Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Amatir

Kawanku menulis lagi, kali ini tentang “Penulis amatir”. Lebih tepatnya dia menulis tentang perdebatan dengan temannya sebab temannya berkata kurang lebih “penulis yang mengandalkan suasana adalah penulis amatir”. Membaca tulisan kawanku itu membuatku berpikir “Apa iya demikian? Mari kita cek!” Menulis dalam suasana yang baik memang sangat baik, maka tak jarang penulis mencari tempat yang mendukung suasana hati menjadi baik. Menulis dalam suasana hati yang baik cenderung akan menghasilkan karya tulis yang baik, setidaknya untuk diri sendiri. Suasana mendukung tersebut lebih mudah di dapat di tempat yang “cocok” dengan si penulis, maka banyak penulis yang memilih berada di tempat cocok tersebut sewaktu menulis. Wira Nagara melakukannya, bahkan Sang Manyar Rama Mangun Wijawa (Alm) juga melakukannya. Lalu apa salahnya? Dan apakah mereka termasuk amatir? Dalam buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya David J. Schwartz , dijelaskan tentang “Lakukan saja dulu!” yang mengarahkan ke pembe...

Egois(?)

"Jangan egois dong!" kata seseorang di pojokan kedai kopi. Hentakan suaranya membungkam riuh bincang para pelanggan kedai, meski sejenak. Seketika itu muncul pernyataan di dalam benakku "lalu, membentak semacam itu apakah bukan egois namanya?" Apa sebenarnya arti dari kata egois? Aku jadi penasaran dan bertanya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Muncul penjelasan "orang yang mementingkan diri sendiri". Lalu mulailah aku mengecek ke dalam diriku. Apakah aku orang yang egois? Apakah aku mementingkan diri sendiri? Coba kulihat.... Ketika aku lapar, aku makan. Ketika mataku mengantuk, aku tidur. Ketika aku lelah, aku istirahat. Ketika aku tak suka sesuatu, aku menghindar. Hmmm..... Sepertinya memang sangat mementingkan diri sendiri. Aku belajar supaya aku pintar. Aku olah raga agar aku sehat. Aku jadi vegan karena aku suka. Ketika mereka berkomentar kontra tentang pilihan-pilihanku itu, aku sudah siap senjata berupa data-data. Kelihatannya memang sangat egois....

Objektifikasi

Saat duduk di bangku SMP aku belajar tentang majas “personifikasi” yaitu sebuah gaya bahasa yang berfungsi untuk memanusiakan benda mati atau makhluk yang bukan manusia. Beberapa bulan terakhir aku diberitahu soal “objektifikasi” yaitu sebuah perlakuan menjadikan manusia sebagai objek. Kedua hal tersebut mungkin berbanding terbalik, tapi sepertinya tidak dapat dianggap sebagai antonim. Personifikasi merupakan gaya bahasa sehingga aplikasinya hanya sebatas kata-kata, sementara objektifikasi adalah perilaku. Perlakuan terhadap benda selayak memperlakukan manusia tidak pernah disebut sebagai personifikasi, namun kata-kata yang membendakan manusia tetap termasuk objektifikasi. Hal yang paling sering kudengar tentang objektifikasi adalah “objektifikasi perempuan”. Hal-hal yang termasuk ke dalam objektifikasi perempuan contohnya “cewe itu memang gitu, mereka cuma menunggu dicari”, atau “Cewe ngapain kuliah tinggi-tinggi? Nanti juga bakalan di dapur, di sumur, di kasur”. Jadi yang kupahami ...

Mandiri

Seorang kawan menulis tentang kemandirian. Dia mengatakan bahwa dalam hal kemandirian, setiap orang punya caranya sendiri dan bidangnya masing-masing. Kurasa itu sangat tepat dan masuk akal. Lalu mulai kulihat ke dalam diriku sendiri, seberapa tepat teori kawanku itu dengan kehidupanku. Beberapa teman mengatakan aku adalah anak yang manja sebab belum bekerja. Belum bekerja di perusahaan, sehari-hari hanya mengerjakan pekerjaan rumahan. Aku belum punya penghasilan berupa uang, karena tolak ukurku untuk “penghargaan” berbeda dari kebanyakan orang. Menurutku aku bekerja dan berpenghasilan, jadi kurasa aku bukan anak manja yang layak diberi predikat pengangguran. Penghasilanku adalah kepercayaan, sebuah mata uang paling mahal yang pernah digunakan. Beberapa teman yang lain mengatakan bahwa aku adalah manusia yang mandiri sebab bisa apa-apa sendiri. Masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri~ (sebelum punya istri). Bukan perkara “bisa” dalam sudut pandangku, namun le...

Manusia Portal

Saya sedang berusaha untuk pulang kampung saat ini, sebab mudik dilarang. Dilarang karena alasan menghentikan penyebaran virus Corona. Saya terpikir "Menghentikan ya? Apa bisa?" Apakah bisa penyebaran itu dihentikan ketika sehari-hari portal-portal gang dijaga oleh lebih dari lima orang guna melakukan pengecekan, dugeman, dangdutan, karaokean, nobar dan segala tetek bengeknya? Padahal pemerintah juga melarang berkumpul, bahkan kursi panjang di tempat umum pun disilang-silang guna memberi jarak antar pengunjung. Sementara itu orang-orang portal bersalaman seperti biasa. Sama seperti portal, pos ronda pun dijaga oleh bapak-bapak dan anak muda. Kata Bapak saya "supaya kentungan di pos tidak hilang". Bagus juga, mengingat usia Bapak yang sudah menginjak kepala tujuh, mungkin ronda sampai larut malam bisa meningkatkan imunitas tubuhnya. Bapak juga menyampaikan bahwa di pos kamling tetangga sering ada yang bernyanyi sampai teriak-teriak, beberapa kali ia juga ...

