Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Penyeleweng

Orang seleweng, apakah mereka penyebab berakhirnya peradaban? Atau mereka hanyalah penanda? Kita semua adalah penyeleweng yang handal namun mungkin tak menyadari atau berpura-pura lurus untuk mengingkari. Kita adalah pemberontak kecil yang tak mau terlihat memberontak agar hidup tetap aman dalam aliran. Sebagian pemberontak besar atau mungkin mereka yang hanya sekadar berani menunjukkan pemberontakannya menjadi orang yang kita kagumi, atau bahkan kita agung-agungkan. Aturan yang kita anut, apa benar membuat kita manut? Sebuah sentilan terasa di dalam hati ketika kita mulai mengajukan pertanyaan "apakah aku orang yang tunduk pada aturan?" Taat aturan sepertinya hanya sebuah kepura-puraan, kita hanya tak suka dipersalahkan, di belakang layar kita mengumpat, di luar pengawasan kita mulai melepas atribut ketaatan. Aturan apapun -bahkan yang kita buat sendiri- pasti pernah kita langgar baik sengaja maupun tidak. Mengapa kita melanggar? Apakah karena keteraturan itu mulai teras...

Kawan Satu Frekuensi

Seorang kawan datang padaku semalam, ia menginap di kamarku mungkin untuk bebarapa hari ke depan. Aku ingin mengajaknya bertemu dengan beberapa orang yang menurutku menginspirasiku, seperti juga ia yang selalu bisa diajak berbincang dari pagi hingga pagi lagi tentang topik-topik pengembangan diri. Aku menyebutnya sebagai “kawan satu frekuensi”, sebab ketika aku ingin belajar membuka pikiran ia hadir di depanku dengan kesiapan untuk menerima pemikiran baru. Cita-citaku, telah dicapai olehnya yang bahkan usianya lebih muda dariku. Rupanya benar yang dikatakan oleh Svami Vivekananda, bahwa pikiran satu dengan lainya dapat saja terkait, ketika kita membayangkan suatu keadaan, orang lain siap untuk membuatnya jadi kenyataan. Seminggu ini ia libur, sepertinya akan mengasyikkan bertukar pemikiran dengannya, sebab aku percaya bahwa pikiran yang dilempar bolak-balik akan menggetarkan ruang. Pemikiran baik, meskipun masih sebatas pemikiran, jika dilemparkan pada seseorang, kemudian seseoran...

Perbaikan Piranti

Kuharap bisa segera bertemu denganmu, namun jadwal keberangkatanku belum juga kutahu. Kau telah membelikanku tiket, namun kau titipkan entah pada siapa. Apa aku beli tiket sendiri saja? Rindu ini tak tertahankan lagi. Namun kau pasti tak mau bertemu denganku jika caraku seperti itu. Berapa kali kau mencoba menghubungiku? Maaf jika aku tak pernah menjawabnya, sebab piranti yang kini kugunakan belum mampu menyampaikan suaramu, tunggulah sebentar lagi sampai aku mengupgradenya. Biar kuperbaiki satu per satu kekurangannya. Koneksinya, daya tahannya, sensor-sensornya, agar saat kau menghubungiku lagi, kita bisa berbincang sepuas kita. Kemarin tanggal lima belas, rembulan melingkar penuh di langit. Kau pasti sangat sibuk, biasanya orang-orang mendatangi rumahmu setiap di tanggal itu. Aku masih bertanya-tanya, “benarkah itu rumahmu? Atau orang-orang hanya beranggapan bahwa di sana adalah rumahmu?” sebab aku juga pernah datang ke sana pada tanggal yang sama, bersama dengan mereka, na...

Badai Ringan

Angin bertiup kencang bersama gemuruh suara air yang menghujam atap, jalanan bahkan rumputan. "Badai ringan" aku memanggilnya, sebuah fenomena wajar yang disepelekan oleh orang-orang yang berada di dalam rumah, tentu saja..... dengan atap tanah giling yang dibakar (genteng kita menamainya), tanah itu disangga kayu kualitas premium, dinding-dinding kamar dari batako dan semen becak, bagaimana mungkin badai menjadi tak sepele? Tapi..... Kutengok keluar dengan mata separuh terbuka, Seorang kakek dengan mantel plastik lewat di depan rumah, seperti biasanya, ia membawa sepeda gerobak berisi ubi rebus. Berkeliling di pusat kota istimewa, menyusur Gejayan, berhenti di depan Toko Mirota. Kuingat lagi saat ia bercerita tentang anaknya, yang telah sarjana dan menikah, mendirikan keluarga kecil yang bahagia..... 'Bahagia?' Tanyaku dalam pikir..... . . . Jam 11 malam barulah ia pulang, itupun kalau rebusannya habis terjual. "Di mu...

