Dulu kau
menyuruhku untuk belajar, setelah aku pandai, aku tak ingin akan kepandaianku,
begitu juga denganmu. Katamu aku harus berani, namun ketika aku mulai melawan
sesuatu yang tak sesuai dengan idealismeku, kau menangis dan memintaku berhenti
melawan. Dulu kau ajarkan aku untuk rajin makan sayur, dan ketika aku hanya
makan sayur, kau bilang kau khawatir aku takkan bertumbuh dengan baik. Apakah hidup
memang hanya sebuah paradoksikal?
Seorang pengajar
berkata “gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pun jika kau jatuh, kau akan
jatuh di antara bintang-bintang! Begitulah kata Bung Karno”, setelah berkata
sedemikian rupa ia bertanya “Apa cita-citamu?” dan kujawab dengan “Moksa” ia
terkejut, memasang tampang tak setuju atau apalah itu yang jelas membuatku
merasa bahwa ia menentangku dengan ekspresinya. Dia bilang bahwa aku tak paham
pertanyaannya, menurutku, ia yang tak paham akan cita-citaku. Terlalu tinggikah
kata moksa itu? Melampaui langit barang kali sehingga ia harus mengupayakan
agar aku mau mengganti citaku.
Dunia konon
merupakan hal yang membuat manusia lupa akan akhirat. Ketika manusia lupa akan
akhirat dan terikat dalam keduniawian, manusia mulai mengiamatkan dunia. Apakah
dunia ini ada hanya untuk membuat dirinya sendiri tiada? Tapi apakah manusia
benar-benar membuat dunia kiamat? Atau yang dianggap kiamat oleh manusia
hanyalah kepunahan spesiesnya saja?
Kau juga dulu
pernah berkata bahwa tugas anak adalah membayar karma phala orang tuanya. Seorang
anak suputra katamu lebih utama daripada mendirikan seribu bendungan. Aku terpikir,
“bukankah menjadi orang tua adalah dosa sebab mewariskan karma phala pada
anaknya?” dan mulai muncul keinginan untuk menghentikan proses keturunan sampai
padaku saja. Kita sama-sama tak tahu pasti konsep mana yang benar. Aku yang
berpegang pada kitab-kitab, kau yang berpegang pada lontar-lontar, bagaimana
jika keduanya telah sempat ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan pendahulu
kita?
Aku rindu
berbincang denganmu tentang hal-hal paradoks, begitu pulakah denganmu? Aku hanya
mengucap rindu di dalam rupa seperti ini saja, sementara kau menghubungiku
langsung untuk dapat berbincang. Era memudahkan kita sehingga perbincangan tak
lagi terbatas jarak, tapi aku tak selues itu ketika berbincang lewat telepon
seluler. Apa aku layak terlahir dan tumbuh di era ini? Aku mungkin lebih suka
surat kertas daripada surat elektronik, namun sistem pesan singkat pun
perpesanan lewat whatsapp juga merupakan surat elektronik. Ini juga kutuliskan
dalam buku harian elektronik. Jadi apakah aku benar-benar suka pada surat
kertas? Serupa dengan kasus yang satunya, tentang menuliskan “Stop penebangan
hutan” pada secarik kertas yang terbuat dari kayu.
Aku ingin kau
bertemu dengan seorang kawanku yang juga mencintai paradoks. Ia bilang “Tuhan
adalah Maha Paradoks, karena itulah kita juga ketularan paradoks”. Ia agamanya
berbeda dengan kita, setidaknya yang tertulis di KTPnya tak sama dengan punya
kita, tapi pola pemikirannya sudah mulai membaur juga, sama dengan kita. H dan
I memang tak begitu jauh, I dan K juga cukup dekat. Mungkin memang tak ada yang
berkata bahwa mereka saling berjauhan, hanya saja sepertinya umat manusia
diperjauhkan oleh beberapa oknum.
Seorang spiritualis
yang pernah kubaca tulisannya, menuliskan kurang lebih “Jika agama mengajarkan
persaudaraan, mengapa manusia justru berpisah ketika akan sembahyang?”. Aku mencoba
menjawab pertanyaan itu dengan laku, tentu aku tak sendiri, aku melakukannya
bersama kawanku itu. Ia sholat sementara aku meditasi, setelah sholat ia
berkata padaku “aku kepikiran. Barusan siapa sebenarnya yang sholat?” yang aku
juga punya pertanyaan “Barusan, yang meditasi siapa ya?” namun belum
kusampaikan padanya.
Meditasimu apa
kabar? Aku di sini sedang mencoba untuk disiplin lagi. Aku ingat pernyataanmu
tentang bumbu yang dapat meningkatkan nafsu, bukan daging. Aku tahu, sebab
guruku juga mengatakan hal yang sama tentang bumbu, namun daging adalah yang
paling dipantangkan. Bagiku, kau seolah menertawakan pola makanku yang terbebas
dari hewani namun masih sarat dengan bumbu. Sekarang bagaimana kalau aku yang
bertanya “Daging yang kau masak, apakah tanpa bumbu?”
6 Desember 2018
@Kost Santren
08:27 PM
Komentar
Posting Komentar