu sambil menggelengkan kepala. Bibirnya sedikit cibir, kemudian ia melanjutkan kata-katanya "bekerja untuk orang bukanlah gayaku. Aku akan mempekerjakan orang". Sepertinya ada bara di dalam dadanya, bara yang muncul akibat gesekan-gesekan dengan kerja. Seorang tua berkata "lihat dia, dia bekerja di perusahaan besar. Jadi karyawan sukses" kepada anaknya, yang entah berusaha membandingkan orang sukses tersebut dengan siapa. Si anak menghela napas dan memalingkan pandangannya, entah sudah ke berapa kali ia mendengar kata-kata itu dari orang tuanya. "Tujuan bekerja itu apa sih? Bukankah untuk menghasilkan uang?" Kata seorang pemuda yang telah berpenghasilan namun belum punya pekerjaan tetap. Kata aman, baginya hanya sebuah kesemuan "sebab pegawai pun masih bisa kena PHK" lanjutnya. "Mengapa batas ukur produktivitas harus uang?" Tanya seorang yang bercita-cita menjadi biksu. ...

Perlu Bergeser

Jam memukul di sembilan lima belas, aku menarik badanku yang sambungan tulang-tulangnya sudah seperti tak berpelumas. Suara menyerupai kentungan pun muncul dari sendi-sendi itu, mungkin karena terlalu lama kudiamkan di posisi duduk, atau karena akhir-akhir ini ada hujan dalam mimpiku, dan aku bermain di tengahnya yang membuat mimpiku jadi basah. Sendi-sendi itu padahal baru berumur dua puluh tahunan, mengapa usia pakainya begitu pendek? Pikiranku berkata bahwa ini masih pagi, sementara orang mulai berdatangan dan mengisi kursi kosong. Mereka membuka komputer jinjing dan mulai mengerjakan hal-hal yang entah apa. Persis sepertiku yang juga tak mereka tahu sedang mengerjakan apa. Mengerjakan sesuatu, bisakah disebut sebagai telah memiliki pekerjaan? Jika batas ukurnya adalah uang, tentu ini adalah pekerjaan dengan efisiensi dan efektivitas yang sangat rendah. Tubuhku merasa bahwa ini masih malam, meski jelas-jelas si kuping mendengar adzan subuh berkumandang beberapa jam yang lal...

Setoples Kata

Ada sebuah toples yang penuh terisi kata, lalu seorang gadis memasukkan tangan ke dalamnya, mengaduk-aduk dan mengambil sebuah untuk dibaca. Gadis itu membacanya namun tanpa suara, membiarkan orang-orang menunggu dalam rasa penasaran. Beberapa mulai bergunjing dan bertanya "mengapa ia tak membacakannya?". Gadis itu menundukkan kepala dan memejamkan kedua matanya. Tangan ia cakupkan di depan dada. Bergeming bibirnya, namun tak juga keluar suara. Menit berlalu, gadis itu mendekatiku, menyodorkan tangan mungilnya yang mengepal. Kutengadahkan kedua tanganku, ia jatuhkan kata itu di atasnya. Kini aku tahu mengapa ia tak bersuara. Kata yang ia ambil adalah "doa", dan untuk membaca doa memang tak harus bersuara. 4 Desember 2018 Masih di @Kopi Genk 03:26 am

Mengistimewa

Aku tumbuh sebagai orang yang merasa istimewa, diistimewakan di keluarga, istimewa di sekolah. Laki-laki sendiri dari empat bersaudara. Orang Bali satu-satunya dalam kelas. Muncul pertanyaan-pertanyaan atas rasa istimewa itu. Apa hanya aku yang merasa istimewa? Apakah salah merasa istimewa? Kata L, setiap orang pasti pernah merasa istimewa, namun itu bukanlah sebuah kesertamertaan yang membolehkanku merasa istimewa, sebab ketika semua orang merasa istimewa, itu artinya tak ada yang istimewa. Kita hanya merasa untuk menyamankan diri, mungkin juga karena bosan dalam rasa kesamarataan. Merasa istimewa, membuat kita memiliki harga lebih (setidaknya di mata kita sendiri). Keistimewaan semu itu menjadi bisnis bagi beberapa yang jeli melihat peluang. Secara tak langsung mereka meningkatkan perasaan istimewa yang kita punya. Apa yang kita bagikan tentang diri kita sendiri lebih banyak memikat minat orang-orang yang juga sama merasa istimewanya akan diri mereka sendiri. ...