Sampai kapan kau akan betah hidup dalam iming-iming? Mereka bilang bahwa mereka akan menghargaimu setelah kau melakukan persis seperti keingingannya. Namun nyatanya apa? Setelah kau lakukan semuanya justru yang dikatakan adalah "baiklah, sekarang lakukan ini".
Kau tetap saja lapar akan penghargaan. Nilai dari Ibu-Bapak Guru rupanya tak pernah memuaskan orang-orang. Jika nilaimu kecil, mereka mencemoohmu. Jika nilaimu bagus, mereka hanya bilang "oh" dan pergi. Apakah karena nilai sudah dianggap penghargaan sehingga tak perlu dihargai proses mencapainya? Jika iya, terang saja jadi banyak orang yang memilih untuk mencontek saat ujian.
Iming itu masih berlanjut jika kau sudah bekerja. Tak punya uang akan ditertawakan dan disuruh berupaya kerja keras bagai kuda. Jika punya banyak uang mereka akan berkata "hidup itu bukan hanya soal uang" yang biasanya dilanjutkan dengan omongan seputar religiusitas ataupun spiritualitas. Masih mau dengar omong kosong lagi? Jika kau menjadi biksu yang begitu taat dalam berbenah dan mendekatkan diri pada Tuhan, mereka akan menganggapmu gila dan tak berperikemanusiaan.
Masih mau menjadi manusia? Mungkin manusia dianggap sebagai makhluk paling sempurna juga karena malaikat pun tak sanggup menghadapi nyinyirnya iblis. Jika ada manusia yang lebih mirip iblis, maafkanlah mereka. Mereka tetap saja manusia. Yang berbisik di telinga manusia bukan hanya malaikat, jadi harap maklum saja.
Iming-iming tentang "jika kau mencapai ini, nanti kau akan bahagia" anggap saja angin lalu. Bahagialah saat ini. Entah atas dasar apapun itu, entah dalam keadaan apapun itu. Sebab orang sakit gigi pun masih bisa nyengir dengan lebarnya. Bagaimana dengan kita?
Mari tersenyum.
Mari bahagia.
@Bengkel Akhsan Motor_Imogiri Timur
7 April 2019
10:16 AM
Komentar
Posting Komentar