Langsung ke konten utama

Sampai kapan?

Tuhan ada di pihak kita? Lantas bagaimana dengan pihak yang lain? Mereka juga diciptakan oleh Tuhan yang sama bukan?
Gobin lagi-lagi membuatku berpikir dan berkata "iya juga ya?"

Kita selalu menganggap kesuksesan pihak kita sebagai keberuntungan, dan kesuksesan pihak lain sebagai hasil upaya. Mengapa kita begitu enggan mengapresiasi saudara sendiri? Mengapa kita selalu menganggap pihak luar lebih superior daripada kita?

Kita merasa Eropa menjajah kita dari segi teknologi, namun kita tak pernah merasa menjajah mereka dari segi budaya. Kita memang mengagung-agungkan kemutakhiran kendaraan yang mereka ciptakan, tapi pedulikah kita bahwa mereka mengagungkan indahnya suara gamelan kita? Tarian kita? Nyanyian kita? Atau mungkin kita tidak tahu bahwa di sana banyak yang belajar budaya kita? Mungkin saja kita akan merasa terjajah lagi sebab sadar diri tak pernah memelajari budaya sendiri, atau mengutuk mereka sebagai pencuri, atau memaki anak-anak muda atas dasar kekecewaan pada yang terjadi di negeri ini, atau mengata-ngatai pemerintah sebagai faktor utama penyebab keterpurukan.

Kita sendiri telah menyumbang apa? Kita sendiri telah berbuat apa? Hal kecil saja. Atau mungkin lagi-lagi kita tak menyadari atau tak mau mengakui bahwa kita telah berbuat?

Dua hari lalu, tepatnya hari Minggu, saya berkumpul dengan beberapa juru gambar dan juru tulis cerita. Salah satu juru gambar yang merasa junior, menunjukkan gambar pada seniornya dengan berkata "biasanya saya buat hitam putih seperti ini" kemudian saat menunjukkan versi berwarna ia berkata "yang berwarna cuma seperti ini" yang langsung dijawab sedikit menghentak oleh seniornya "Ini bukan cuma! Tolonglah! Rendah hati bukan rendah diri, karyamu ini bagus!"

Kita mungkin juga sama, berharga namun tak merasa, berkarya namun tak menghargainya. Mau sampai kapan? Sampai kapan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...