Langsung ke konten utama

Kawan Satu Frekuensi

Seorang kawan datang padaku semalam, ia menginap di kamarku mungkin untuk bebarapa hari ke depan. Aku ingin mengajaknya bertemu dengan beberapa orang yang menurutku menginspirasiku, seperti juga ia yang selalu bisa diajak berbincang dari pagi hingga pagi lagi tentang topik-topik pengembangan diri. Aku menyebutnya sebagai “kawan satu frekuensi”, sebab ketika aku ingin belajar membuka pikiran ia hadir di depanku dengan kesiapan untuk menerima pemikiran baru. Cita-citaku, telah dicapai olehnya yang bahkan usianya lebih muda dariku. Rupanya benar yang dikatakan oleh Svami Vivekananda, bahwa pikiran satu dengan lainya dapat saja terkait, ketika kita membayangkan suatu keadaan, orang lain siap untuk membuatnya jadi kenyataan.

Seminggu ini ia libur, sepertinya akan mengasyikkan bertukar pemikiran dengannya, sebab aku percaya bahwa pikiran yang dilempar bolak-balik akan menggetarkan ruang. Pemikiran baik, meskipun masih sebatas pemikiran, jika dilemparkan pada seseorang, kemudian seseorang itu melemparkan balik, maka tempat itu akan menjadi lebih baik. Pemikiran buruk pun serupa itu, ia dapat memenuhi dan memerburuk seisi semesta jika seluruh manusia saling melemparkan pikiran buruk. Kawanku ini, meski ia juga memiliki pemikiran buruk selayaknya manusia pada umumnya, namun dia adalah jenis orang yang mudah diingatkan untuk kembali berpikir positif.

Kama adalah topik kami pagi ini, mulai dari nafsu, suka, sayang, cinta, kasih, semua itu adalah kama. “Cintakah aku pada Tuhan? Atau aku hanya cinta materi?” pertanyaannya pada diri sendiri yang ia perdengarkan padaku. Kuperdengarkan pula jawabanku yang sesungguhnya untuk diriku sendiri “sehingga saat berdoa aku masih meminta ini dan itu yang semuanya merupakan materi” kepadanya. Ia tertegun, ada beberapa gumam yang nampak bergeming di bibirnya. “Andai ku tak membuang dirimu, menjadikan yang ke dua atas cintaku” kami nyanyikan lagu milik Gigi yang entah mengapa rasanya lagu itu bukan lagi untuk manusia. “Ya, aku menduakan Tuhan, aku merasa lebih mencintai dunia. Tapi mengapa?” ia bertanya lagi, kujawab dengan “semua orang seperti itu” yang kini aku terpikir bahwa Nabi Muhammad ataupun Avatara Khrsna juga pasti pernah mengalami ketertarikan pada dunia, sebab itulah mereka menikah. Setiap orang memiliki masanya, dan setiap masa memiliki orangnya, begitulah kata orang bijak yang tak kuingat siapa.

Kawanku tertawa ketika kusebut kata kama dalam perbincangan kami, mungkin karena ia melihat sebuah judul “kama sastra” di tumpukan buku yang kutunjuk. Kama yang dulu juga kukira hanyalah seputar seks, rupanya memiliki cakupan yang jauh lebih luas dari yang selama ini kami kira. Cinta yang selama ini kupikir hanya bisa menghasilkan hal yang baik-baik saja juga rupanya bisa menimbulkan hal-hal yang menyimpang. Kebencian, berawal dari cinta, rasa cemburu berasal dari cinta, bahkan pencurian pun mesti karena cinta. Tak ada suatu kebencianpun di muka bumi ini yang tidak didasari oleh rasa cinta – itulah yang dikatakan guruku. Orang-orang membenci penjajahan, karena cinta akan kemerdekaan. Orang-orang membenci penebangan hutan, karena cinta kehijauan bumi. Orang benci pada orang lainnya, karena cinta pada dirinya sendiri. Masih banyak contoh lainnya yang takkan cukup dipaparkan dalam dua atau dua ratus paragraf lagi.

