Aku tumbuh sebagai orang yang merasa istimewa, diistimewakan di keluarga, istimewa di sekolah. Laki-laki sendiri dari empat bersaudara. Orang Bali satu-satunya dalam kelas. Muncul pertanyaan-pertanyaan atas rasa istimewa itu. Apa hanya aku yang merasa istimewa? Apakah salah merasa istimewa?
Kata L, setiap orang pasti pernah merasa istimewa, namun itu bukanlah sebuah kesertamertaan yang membolehkanku merasa istimewa, sebab ketika semua orang merasa istimewa, itu artinya tak ada yang istimewa. Kita hanya merasa untuk menyamankan diri, mungkin juga karena bosan dalam rasa kesamarataan. Merasa istimewa, membuat kita memiliki harga lebih (setidaknya di mata kita sendiri).
Keistimewaan semu itu menjadi bisnis bagi beberapa yang jeli melihat peluang. Secara tak langsung mereka meningkatkan perasaan istimewa yang kita punya. Apa yang kita bagikan tentang diri kita sendiri lebih banyak memikat minat orang-orang yang juga sama merasa istimewanya akan diri mereka sendiri.
Rasa istimewa itu tak selalu dari sudut pandang positif, sebab ratapan dan rasa terpuruk juga kerap menjadi hal yang diistimewakan, seolah kesakitan jenis tertentu hanya bisa dimiliki oleh satu orang, sementara jenis berbeda untuk orang yang lainnya. Apapun, yang penting istimewa. Apapun, yang penting tak sama dengan yang lainnya, meski tak ada masalah yang sungguh ekslusif.
"Cobalah untuk melepaskan rasa istimewa itu! Kau tak istimewa sama sekali!" Katanya menyuruhku bangkit dari pojokan yang basah oleh air mata. "Kau hanya perlu bertanggungjawab atas apa yang kau terima, meski menurutmu itu bukan pilihanmu. Masalahmu, bukan hal yang khusus hanya dimiliki olehmu!" Aku pun mencoba bangkit, seperti juga ia yang telah beranjak dari perasaan istimewanya.
Seorang kawanku yang lainnya, merasa tak punya keistimewaan sama sekali. Ia mengibaratkan dirinya sebagai logam yang tak punya sisi tajam "harusnya ada satu sisi saja yang tajam" katanya, yang menurutku tak semua logam harus menjadi pedang, pisau, ataupun jarum. Aku baru terpikir lagi, mungkinkah perasaan tak punya hal istimewa adalah sebuah perasaan istimewa?
Sepertinya memang semua orang punya perasaan itu, hanya saja tak semua orang menyadari, yang menyadari belum tentu menginginkan rasa itu pergi, yang rasa itunya telah pergi akan diupayakan jadi bingung oleh mereka yang masih punya rasa itu. Kalau sudah bisa tak merasa istimewa kita menjadi istimewa lagi, sebab tak banyak orang yang merasa tak istimewa.
"Tak usah katakan diri telah merasa tak istimewa, cukup hanya merasa biasa saja" baiklah, akan kucoba.
4 Desember 2018
@Kopi Genk
12:09am
Komentar
Posting Komentar