Kuningan telah tiba, aku belum jua meminta maaf pada ia sang fasilitator kuliahku. Pembimbing yang juga punya andil dalam hidupku, spiritual dan religiusitasku. Lama tak berbincang dengannya, jujur saja aku merindukannya, namun ada satu yang mengganjalku untuk menemuinya, egoku..... Belum juga mampu untuk kutaklukkan.
Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku mampu meski di luar kendalinya. Aku ingin tunjukkan bahwa aku berjalan meski di luar pengawasannya.
Ia memang peduli, mungkin terlalu peduli, hingga tak sadar bahwa aku tak menjadi makin bersemangat oleh gertakannya.
Aku merasa ia bagaikan ayahku, mungkin demikian pula ia merasa kepadaku. Namun, pantaskah jika itu dijadikan alasannya untuk membandingkanku dengan orang lain? Seolah aku tak memiliki prestasi apapun selama ini. Bahkan prestasi yang kudapatpun hanya jadi bahan olokannya.
Kami terpisah dalam jangka waktu lama, setiap dari kami mungkin mengolah pikir selama itu, bertanya-tanya "apa kira-kira kurangku?"
Selama perang dingin kami berlangsung, mungkin tak ada hal yang membaik di hubungan kami, ia yang semakin bingung tentang diriku, pun aku yang semakin bingung dengan dunia ini.
"Lain zamannya, lain zamanku" aku juga tahu, namun ia hidup di zaman di mana aku lahir, bukan sebaliknya. Aku yang harus ke masa lalu, atau ia yang harus berada di masa kini?
Setiap dari kami harus mengerti satu sama lain untuk dapat berkolaborasi, aku memerlukan kecerdasan yang telah ia capai dari pengalamannya selama ini, ia memerlukanku untuk menuangkannya dalam karya yang dapat diterima oleh manusia masa kini.
Kekerasan kepala kami? Sama saja.....
Mungkin telah mengkristal, namun apakah harga pemikiran kami semahal itu? Atau lebih?
Tentu akan berharga ketika kami menuangkannya ke dalam karya.
11 November 2017
12:40 AM
Komentar
Posting Komentar