Langsung ke konten utama

Iming-iming

Sampai kapan kau akan betah hidup dalam iming-iming? Mereka bilang bahwa mereka akan menghargaimu setelah kau melakukan persis seperti keingingannya. Namun nyatanya apa? Setelah kau lakukan semuanya justru yang dikatakan adalah "baiklah, sekarang lakukan ini".

Kau tetap saja lapar akan penghargaan. Nilai dari Ibu-Bapak Guru rupanya tak pernah memuaskan orang-orang. Jika nilaimu kecil, mereka mencemoohmu. Jika nilaimu bagus, mereka hanya bilang "oh" dan pergi. Apakah karena nilai sudah dianggap penghargaan sehingga tak perlu dihargai proses mencapainya? Jika iya, terang saja jadi banyak orang yang memilih untuk mencontek saat ujian.

Iming itu masih berlanjut jika kau sudah bekerja. Tak punya uang akan ditertawakan dan disuruh berupaya kerja keras bagai kuda. Jika punya banyak uang mereka akan berkata "hidup itu bukan hanya soal uang" yang biasanya dilanjutkan dengan omongan seputar religiusitas ataupun spiritualitas. Masih mau dengar omong kosong lagi? Jika kau menjadi biksu yang begitu taat dalam berbenah dan mendekatkan diri pada Tuhan, mereka akan menganggapmu gila dan tak berperikemanusiaan.

Masih mau menjadi manusia? Mungkin manusia dianggap sebagai makhluk paling sempurna juga karena malaikat pun tak sanggup menghadapi nyinyirnya iblis. Jika ada manusia yang lebih mirip iblis, maafkanlah mereka. Mereka tetap saja manusia. Yang berbisik di telinga manusia bukan hanya malaikat, jadi harap maklum saja.

Iming-iming tentang "jika kau mencapai ini, nanti kau akan bahagia" anggap saja angin lalu. Bahagialah saat ini. Entah atas dasar apapun itu, entah dalam keadaan apapun itu. Sebab orang sakit gigi pun masih bisa nyengir dengan lebarnya. Bagaimana dengan kita?

Mari tersenyum.
Mari bahagia.

@Bengkel Akhsan Motor_Imogiri Timur
7 April 2019
10:16 AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...