Sampai kapan?

Tuhan ada di pihak kita? Lantas bagaimana dengan pihak yang lain? Mereka juga diciptakan oleh Tuhan yang sama bukan? Gobin lagi-lagi membuatku berpikir dan berkata "iya juga ya?" Kita selalu menganggap kesuksesan pihak kita sebagai keberuntungan, dan kesuksesan pihak lain sebagai hasil upaya. Mengapa kita begitu enggan mengapresiasi saudara sendiri? Mengapa kita selalu menganggap pihak luar lebih superior daripada kita? Kita merasa Eropa menjajah kita dari segi teknologi, namun kita tak pernah merasa menjajah mereka dari segi budaya. Kita memang mengagung-agungkan kemutakhiran kendaraan yang mereka ciptakan, tapi pedulikah kita bahwa mereka mengagungkan indahnya suara gamelan kita? Tarian kita? Nyanyian kita? Atau mungkin kita tidak tahu bahwa di sana banyak yang belajar budaya kita? Mungkin saja kita akan merasa terjajah lagi sebab sadar diri tak pernah memelajari budaya sendiri, atau mengutuk mereka sebagai pencuri, atau memaki anak-anak muda atas dasar kekecewaan pada...

Hidup itu hutang

Kata seorang kawan, bayi terlahir dengan tangan terkepal, di mana itu membuatnya menyimpulkan bahwa hidup adalah untuk mendapat (menggenggam). Jika kulihat lagi, semakin bertumbuh, bayi itu mulai membuka tangannya, jadi yang pertama harus dipelajari manusia adalah membuka telapak tangan sebelum belajar menggenggam. Ketika seorang mati, tangan jenazah diletakkan di dadanya dengan kondisi telapak yang terbuka, jika memang tangan menyimbolkan sesuatu, bukankah tangan terbuka berarti melepas? Kita terlahir mungkin membawa sebuah bekal, cita-cita, impian, atau justru hutang, yang mana ingin segera kita lunasi agar hidup tak hanya dipenuhi dengan pertanyaan "apa sebenarnya tujuan hidupku". Sayangnya, kita tak benar-benar tahu daftar hutang itu, sehingga kita tak segera membayarnya. Hidup hanyalah pinjaman, begitu pula dengan tubuh yang suatu saat harus kita kembalikan pada alam. Alam selalu punya celah untuk mengambil apa yang merupakan miliknya.

Yang mulia

Kau yang berhati mulia, terimakasih atas perhatianmu padaku. Kau selalu menasehatiku untuk mengamplas kekuranganku, menghaluskan bagian-bagian yang masih saja kasar meski telah kupoles dengan berbagai pernak-pernik. Kau yang ingin aku menjadi sosok sempurna, persis seperti yang ada dalam bayangan idealismemu. Pahat aku lagi amplas aku lagi kritisi aku lagi dan lagi, hingga kau tak ada lagi waktu untuk memperhatikan dirimu sendiri. Aku bersyukur memiliki kawan yang sangat perhatian bagai dirimu, tapi untung apakah dirimu jika nantinya aku menjadi ideal seperti yang kau mau? Pun jika aku sempurna, mungkin kau akan tetap sama saja. Kau sempurna apa adanya kawan, setidaknya mungkin itu yang ada dalam benakku, kau benar, kau baik, kau mulia, setidaknya untuk saat ini menurut sudut pandangmu, dan menurutku memang tak perlu aku mengajarimu ini dan itu. Aku tak akan menyarankan apapun jika kau tak meminta saran, selama kau tahu yang mana seharusnya dan yang tidak, itu saja sudah cu...

Amal Terbesar

Katamu, dosa paling besar adalah mencuri dan dosa lainnya hanyalah bentuk lain dari mencuri. Katamu, kau takkan berikan aku mencuri hatimu agar aku tak jadi pendosa besar. Kataku..... Amal terbesar adalah memberi, sebab dengan memberi, telah menghindarkanku dari mencuri. Berikan perhatianmu jika belum juga mampu kau berikan hatimu..... Berikanlah, sebelum aku menjadi pendosa besar. Sleman, 16 November 2018

Musim?

