Langsung ke konten utama

Balas!

Lebih mudah untuk menulis dua ratus kata per hari daripada mengambar sebuah komik empat panel tanpa tulisan. Hal itu mungkin juga yang dirasakan oleh orang yang mengatakan bahwa satu gambar dapat mewakili juataan makna, cerita ataupun kata-kata. Satu menit saja sudah cukup untuk menuliskan lima puluh kata, sementara untuk menggambar mungkin memerlukan lima puluh menit bagiku untuk menyelesaikan satu panel saja, itupun masih belum berwarna.
Keunggulan gambar, adalah dapat dipahami oleh siapa saja tanpa terbatas oleh bahasa, namun pengertiannya akan sangat bergantung pada keadaan emosional ketika melihatnya. Keunggulan tulisan adalah lebih sedikit persepsi dan akan terasa menyenangkan bagi mereka yang suka mengimajinasikan sendiri, namun mungkin sulit dimengerti oleh yang terbiasa dengan gaya bahasa berbeda, juga tak dapat dipahami oleh yang bahasanya berbeda. Tulisan ataupun gambar adalah sebuah karya, intinya si karyawan dapat mengekpresikan diri dan dapat menyampaikan suatu pesan, jadi tak perlu ada perdebatan antara pencinta komik dan pencinta novel.
Suka menulis, tulislah. Suka menggambar, gambarlah. Suka membaca, bacalah. Tak suka membaca, bacalah juga! Membaca akan berpengaruh pada pola pikir, gaya bahasa hingga tata gerak, meskipun pengaruh tak selamanya berarti baik. Apa yang harus dibaca? Tergantung ingin memasukkan informasi apa ke dalam otak, sebab sama halnya dengan makanan dan kata “you are what you eat”, tulisan yang kita baca adalah makanan untuk otak kita.
Mulai baca!
Baca lagi!
Baca terus!
Setelah membaca, mungkin akan ada sedikit imbas pada tangan. Serupa keinginan untuk berkarya, inspirasi, motivasi atau apa lah sebutannya. Ikuti saja alirnya, maka boom..... sebuah karya akan tercipta. Tulisan atau gambar boleh-boleh saja, intinya adalah berkarya.
Mulai berkarya!
Berkarya lagi!
Berkarya terus!
Balas karya, dengan karya. Jangan Cuma diam saja!

16 Desember 2018
07:57 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...