Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Oase

Ia datang lagi, kawanku yang satu frekuensi. Kami berbincang selama dua hari ia singgah, bagai tak punya rasa lelah. Ia tak lagi rajin sholat seperti dahulu, ia juga tak rajin puasa seperti beberapa tahun lalu saat aku masih nyaman dengan kondisi berkumpul tinggal bersama kawanku yang Hindu. Banyak hal yang terjadi padanya. Ia mendapat beasiswa kuliah dan mengambil jurusan sejarah. Ia juga sempat menjadi sangat mudah marah-marah karena Ibunya meninggal dunia hanya selang beberapa waktu setelah ia mendapat beasiswa tersebut. Kakak laki-lakinya meremehkannya. Kakak perempuannya tidak lagi sesolehah yang ia tahu dulu. Kakak perempuan yang mengenalkan ia denganku. Dunia kuliah tak semenyenangkan yang ia bayangkan membuat ia beberapa kali mengatakan bahwa ia ingin menyudahi saja. “Seandainya beasiswaku dicabut, ya sudah.” katanya, yang tak kusanggah sebab menurutku setiap orang berhak menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri. Aku sendiri juga pernah berpikiran serupa, sebelum se...

Iming-iming

Sampai kapan kau akan betah hidup dalam iming-iming? Mereka bilang bahwa mereka akan menghargaimu setelah kau melakukan persis seperti keingingannya. Namun nyatanya apa? Setelah kau lakukan semuanya justru yang dikatakan adalah "baiklah, sekarang lakukan ini". Kau tetap saja lapar akan penghargaan. Nilai dari Ibu-Bapak Guru rupanya tak pernah memuaskan orang-orang. Jika nilaimu kecil, mereka mencemoohmu. Jika nilaimu bagus, mereka hanya bilang "oh" dan pergi. Apakah karena nilai sudah dianggap penghargaan sehingga tak perlu dihargai proses mencapainya? Jika iya, terang saja jadi banyak orang yang memilih untuk mencontek saat ujian. Iming itu masih berlanjut jika kau sudah bekerja. Tak punya uang akan ditertawakan dan disuruh berupaya kerja keras bagai kuda. Jika punya banyak uang mereka akan berkata "hidup itu bukan hanya soal uang" yang biasanya dilanjutkan dengan omongan seputar religiusitas ataupun spiritualitas. Masih mau dengar omong kosong lagi?...

Beres-beres

Sedikit demi sedikit hal yang kucita-citakan mulai tercapai (lagi) setelah sekian lama kurasa hidupku kosong tanpa tujuan, kini harapan telah ada kembali. Hidupku terasa nikmat ketika kusedekahkan untuk pelayanan sesama manusia. Berdatangan orang-orang baik, orang-orang cerdas, orang-orang tulus yang entah ada berapa banyak lagi dari mereka yang masih masuk di daftar antri untuk bertemu denganku. Atau sebenarnya aku yang telah masuk di daftar anri untuk bertemu dengan mereka. Semalam rapat relawan berlangsung di depan kamar kostku. Kamar yang sebelumnya bahkan aku sendiri tak betah berada di dalamnya dan membuatku merasa malu ketika ada orang yang menengok dari luar. Kini kamar itu mulai memancarkan daya tariknya yang mungkin begitu pula dengan diriku. Sesederhana membereskan kamar dengan menyingkirkan hal-hal yang tak menimbulkan rasa senang, begitu pula aku harus membereskan diriku dengan menyingkirkan hal-hal yang tak kusukai. Dulu aku sangat suka mengritik sementara aku tak ...

hening

Sudah terlalu lama aku tak mendengarkan keheningan, mungkin karena aku belum menghening agar dapat mendengar. Kapan terakhir kalinya juga aku tak ingat. Sebab terlalu lama ataukah aku memang kurang menghargainya? Apapun itu, kini seperinya aku sedag membutuhkan hening lagi. Hening agar pikiran lebih bening. Ketika kuperhatikan si hening, ia segera saja menghilang. Hening begitu pemalu sehingga tak boleh diajak berbicara. Menyedihkan memang, apa lagi bagi orag yang suka berteman dengannya. Rasa suka padanya tak bisa disampaikan dengan rayuan gombal. Satu-satunya cara merayu hening adalah dengan mendiamkannya. Bagi orang-orang yang terlalu banyak berpikir sepertiku, mendiamkan hening bukanlah hal mudah. Hening mungkin sempat singgah tatkala aku teridur namun aku tak menyadarinya. Jika aku menyadari kedatangannya mungkin saja ia juga tak suka. Hening benci menjadi pusat perhatian, yang mungkin oleh sebab itulah ia sulit ditemukan di tengah kota. Di desa, meskipun malam selalu diram...