Langsung ke konten utama

Tentang Dia

Mulailah membicarakan tentang apa yang orang lain inginkan, atau mulailah membuat mereka menginginkan sesuatu. Jangan bahas apa yang kau ingin, jangan bahas apa yang kau mau, pun kalau harus membahas apa yang kau mau, bahaslah dengan cara seolah-olah itu adalah ide mereka. Terlalu banyak sudah cerita tentang “aku”, mengapa tak coba bercerita tentang Dia? Dia lagi dan lagi-lagi Dia. Bicarakan hanya Dia, inginkan hanya Dia, tuju hanya Dia, hiduplah demi Dia. Dia yang kau mau, sebab itulah jangan bahas Dia sebagai maumu di depan orang-orang, tak semua dari mereka memaui Dia.

Tiada sesuatupun di muka bumi yang dapat memenuhi kebutuhanmu akan Dia, tak ada sesuatupun yang dapat menggantikanNya. Sumber dari segala yang ada, bagaimana mungkin dapat diwakilkan oleh benda, atau manusia? Mabuk akan Dia mesti membuat kita merasa sangat cukup atas segalanya. Keinginan? Apa itu keinginan? Jika berhasil berada dalam sumber segalanya, apa lagi yang bisa kau inginkan?

Kini yang menjadi masalah adalah bagaimana cara agar hanya menginginkan Dia? Bagaimana cara menuluskan hati agar menjadi senantiasa bercintakasih sepertiNya? Keinginan untuk kembali pada asal mula tak selamanya bisa terjaga, dunia sangat pandai membuat lupa. Apakah kasih pada sesama makhluk hidup dapat membantu? Atau hanya perlu menghiraukan diri sendiri saja?

Panca indra sangat mudah tertarik pada sesuatu yang dapat dirasa, sedangkan Ia tak terjangkau oleh indra, mungkin inilah penyebab munculnya simbol-simbol yang mewakilkanNya mulai dari patung, gambar hingga aksara. Pembuatnya pasti tahu bahwa itu takkan cukup untuk menggantikan pengalaman langsung bertemu denganNya. Mau bagaimana lagi? Lebih banyak yang tak punya pengalaman itu.

22 November 2018
@Kost Santren
10:25PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...