Langsung ke konten utama

Musim?


Hujan turun mengguyur kota istimewa. Hal yang selama ini dirindu-rindukan, distatus-statuskan "kapan hujan?" "Hujan turunlah!", telah mewujudkan dirinya setelah beberapa bulan awan memendung tanpa sebuah kepastian. Kini jalanan basah, pohonan segar kembali, kerinduan terobati.

Apa yang terjadi berikutnya membuka topeng kita. Hujan turun tepat ketika kita sedang di jalan, seketika umpatan keluar dari bibir yang dulu mengucap rindu. Rindu mungkin memang hanya sebuah kata ketika jauh, setelah dekat kerinduan memudar. Orang yang mengaku rindu tak benar-benar ingin basah diguyurnya, meski juga enggan membawa payung ketika bepergian di bulan November.
Sekejap saja waktu yang dibutuhkan manusia untuk mengubah rindu jadi benci, membalikkan kata-kata dengan mudahnya, membenarkan diri dengan menyebut kata tapi di pertengahan kalimatnya.

"Aku suka hujan, tapi aku tak suka genangan",

"aku suka hujan, tapi aku tak mau kebasahan",

"aku suka hujan, tapi yang gerimis saja",

"aku suka hujan, tapi hujan tak suka aku!" (-_-")

Lalu, demi apa semua kata rindu itu? Jika saja hujan punya perasaan, mungkin tahun depan ia tak akan turun lagi, atau ia akan membanjiri kita selama setahun penuh. 

Genangan mungkin membantu kita merindukan sinar mentari, sinar yang juga kita maki ketika sumber air mulai surut.
Sadar bahwa musim tak berperasaan, lalu mengapa memercayakan kebahagiaan kita kepadanya? Musim akan mengujani kita ketika kita menginginkan panas mentari, dan akan memanasi kita ketika kita merindukan hujan. Belum lagi angin, belum pula badai.

"Padahal seharusnya sudah musim hujan" kata seorang Bapak sambil membaca jadwal musim yang ia catat saat masih muda. "Pak, zaman telah berubah. Musim telah berganti dan tak akan sesuai dengan jadwal itu lagi" jawab seorang anaknya. Si Bapak menutup catatannya, menaruhnya di atas meja. Datang lagi seorang anaknya membawa sebuah bunga Desember "Pak, Kak lihatlah.....  Desember telah berbunga". Si Bapak tertawa sambil berkata "padahal masih belum bulan Desember, mungkin dia lupa jadwal" kemudian membuka kembali jadwal musimnya dan berkata "padahal seharusnya sudah musim hujan". Si Kakak menghela napas dan berbisik pada adiknya "entah sudah berapa kali Bapak mengulang kalimat itu", si Adik tersenyum kemudian menjawab pernyataan Bapaknya "Iya Pak, Ibu Bumi sudah tua, sudah mulai pikun, ia pasti lupa bahwa sekarang sudah waktunya mandi"

Kita juga lupa bahwa musim panen tiba setelah musim tanam dan rawat. Kita menebang, tanpa menanam dan merawat, kemudian tak sadar bahwa itulah penyebab hujan tak lagi turun sesuai jadwalnya. 

Menyalahkan musim adalah hal yang mudah, menjaga musim yang tak mudah, dan tak semua orang mau. Bersyukur pada musim, sepertinya bukanlah sebuah jalan, meskipun masih lebih baik daripada mengeluh.

Bapak pencatat jadwal musim duduk di teras rumahnya, berteman merahnya bunga Desember. Kedua anaknya telah pergi, pergi untuk kembali ke keluarga yang dibangunnya masing-masing. Si Bapak berkata pada bunga yang sedang mekar itu "semoga kelak musim bisa kembali" sambil menuangkan air ke dalam potnya. Ia mengeluh, namun juga rela berpeluh, menanam, berusaha merawat satu-satunya orang tua yang masih ia punya -Bumi-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...