Langsung ke konten utama

Anak Baik


Seorang kawanku bekerja di luar negeri, mengirimkan uang ke keluarganya di kampung setiap bulannya. Kutemui dia di internet saat hari raya, ia bilang bahwa ia merayakan sendiri, kawan-kawannya telah pulang sebab kontrak telah habis, sementara anak baru belum datang.

Seorang kawanku yang lainnya, tinggal di rumah bersama anak-istri dan kedua orang tuanya. Tawaran pekerjaan datang dari berbagai arah, kawan-kawan sepergaulannya saat di bangku kuliah tak jarang singgah sembari membawa kabar baik – kata mereka. Ia memilih menjadi seorang pengerajin, pekerjaan yang ia sebut sebagai sambilan. Pilihan yang ia ambil agar tetap bisa menjaga ibu dan ayahnya.

Kedua kawanku ini kurasa sangat layak untuk dijadikan acuan, yang pertama rela bersusah di tanah orang, bertahun-tahun meredam rindu akan kampung halaman, menuai cemoohan kawan-kawan yang suka berkata “hidup di luar negeri, banyak uang, sampai lupa pulang!”. Dalam hati boleh saja ia mengumpat atau mengutuk orang-orang itu, namun yang ia katakan padaku adalah “mereka hanya belum tahu rasanya jauh dari keluarga, percuma berdebat dengan orang yang tak tahu Lik”. Kawanku yang ke dua, ia pandai menebalkan kuping, atau bahkan menyumbat telinga dari omongan semacam “Dasar pengangguran”. Kepedulian yang ia miliki terhadap keluarganya, ia wujudkan dalam tindakan “Meskipun kecil” katanya “lakukanlah sesuatu” padaku yang saat itu singgah untuk meminjam beberapa eksemplar buku.

Kutanya diriku 
“ingin menjadi tipe yang mana?”, 

“yang banyak uang namun harus hidup di tanah orang?”, 

“Atau yang tinggal di rumah namun ketat dalam urusan Rupiah?”. 

Aku mulai bimbang, maka kucoba membuka catatan yang diberikan oleh Guruku. Aku menemukan pembahasan akan kasih pada keluarga, ia tak menyebut masalah uang, ia juga tak menyampaikan masalah waktu, ia hanya menyebut 'perhatian, kasih, sayang'. Aku pun menyimpulkan bahwa uang hanyalah sebuah bentuk penyampaian, begitu juga dengan waktu. Memberikan uang ataupun waktu pada orang terdekat kita, haruslah disertai perhatian, dan berlandaskan kasih sayang.

Semoga kita bisa menjadi anak baik bagi kedua orang tua kita, 

di manapun kini kita berada, 

di manapun mereka kini berada.



17 Desember 2018
11:05 AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...