Kapan detik akan berhenti? Aku masih penasaran sampai kini, akankah berhenti atau ia abadi? Ia selalu menghitung, baik aku sedang rugi ataupun untung, entah dengan langkah yang terlalu pelan, cepat, atau seirama detak jantung.
Mungkin banyak yang khawatir "bagaimana jika detik berakhir?", seperti yang semalam melintas dalam pikir saat aku hanya ditemani kopi secangkir.
Ia tak pernah menunggu, meski ia juga tak pernah buru-buru. Ia selalu begitu, sejak dahulu sebelum zaman Ibu Bapakku. Yang pasti kutahu, ia bukan musuh, meski juga bukan kawanku.
Detik dicipta oleh kita, makhluk yang menamai diri sebagai 'manusia'. Detik disepakati oleh koloni, yang lagi-lagi merupakan manusia itu sendiri. Detik dicinta dan dirindu, terutama yang telah berlalu. Detik didamba dan diharap, ketika ia belum dihadap. Setelah ia menimpa ia berlalu, setelah ia menyapa ia menjadi 'dulu'.
Kuakui, aku rindu detik-detik saat aku merasakan dekap dan kasihMu, meski sebenarnya detik hanyalah hal semu yang kami sepakati untuk mengukur waktu. Mungkin salahku merindukan detik itu, karena detik takkan pernah menjadi diriMu. Untuk apa juga kurindu saat yang telah berlalu, jika aku tahu bahwa Kau selalu ada dalam diriku, dan aku selalu ada dalamMu?
Komentar
Posting Komentar