Langsung ke konten utama

Adu Paradoks


Dulu kau menyuruhku untuk belajar, setelah aku pandai, aku tak ingin akan kepandaianku, begitu juga denganmu. Katamu aku harus berani, namun ketika aku mulai melawan sesuatu yang tak sesuai dengan idealismeku, kau menangis dan memintaku berhenti melawan. Dulu kau ajarkan aku untuk rajin makan sayur, dan ketika aku hanya makan sayur, kau bilang kau khawatir aku takkan bertumbuh dengan baik. Apakah hidup memang hanya sebuah paradoksikal?

Seorang pengajar berkata “gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pun jika kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang! Begitulah kata Bung Karno”, setelah berkata sedemikian rupa ia bertanya “Apa cita-citamu?” dan kujawab dengan “Moksa” ia terkejut, memasang tampang tak setuju atau apalah itu yang jelas membuatku merasa bahwa ia menentangku dengan ekspresinya. Dia bilang bahwa aku tak paham pertanyaannya, menurutku, ia yang tak paham akan cita-citaku. Terlalu tinggikah kata moksa itu? Melampaui langit barang kali sehingga ia harus mengupayakan agar aku mau mengganti citaku.

Dunia konon merupakan hal yang membuat manusia lupa akan akhirat. Ketika manusia lupa akan akhirat dan terikat dalam keduniawian, manusia mulai mengiamatkan dunia. Apakah dunia ini ada hanya untuk membuat dirinya sendiri tiada? Tapi apakah manusia benar-benar membuat dunia kiamat? Atau yang dianggap kiamat oleh manusia hanyalah kepunahan spesiesnya saja?

Kau juga dulu pernah berkata bahwa tugas anak adalah membayar karma phala orang tuanya. Seorang anak suputra katamu lebih utama daripada mendirikan seribu bendungan. Aku terpikir, “bukankah menjadi orang tua adalah dosa sebab mewariskan karma phala pada anaknya?” dan mulai muncul keinginan untuk menghentikan proses keturunan sampai padaku saja. Kita sama-sama tak tahu pasti konsep mana yang benar. Aku yang berpegang pada kitab-kitab, kau yang berpegang pada lontar-lontar, bagaimana jika keduanya telah sempat ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan pendahulu kita?

Aku rindu berbincang denganmu tentang hal-hal paradoks, begitu pulakah denganmu? Aku hanya mengucap rindu di dalam rupa seperti ini saja, sementara kau menghubungiku langsung untuk dapat berbincang. Era memudahkan kita sehingga perbincangan tak lagi terbatas jarak, tapi aku tak selues itu ketika berbincang lewat telepon seluler. Apa aku layak terlahir dan tumbuh di era ini? Aku mungkin lebih suka surat kertas daripada surat elektronik, namun sistem pesan singkat pun perpesanan lewat whatsapp juga merupakan surat elektronik. Ini juga kutuliskan dalam buku harian elektronik. Jadi apakah aku benar-benar suka pada surat kertas? Serupa dengan kasus yang satunya, tentang menuliskan “Stop penebangan hutan” pada secarik kertas yang terbuat dari kayu.

Aku ingin kau bertemu dengan seorang kawanku yang juga mencintai paradoks. Ia bilang “Tuhan adalah Maha Paradoks, karena itulah kita juga ketularan paradoks”. Ia agamanya berbeda dengan kita, setidaknya yang tertulis di KTPnya tak sama dengan punya kita, tapi pola pemikirannya sudah mulai membaur juga, sama dengan kita. H dan I memang tak begitu jauh, I dan K juga cukup dekat. Mungkin memang tak ada yang berkata bahwa mereka saling berjauhan, hanya saja sepertinya umat manusia diperjauhkan oleh beberapa oknum.

Seorang spiritualis yang pernah kubaca tulisannya, menuliskan kurang lebih “Jika agama mengajarkan persaudaraan, mengapa manusia justru berpisah ketika akan sembahyang?”. Aku mencoba menjawab pertanyaan itu dengan laku, tentu aku tak sendiri, aku melakukannya bersama kawanku itu. Ia sholat sementara aku meditasi, setelah sholat ia berkata padaku “aku kepikiran. Barusan siapa sebenarnya yang sholat?” yang aku juga punya pertanyaan “Barusan, yang meditasi siapa ya?” namun belum kusampaikan padanya.

Meditasimu apa kabar? Aku di sini sedang mencoba untuk disiplin lagi. Aku ingat pernyataanmu tentang bumbu yang dapat meningkatkan nafsu, bukan daging. Aku tahu, sebab guruku juga mengatakan hal yang sama tentang bumbu, namun daging adalah yang paling dipantangkan. Bagiku, kau seolah menertawakan pola makanku yang terbebas dari hewani namun masih sarat dengan bumbu. Sekarang bagaimana kalau aku yang bertanya “Daging yang kau masak, apakah tanpa bumbu?”


6 Desember 2018
@Kost Santren
08:27 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...