Buat Apa Menulis?

Buat apa aku menulis tentangmu atau menulis untukmu? Kan tiap sore kita lalui bersama? Sejak subuh pun kita sudah saling sapa. Bahkan malam hari kita teleponan sampai salah satu ketiduran. Buat apa lagi ada tulisan-tulisan? Kurasa lebih baik kita tu de poin saja. Kalau suka katakanlah suka. Jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiran, katakanlah tanpa perlu banyak rima. Kode-kode juga bukan hal yang terlalu berguna sebab tingkat efisiensinya rendah. Lagipula aku tak merasa cukup peka untuk dapat memahami apa yang kau maksud dari perilakumu, jadi katakanlah dengan jelas dalam jangka waktu yang singkat. Sebab ada banyak kerjaan yang harus kuselesaikan. Kalau kau ada waktu lebih, mungkin kau bisa bantu. Atau kalau kau ada kerjaan juga, kita bisa selesaikan bersama-sama. Waktuku sangat berharga, jadi tolong mengertilah. Bahasa tulis itu sangat terbatas. Tak ada ekspresi di dalamnya. Tak ada suara dan nada bicara meskipun sudah dibantu oleh tanda-tanda baca. Keadaan psikis pembaca ...

Ibu?

Aku sedang menggali lubang di kepalanya. Aku cabut rambutnya satu per satu untuk meneduhi tubuhku dari hujan dan badai yang terus saja menerpa. Aku harus aman dan bertahan dalam dinginnya hujan keinginan. Aku tak boleh koyak tergerus badai gengsi. Aku harus punya uang lebih bayak daripada yang kubutuhkan. Harus ada tabungan, harus ada simpanan untuk masa depan, harus sejahtera sampai tujuh turunan. Anak-anakku harus hidup dengan tenang dan bergelimang harta. Mereka harus mendapat kenyamanan hidup yang tak pernah aku rasakan semenjak aku memijak bumi. Bumi yang kupanggil sebagai Ibu sepertinya tak begitu kasih padaku. Kapan ia memberiku sesuatu? Kurasa tak pernah terjadi ia “memberi dan tak harap kembali”. Aku masih harus berjuang untuk mendapat sesuatu. Aku berupaya agar ada. Lalu ia marah padaku hanya karena secuil tanahnya kugali, hanya karena sepetak hutannya kugunduli. Apakah ia menganggap kami sebagai anaknya seperti kami menganggap ia sebagai Ibu? Aku meragukan keibuanmu w...

Tahun Baru

Ketika aku masih duduk di bangku SMP, pelajaran kimia membuatku bertanya pada kalender. Berawal dari penjelasan Bapak Guru mengenai penamaan angka-angka, kurang lebih begini katanya “Octa itu delapan, Nova itu sembilan, Desi itu sepuluh”. Pertanyaan yang muncul di pikiranku mungkin sudah bisa kau tebak. “Mengapa Oktober berada di bulan ke sepuluh jika octa itu delapan?”. Pertanyaan itu tinggallah pertanyaan yang tak pernah kusampaikan pada Guru, Ibu, Bapak, saudara ataupun teman. Berlalu begitu saja membaur bersama polusi pembakaran sampah di samping tembok sekolah. Pada suatu hari yang indah di kota istimewa, seorang teman mengundang anak sekelas untuk main ke rumahnya. Kami ya mau saja, main sepak bola dijital sejenak lalu keluar cari angin sambil menunggu fajar. Datanglah teman-teman yang merupakan tetangga teman sekelasku itu. Sembari mereka berasap ria, topik berat dipicu oleh seorang yang terlihat cukup tua. Ia membahas sejarah uang dan prinsip ekonomi saat ini yang mengalam...

Setara

Tuhan, apakah surga itu layak untuk diperebutkan? Bolehkah jika aku membuang kesempatan untuk masuk ke dalamnya dan memilih untuk bersamamu saja? Orang-orang mengakuisisi surgamu dan membuatku mulai muak lagi. Setelah sekian lama aku mencoba untuk percaya pada nurani yang ada dalam setiap insan, kini aku mulai kembali tidak yakin. Dosen Agamaku berkata “Tujuan mereka adalah surga, tujuan kita moksa” apakah moksa hanya bisa dicapai oleh orang yang berKTP Hindu? Lalu bagaimana dengan Krhsna dan Siddharta yang tak punya KTP? Mereka bahkan tidak mengklaim diri beragama Hindu. Sementara aku meyakini bahwa Muhammad dan Yesus telah mencapai moksa, aku dikatakan sebagai “tak mungkin mencapai surga”. “Ambil saja surga itu!” kataku, sebab jika surga hanya berisikan orang-orang fasis, maka derita pulalah yang akan ada di sana. Jika aku masuk surga yang sedemikian rupa, bukankah berarti aku fasis juga? Tapi memang iya aku fasis, sebab itulah aku menganggap mereka perlu merombak pemikirannya. ...