Hujan turun mengguyur kota istimewa. Hal yang selama ini dirindu-rindukan, distatus-statuskan "kapan hujan?" "Hujan turunlah!", telah mewujudkan dirinya setelah beberapa bulan awan memendung tanpa sebuah kepastian. Kini jalanan basah, pohonan segar kembali, kerinduan terobati. Apa yang terjadi berikutnya membuka topeng kita. Hujan turun tepat ketika kita sedang di jalan, seketika umpatan keluar dari bibir yang dulu mengucap rindu. Rindu mungkin memang hanya sebuah kata ketika jauh, setelah dekat kerinduan memudar. Orang yang mengaku rindu tak benar-benar ingin basah diguyurnya , meski juga enggan membawa payung ketika bepergian di bulan November. Sekejap saja waktu yang dibutuhkan manusia untuk mengubah rindu jadi benci, membalikkan kata-kata dengan mudahnya, membenarkan diri dengan menyebut kata tapi di pertengahan kalimatnya. "Aku suka hujan, tapi aku tak suka genangan", "aku suka hujan, tapi aku tak mau kebasahan", "ak...

Kopi enak itu selera

"Semua kopi itu enak, kita saja yang sok tahu" Mungkin bukan soal sok tahu, hanya soal selera dan kebiasaan. Beberapa orang suka minum kopi dengan gula, beberapa lainnya suka jika ditambahkan krimer, ada yang suka kopi pahit, bahkan ada yang suka mengunyah biji kopi. Apakah minum kopi pahit lebih nikmat daripada mengunyah biji kopi? Lagi-lagi..... Ini adalah masalah selera. Tak ada yang salah dan tak ada yang paling benar, meski lebih banyak yang menyepakati cara menikmati yang satu, bukan berarti mereka tidak setuju dengan cara menikmati yang lainnya. Berdasarkan j enis kopi, selera orang juga tentu tak akan sama. Kopi yang punya rasa asam membuat beberapa orang berkata "nikmat" sementara yang terbiasa dengan kopi pahit justru bilang "aneh", ia coba tambahkan gula, kemudian makin kecewa pada rasa asam yang makin pekat. Apa mereka tergolong orang sok tahu? Dari sudut a pa yang dinikmati, juga dapat kita bedakan. Ada yang menikmati pahitnya...

Detik

Kapan detik akan berhenti? Aku masih penasaran sampai kini, akankah berhenti atau ia abadi? Ia selalu menghitung, baik aku sedang rugi ataupun untung, entah dengan langkah yang terlalu pelan, cepat, atau seirama detak jantung. Mungkin banyak yang khawatir "bagaimana jika detik berakhir?", seperti yang semalam melintas dalam pikir saat aku hanya ditemani kopi secangkir. Ia tak pernah menunggu, meski ia juga tak pernah buru-buru. Ia selalu begitu, sejak dahulu sebelum zaman Ibu Bapakku. Yang pasti kutahu, ia bukan musuh, meski juga bukan kawanku. Detik dicipta oleh kita, makhluk yang menamai diri sebagai 'manusia'. Detik disepakati oleh koloni, yang lagi-lagi merupakan manusia itu sendiri. Detik dicinta dan dirindu, terutama yang telah berlalu. Detik didamba dan diharap, ketika ia belum dihadap. Setelah ia menimpa ia berlalu, setelah ia menyapa ia menjadi 'dulu'. Kuakui, aku rindu detik-detik saat aku merasakan dekap dan kasihMu, meski sebenarnya detik h...

Kepala Kristal

     Kuningan telah tiba, aku belum jua meminta maaf pada ia sang fasilitator kuliahku. Pembimbing yang juga punya andil dalam hidupku, spiritual dan religiusitasku. Lama tak berbincang dengannya, jujur saja aku merindukannya, namun ada satu yang mengganjalku untuk menemuinya, egoku..... Belum juga mampu untuk kutaklukkan.      Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku mampu meski di luar kendalinya. Aku ingin tunjukkan bahwa aku berjalan meski di luar pengawasannya. Ia memang peduli, mungkin terlalu peduli, hingga tak sadar bahwa aku tak menjadi makin bersemangat oleh gertakannya.      Aku merasa ia bagaikan ayahku, mungkin demikian pula ia merasa kepadaku. Namun, pantaskah jika itu dijadikan alasannya untuk membandingkanku dengan orang lain? Seolah aku tak memiliki prestasi apapun selama ini. Bahkan prestasi yang kudapatpun hanya jadi bahan olokannya.      Kami terpisah dalam jangka waktu lama, setiap dari kami m...