“Aku kira, cintaku selama ini hanyalah penerapan prinsip ekonomi. Hanya menghitung untung dan rugi.” Kata kawanku. Cinta yang seperti itu juga merupakan cinta meski mungkin ada break-even poin-nya, sebab kecintaan pada benda-benda pun juga merupakan cinta, walaupun bukan cinta dengan level tertinggi. Hal-hal yang dihasilkan oleh kama, jika diurutkan dari yang paling kotor sampai yang paling murni (sejauh perbincanganku dengan para pakar) akan menjadi sebagai berikut:

Nafsu – Suka – Sayang – Cinta – Kasih

Nafsu merupakan ketertarikan fisik yang dibatasi oleh kemampuan indra-indra kita menangkap sebuah objek, seperti hal timbulnya nafsu makan karena mengendus nikmatnya suatu aroma, sekadar itu pula nafsu yang muncul di benak laki-laki ketika melihat seorang perempuan yang baginya menggairahkan. Mengatakan bahwa seseorang dapat disetarakan dengan makanan mungkin terdengar kejam, namun begitulah yang terjadi. Nafsu adalah ketertarikan yang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat fisik.

Suka bisa jadi merupakan suatu pengembangan dari nafsu, jika nafsu telah pernah muncul dalam benak, suatu ketika bisa muncul lagi karena teringat akan kenangannya, ini bisa disebut dengan suka. Seorang yang pernah bernafsu untuk memakan mie instan dikarenakan aroma dan rasanya, suatu ketika menginginkannya lagi meskipun tidak sedang menghirup aroma atau merasakan mie instan tersebut, bisa dibilang bahwa orang ini telah menyukai mie instan itu. Rasa suka yang lainnya adalah ketika seorang hanya tertarik untuk memuaskan satu indranya, seperti hanya menikmati aroma tanpa harus mengecap rasa, atau melihat cantiknya paras tanpa harus menyentuh, juga yang medengarkan merdunya suara tanpa harus melihat rupa. Rasa suka yang satu ini mungkin saja sudah hilang nafsunya.

Sayang berada di atas suka, sebab kekuatannya lebih besar. Rasa sayang bisa menimbulkan kecemburuan, keinginan untuk dekat dan melindungi hal yang disayangi. Rasa sayang biasanya muncul pada sesuatu yang dimiliki, entah benda, peliharaan ataupun manusia, meskipun ada juga orang yang sayang pada sesuatu yang hanya “dirasa” merupakan miliknya, seperti fans pada artis yang digemarinya, bukankah ini adalah kepemilikan yang delusional?

Cinta merupakan yang paling sering dijadikan arti kata kama dalam Bahasa Indonesia, namun dalam Sanskrit dan konsep Hindu, kama merupakan sumber dari rasa cinta. Cinta dalam konteks tingkatan ini adalah rasa ingin memiliki sesuatu, ingin menjadi satu-satunya, perasaan puas ketika berada di dekat hal yang dicintai, menuntut pemberian dari yang dicintai, ingin selalu berdampingan dan segala jenis keposesifan. Sama dengan sayang yang dapat menimbulkan kecemburuan, cinta dapat menimbulkan kecemburuan yang lebih besar dampaknya. “Sakit hati” adalah kata yang paling sering diucapkan oleh pencinta yang tak mendapatkan apa yang ia maui. Cinta tak berbalas, diduakan oleh yang dicintai, harapan yang tak bersambut dan justru kandas, merupakan efek samping dari perasaan cinta.

Kasih merupakan yang tertinggi dari semua perasaan yang ditimbulkan oleh kama. Kasih seperti juga namanya, adalah sebuah perasaan ingin memberi, inilah yang mungkin menyebabkan timbulnya kata “cinta-kasih”. Orang yang terjangkit kasih, biasanya juga terjangkit cinta. Adakah orang yang terjangkit kasih yang murni seperti halnya surya yang menyinari dunia? Yang menyinari bunga yang indah maupun kotoran anjing di pinggir jalan? Tentunya ada dan aku percaya bahwa semua orang dapat mencapainya dengan berlatih. Orang-orang pada umumnya berlatih mengasihi bersama dengan kekasihnya, meski tak jarang yang hanya sampai di tingkatan cinta, namun ini sudah merupakan sebuah upaya.

Kembali ke kawanku, ia ingin mengasihi Tuhannya, dan semoga aku dapat merealisasikannya, sebab pikiran dapat terkait satu sama lain, dan ketika seorang telah membayangkannya pasti ada yang mampu mencapainya. Entah kapan, ayo mulai latihan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...