Mulailah
membicarakan tentang apa yang orang lain inginkan, atau mulailah membuat mereka
menginginkan sesuatu. Jangan bahas apa yang kau ingin, jangan bahas apa yang
kau mau, pun kalau harus membahas apa yang kau mau, bahaslah dengan cara
seolah-olah itu adalah ide mereka. Terlalu banyak sudah cerita tentang “aku”,
mengapa tak coba bercerita tentang Dia? Dia lagi dan lagi-lagi Dia. Bicarakan
hanya Dia, inginkan hanya Dia, tuju hanya Dia, hiduplah demi Dia. Dia yang kau
mau, sebab itulah jangan bahas Dia sebagai maumu di depan orang-orang, tak
semua dari mereka memaui Dia.
Tiada
sesuatupun di muka bumi yang dapat memenuhi kebutuhanmu akan Dia, tak ada
sesuatupun yang dapat menggantikanNya. Sumber dari segala yang ada, bagaimana
mungkin dapat diwakilkan oleh benda, atau manusia? Mabuk akan Dia mesti membuat
kita merasa sangat cukup atas segalanya. Keinginan? Apa itu keinginan? Jika
berhasil berada dalam sumber segalanya, apa lagi yang bisa kau inginkan?
Kini yang
menjadi masalah adalah bagaimana cara agar hanya menginginkan Dia? Bagaimana
cara menuluskan hati agar menjadi senantiasa bercintakasih sepertiNya?
Keinginan untuk kembali pada asal mula tak selamanya bisa terjaga, dunia sangat
pandai membuat lupa. Apakah kasih pada sesama makhluk hidup dapat membantu?
Atau hanya perlu menghiraukan diri sendiri saja?
Panca indra
sangat mudah tertarik pada sesuatu yang dapat dirasa, sedangkan Ia tak
terjangkau oleh indra, mungkin inilah penyebab munculnya simbol-simbol yang
mewakilkanNya mulai dari patung, gambar hingga aksara. Pembuatnya pasti tahu
bahwa itu takkan cukup untuk menggantikan pengalaman langsung bertemu
denganNya. Mau bagaimana lagi? Lebih banyak yang tak punya pengalaman itu.
22 November 2018
@Kost Santren
10:25PM
Komentar
Posting Komentar