Langsung ke konten utama

Beres-beres

Sedikit demi sedikit hal yang kucita-citakan mulai tercapai (lagi) setelah sekian lama kurasa hidupku kosong tanpa tujuan, kini harapan telah ada kembali. Hidupku terasa nikmat ketika kusedekahkan untuk pelayanan sesama manusia. Berdatangan orang-orang baik, orang-orang cerdas, orang-orang tulus yang entah ada berapa banyak lagi dari mereka yang masih masuk di daftar antri untuk bertemu denganku. Atau sebenarnya aku yang telah masuk di daftar anri untuk bertemu dengan mereka.
Semalam rapat relawan berlangsung di depan kamar kostku. Kamar yang sebelumnya bahkan aku sendiri tak betah berada di dalamnya dan membuatku merasa malu ketika ada orang yang menengok dari luar. Kini kamar itu mulai memancarkan daya tariknya yang mungkin begitu pula dengan diriku.
Sesederhana membereskan kamar dengan menyingkirkan hal-hal yang tak menimbulkan rasa senang, begitu pula aku harus membereskan diriku dengan menyingkirkan hal-hal yang tak kusukai. Dulu aku sangat suka mengritik sementara aku tak suka dikritik, maka seharusnya kusingkirkan kritik tersebut dari diriku. Sebab aku tak bahagia karenanya, aku harus segera membuangnya. Jika aku sendiri tak sudi menerimanya mengapa aku harus memaksa orang lain untuk mendengarkannya? Sedikit berbeda dengan barang yang bisa dihibahkan kepada orang yang memerlukan, keburukan diri hanya boleh disingkirkan.
Mencari sisi baik dari setiap yang kita hadapi mungkin tidaklah mudah tetapi, bukankah di situ letak keseruannya? Jika mudah untuk apa diperjuangkan? Sementara sebaliknya dari sisi buruk sesuatu, orang pasti bisa menemukannya, bahkan sekalipun ia bukan orang yang cerdas. Kritik rupanya bukan indikator kecerdasan sebab yag bodoh pun bisa melakukannya.
Setelah berhasil menyingkirkan yang tak kusukai, waktunya meletakkan hal-hal yang kusuka di tempatnya. Aku suka ketika mendapat apresiasi maka seharunya aku juga memberikannya pada orang lain. Seperti aku mengundang kawan-kawan relawan sehingga mereka sepakat untuk melaksanakan rapat di tempat yang kusukai, orang-orang juga sepertinya akan lebih tertarik pada diriku ketika aku pun suka pada diriku. Untuk menjadi suka pada diriku, aku harus menyingkirkan hal-hal yang tak kusuka dari diriku dan meletakkan hal yang kusuka pada tempanya.

@Kost Santren
06 April 2019
04:00 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...