Ia datang lagi, kawanku yang satu frekuensi. Kami berbincang selama dua hari ia singgah, bagai tak punya rasa lelah. Ia tak lagi rajin sholat seperti dahulu, ia juga tak rajin puasa seperti beberapa tahun lalu saat aku masih nyaman dengan kondisi berkumpul tinggal bersama kawanku yang Hindu. Banyak hal yang terjadi padanya. Ia mendapat beasiswa kuliah dan mengambil jurusan sejarah. Ia juga sempat menjadi sangat mudah marah-marah karena Ibunya meninggal dunia hanya selang beberapa waktu setelah ia mendapat beasiswa tersebut. Kakak laki-lakinya meremehkannya. Kakak perempuannya tidak lagi sesolehah yang ia tahu dulu. Kakak perempuan yang mengenalkan ia denganku. Dunia kuliah tak semenyenangkan yang ia bayangkan membuat ia beberapa kali mengatakan bahwa ia ingin menyudahi saja. “Seandainya beasiswaku dicabut, ya sudah.” katanya, yang tak kusanggah sebab menurutku setiap orang berhak menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri. Aku sendiri juga pernah berpikiran serupa, sebelum se...
Ke mana harus sembunyi? Sedang daun pun memiliki mata.