Sudah terlalu lama aku tak
mendengarkan keheningan, mungkin karena aku belum menghening agar dapat
mendengar. Kapan terakhir kalinya juga aku tak ingat. Sebab terlalu lama
ataukah aku memang kurang menghargainya? Apapun itu, kini seperinya aku sedag membutuhkan
hening lagi. Hening agar pikiran lebih bening.
Ketika
kuperhatikan si hening, ia segera saja menghilang. Hening begitu pemalu
sehingga tak boleh diajak berbicara. Menyedihkan memang, apa lagi bagi orag
yang suka berteman dengannya. Rasa suka padanya tak bisa disampaikan dengan
rayuan gombal. Satu-satunya cara merayu hening adalah dengan mendiamkannya.
Bagi orang-orang yang terlalu banyak berpikir sepertiku, mendiamkan hening
bukanlah hal mudah.
Hening mungkin
sempat singgah tatkala aku teridur namun aku tak menyadarinya. Jika aku
menyadari kedatangannya mungkin saja ia juga tak suka. Hening benci menjadi
pusat perhatian, yang mungkin oleh sebab itulah ia sulit ditemukan di tengah
kota. Di desa, meskipun malam selalu diramaikan oleh suara orkes jangkrik dan
kodok, mudah saja kita bertemu hening. Apakah karena jangkrik merayu hening
lebih baik daripada mendiamkannya sekalipun? Atau karena rayuan kodok tidak
kita mengerti?
Di pojok kamar
kostku dan di atas toilet biasanya hening suka berlama-lama tinggal tetapi,
wujudnya berbeda di kedua tempat tersebut. Pojokan kamar membuat hening tampak
sendu. Toilet menyebabkan hening lebih mengkerutkan kulit di antara kedua
alisnya. Tapi bagaimana aku bisa tahu? Bukankah hening segera menghilang ketika
kuperhatikan?
Renungku telah
sampai pada lelah kemudian hening pun datang memperkenalkan dirinya. Rupanya
hening adalah Aku.
Komentar
Posting Komentar