Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang?
Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa.
Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun bocahlah yang paling sering (dan mungkin mudah) ditakut-takuti agar mau menjalankan ritual. Padahal ritual dengan spirit yang keliru, sangat besar kemungkinannya menghasilkan output yang tidak baik. Anak yang rajin sembahyang karena takut pada kemarahan orang tuanya, sangat mungkin menjadi anti sembahyang ketika tinggal jauh dari orang tuanya. Inilah yang kusebut sebagai spiritualitas level bocah, levelnya masih serapuh itu, masih sepemula itu. Semangat ritualnya hanyalah ketakutan akan manusia lainnya.
Ketakutan tidak akan pernah membuat kita tenang. Kita hanya bisa tenang jika sudah mampu melampaui ketakutan itu. Dari sini kutarik sebuah kesimpulan bahwa kita tidak bisa menyebut orang yang mengalami ketakutan sebagai “kurang sembahyang”, sebab mungkin selama ini dia melakukan persembahyangan justru untuk menghalau ketakutan. Di masa kecil, mereka berhasil menghindari apa yang ditakutkan dengan melakukan sembahyang – orang tuanya tidak lagi memarahinya, sebab dia sudah sembahyang – Lalu bagaimana ketika mereka beranjak dewasa? Akan datang suatu masa di mana mereka sadar bahwa tidak semua ketakutan dapat sirna oleh persembahyangan. Semakin bertambah usia semakin banyak hal yang menakutkan baginya, semakin rajin dia sembahyang, dan akhirnya semakin merasa bahwa sembahyang tidak lagi ampuh seperti saat dirinya masih bocah.
Sialnya (mungkin sebenarnya tidak sial juga), manusia tidak terus-menerus di usia bocah. Sialnya lagi, sangat banyak pengajar agama mendoktrin murid-muridnya yang sudah usia dewasa, dengan spiritualitas level bocah. Ketakutan demi ketakutan selalu menjadi arus utama yang digembar-gemborkan di mimbar agama. Dengan pola yang semacam itu, orang-orang tidak akan menemukan ketenangan di dalamnya. Maka jangan heran, jika banyak yang memilih untuk berhenti menjalani ritual seperti yang diajarkan oleh guru agama.
Ngomong-ngomong soal guru agama, sepertinya guru agamaku cukup nyentrik. Dia mengatakan bahwa spiritual adalah gabungan dari spirit dan ritual. Ritual yang tidak didasari spirit yang benar, disebutnya sebagai “ritual yang salah”. Misalnya, ritual yang didasari keinginan untuk terlihat hebat, terlihat baik, atau pola-pola “si paling calon penghuni surga” lainnya. Ajarannya mengajak kami (muridnya) untuk tidak menilai orang lain, melainkan menilik ke dalam. “Selalu tanyakan pada dirimu ‘apa tujuanku melakukan ini?’” itulah yang dia katakan.
Kata-kata lanjutan darinya adalah “Ritual tanpa spirit, ataupun spirit tanpa ritual, sama-sama ngambang”, biar kutekankan lagi bahwa ini hanya boleh digunakan untuk mengukur diri. Tidak boleh digunakan untuk mengukur otang lain, sebab ritual terlalu luas untuk disempitkan menjadi sekadar “sembahyang” saja. Setidaknya ada empat aliran ritual yang disebutkan oleh guruku, diantaranya ada Sembahyang, Bekerja, Belajar dan Meditasi.
Tidak semua orang bersembahyang untuk Tuhan, begitu juga tidak semua orang bekerja untuk uang. Itulah yang dinamakan spirit, yakni sebuah landasan, alasan, semangat, idealisme, pengharusan diri atau gairah dalam melakukan sesuatu. Salah seorang kawanku mengulang wudhu, hanya karena ada orang yang melihatnya saat berwudhu. Menurutnya, sembahyangnya tidak boleh sampai terlihat oleh orang lain. Dia selalu mengunci kamarnya ketika sembahyang. Kawanku yang lain tidak suka diganggu saat makan. Dia lebih memilih untuk meletakkan makanannya dan melanjutkan makan setelah kondisinya aman tanpa gangguan, daripada makannya disela oleh kesibukan lainnya.
Kurasa kawanku itu akan setuju dengan yang berikut ini “Kalau kesibukan membuatmu tidak ada waktu untuk makan dengan tenang, berarti kesibukanmu sudah tidak manusiawi”
Biar kucoba mengulik lanjutan dari kata-kata itu….
Jika kesibukan membuatmu tidak ada waktu untuk melakukan ritual dengan tenang, berarti ada yang salah dengan kesibukanmu.
Jika sembahyang tidak dapat membuatmu merasa tenang, berarti ada yang salah dengan sembahyangmu. Mungkin spiritnya masih keliru atau justru sembahyang bukanlah ritual yang tepat untukmu.
Jika kau beranggapan bahwa sembahyang adalah ritual terbaik dan satu-satunya yang dapat membuat orang menjadi tenang, mungkin kau perlu belajar dari guruku.
@MHI
05.00 pm
26 Desember 2023
Komentar
Posting Komentar