Angin bertiup kencang bersama gemuruh suara air yang menghujam atap, jalanan bahkan rumputan.
"Badai ringan" aku memanggilnya, sebuah fenomena wajar yang disepelekan oleh orang-orang yang berada di dalam rumah,
tentu saja.....
dengan atap tanah giling yang dibakar (genteng kita menamainya),
tanah itu disangga kayu kualitas premium,
dinding-dinding kamar dari batako dan semen becak,
bagaimana mungkin badai menjadi tak sepele?
Tapi.....
Kutengok keluar dengan mata separuh terbuka,
Seorang kakek dengan mantel plastik lewat di depan rumah,
seperti biasanya, ia membawa sepeda gerobak berisi ubi rebus.
Berkeliling di pusat kota istimewa,
menyusur Gejayan,
berhenti di depan Toko Mirota.
Kuingat lagi saat ia bercerita tentang anaknya,
yang telah sarjana dan menikah,
mendirikan keluarga kecil yang bahagia.....
'Bahagia?' Tanyaku dalam pikir.....
.
.
.
Jam 11 malam barulah ia pulang,
itupun kalau rebusannya habis terjual.
"Di musim hujan seperti ini, pembeli agak sepi" katanya.....
Mungkin seorang pemuda dengan sepeda gayung, yang kelaparan di tengah malam,
atau seorang di dalam mobil yang hanya keluar tangannya dari jendela.
Jika pun itu adalah anaknya, si Bapak tak akan pernah tahu.....
.
.
.
Ketulusan cinta yang selama ini indah di mata kita, mungkin tak indah jika kita perhatikan.
Ada manis-manisnya?
Pahitnya sudah jelas.....
Ada romantis-romantisnya?
Pedihnya sudah jelas.....
Tapi, bagi sang Bapak di bawah mantel plastik di tengah badai ringan,
hanya rasa bangga pada anaknya,
hanya rasa kasih,
hanya rasa sayang.....
5 Januari 2017
"Badai ringan" aku memanggilnya, sebuah fenomena wajar yang disepelekan oleh orang-orang yang berada di dalam rumah,
tentu saja.....
dengan atap tanah giling yang dibakar (genteng kita menamainya),
tanah itu disangga kayu kualitas premium,
dinding-dinding kamar dari batako dan semen becak,
bagaimana mungkin badai menjadi tak sepele?
Tapi.....
Kutengok keluar dengan mata separuh terbuka,
Seorang kakek dengan mantel plastik lewat di depan rumah,
seperti biasanya, ia membawa sepeda gerobak berisi ubi rebus.
Berkeliling di pusat kota istimewa,
menyusur Gejayan,
berhenti di depan Toko Mirota.
Kuingat lagi saat ia bercerita tentang anaknya,
yang telah sarjana dan menikah,
mendirikan keluarga kecil yang bahagia.....
'Bahagia?' Tanyaku dalam pikir.....
.
.
.
Jam 11 malam barulah ia pulang,
itupun kalau rebusannya habis terjual.
"Di musim hujan seperti ini, pembeli agak sepi" katanya.....
Mungkin seorang pemuda dengan sepeda gayung, yang kelaparan di tengah malam,
atau seorang di dalam mobil yang hanya keluar tangannya dari jendela.
Jika pun itu adalah anaknya, si Bapak tak akan pernah tahu.....
.
.
.
Ketulusan cinta yang selama ini indah di mata kita, mungkin tak indah jika kita perhatikan.
Ada manis-manisnya?
Pahitnya sudah jelas.....
Ada romantis-romantisnya?
Pedihnya sudah jelas.....
Tapi, bagi sang Bapak di bawah mantel plastik di tengah badai ringan,
hanya rasa bangga pada anaknya,
hanya rasa kasih,
hanya rasa sayang.....
5 Januari 2017
Komentar
Posting Komentar