Langsung ke konten utama

hening

Sudah terlalu lama aku tak mendengarkan keheningan, mungkin karena aku belum menghening agar dapat mendengar. Kapan terakhir kalinya juga aku tak ingat. Sebab terlalu lama ataukah aku memang kurang menghargainya? Apapun itu, kini seperinya aku sedag membutuhkan hening lagi. Hening agar pikiran lebih bening.
Ketika kuperhatikan si hening, ia segera saja menghilang. Hening begitu pemalu sehingga tak boleh diajak berbicara. Menyedihkan memang, apa lagi bagi orag yang suka berteman dengannya. Rasa suka padanya tak bisa disampaikan dengan rayuan gombal. Satu-satunya cara merayu hening adalah dengan mendiamkannya. Bagi orang-orang yang terlalu banyak berpikir sepertiku, mendiamkan hening bukanlah hal mudah.
Hening mungkin sempat singgah tatkala aku teridur namun aku tak menyadarinya. Jika aku menyadari kedatangannya mungkin saja ia juga tak suka. Hening benci menjadi pusat perhatian, yang mungkin oleh sebab itulah ia sulit ditemukan di tengah kota. Di desa, meskipun malam selalu diramaikan oleh suara orkes jangkrik dan kodok, mudah saja kita bertemu hening. Apakah karena jangkrik merayu hening lebih baik daripada mendiamkannya sekalipun? Atau karena rayuan kodok tidak kita mengerti?
Di pojok kamar kostku dan di atas toilet biasanya hening suka berlama-lama tinggal tetapi, wujudnya berbeda di kedua tempat tersebut. Pojokan kamar membuat hening tampak sendu. Toilet menyebabkan hening lebih mengkerutkan kulit di antara kedua alisnya. Tapi bagaimana aku bisa tahu? Bukankah hening segera menghilang ketika kuperhatikan?
Renungku telah sampai pada lelah kemudian hening pun datang memperkenalkan dirinya. Rupanya hening adalah Aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...