Seorang kawan menulis tentang kemandirian. Dia mengatakan bahwa dalam hal kemandirian, setiap orang punya caranya sendiri dan bidangnya masing-masing. Kurasa itu sangat tepat dan masuk akal. Lalu mulai kulihat ke dalam diriku sendiri, seberapa tepat teori kawanku itu dengan kehidupanku.
Beberapa teman mengatakan aku adalah anak yang manja sebab belum bekerja. Belum bekerja di perusahaan, sehari-hari hanya mengerjakan pekerjaan rumahan. Aku belum punya penghasilan berupa uang, karena tolak ukurku untuk “penghargaan” berbeda dari kebanyakan orang. Menurutku aku bekerja dan berpenghasilan, jadi kurasa aku bukan anak manja yang layak diberi predikat pengangguran. Penghasilanku adalah kepercayaan, sebuah mata uang paling mahal yang pernah digunakan.
Beberapa teman yang lain mengatakan bahwa aku adalah manusia yang mandiri sebab bisa apa-apa sendiri. Masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri~ (sebelum punya istri). Bukan perkara “bisa” dalam sudut pandangku, namun lebih kepada “suka”. Aku suka masak sendiri untuk kunikmati sendiri, jika menurutku sangat nikmat pastilah kubagi-bagi. Aku suka cuci baju sendiri daripada dicucikan penatu ataupun istri. Rasa suka itu mungkin muncul dari kenyamanan penggunaan. Aku akan lebih nyaman menggunakan pakaian yang kubersihkan sendiri, sebab aku tahu persis seberapa bersih pakaian itu. Aku juga suka aroma pakaianku yang hanya dibersihkan dengan air, maka aku berhenti pakai deterjen. Jika dicucikan, aromanya akan berubah jadi aroma pewangi.
Beberapa teman yang memuja patriarki berkata “Laki-laki harus punya penghasilan (uang) lebih besar daripada perempuan”, ketika kuusut dengan pertanyaan “mengapa?” ujung-ujungnya hanya mengantarkan kepada “maskulinitas rapuh”. Mungkin karena tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga maka merasa “memberikan uang pada istri” adalah satu-satunya cara untuk tetap layak menjadi “Kepala keluarga”. Kasarnya “Membayar pembantu yang bergelar istri”.
Beberapa teman feminis mengatakan bahwa aku keren sebab tidak malu mengerjakan pekerjaan yang telah lama dilabeli sebagai “pekerjaan perempuan”. Suatu kebanggaan tersendiri bagiku ketika berada di antara Ibu-ibu atau Nenek-nenek. Mereka memandangku seperti sambil berpikir “Seandainya putraku seperti ini, pasti akan sangat kusayangi”. Terkesan sombong mungkin, tapi memang iya...... tak jarang terucap kata-kata “Yang jadi istrimu nanti pasti sangat senang”
Ada juga teman yang mengatakan “Orang model Bli ni, kalau semua pedagang tutup pun tetap bisa bertahan hidup dia” tentangku. Semandiri itu ternyata aku di mata mereka. Kurasa memang perlu sesekali masuk ke hutan barang seminggu atau sebulan untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup di alam liar, tapi aku sering lupa bahwa alam liar itu sudah hampir tidak ada. Semua tanah kan milik negara....
Komentar teman-teman tersebut di atas kuanalisa hingga mengasilkan sebuah kesimpulan sementara yaitu “Kemandirian tergantung pada orang yang menilai”. Penilai yang orientasi utamanya adalah uang akan cenderung menganggapku sebagai “manja”, “benalu” atau bahkan “sampah masyarakat”, berbanding terbalik dengan yang anarkis. Anarko akan menilaiku sebagai “prospek” atau bahkan “panutan” sebab cukup bodoamat pada uang dan aturan-aturan negara. Mandiri bagi mereka yang Kapitalis berbeda dengan yang Sosialis. Mandiri bagi mereka yang Futuristis berbeda dengan yang Naturalis.
Ideologi,
budaya yang diwariskan,
pola asuh,
jurusan yang dipilih,
lingkar pertemanan
berpengaruh pada sudut pandang seseorang atas sesuatu, dalam hal ini adalah kemandirian.
Lalu, apa mandiri menurutmu?
@Omah Peace
07 November 2020
14.48 PM
Mandiri menurutku?? 🤔🤔😏
BalasHapusMantap Bliiii
BalasHapusDi diskusikan asik ya
Pipipipipippp numpang lewat link oretan saya https://amorenarium.blogspot.com/2020/02/perihal-mandiri-kita-semua-beda.html?m=1
Yo Mba, tulisanmu menginpirasiku untuk menulis lagi :D
HapusMantap Bliiii
BalasHapusDi diskusikan asik ya
Pipipipipippp numpang lewat link oretan saya https://amorenarium.blogspot.com/2020/02/perihal-mandiri-kita-semua-beda.html?m=1