Langsung ke konten utama

Kepala Kristal

     Kuningan telah tiba, aku belum jua meminta maaf pada ia sang fasilitator kuliahku. Pembimbing yang juga punya andil dalam hidupku, spiritual dan religiusitasku. Lama tak berbincang dengannya, jujur saja aku merindukannya, namun ada satu yang mengganjalku untuk menemuinya, egoku..... Belum juga mampu untuk kutaklukkan.

     Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku mampu meski di luar kendalinya. Aku ingin tunjukkan bahwa aku berjalan meski di luar pengawasannya.
Ia memang peduli, mungkin terlalu peduli, hingga tak sadar bahwa aku tak menjadi makin bersemangat oleh gertakannya.

     Aku merasa ia bagaikan ayahku, mungkin demikian pula ia merasa kepadaku. Namun, pantaskah jika itu dijadikan alasannya untuk membandingkanku dengan orang lain? Seolah aku tak memiliki prestasi apapun selama ini. Bahkan prestasi yang kudapatpun hanya jadi bahan olokannya.

     Kami terpisah dalam jangka waktu lama, setiap dari kami mungkin mengolah pikir selama itu, bertanya-tanya "apa kira-kira kurangku?"

     Selama perang dingin kami berlangsung, mungkin tak ada hal yang membaik di hubungan kami, ia yang semakin bingung tentang diriku, pun aku yang semakin bingung dengan dunia ini.

     "Lain zamannya, lain zamanku" aku juga tahu, namun ia hidup di zaman di mana aku lahir, bukan sebaliknya. Aku yang harus ke masa lalu, atau ia yang harus berada di masa kini?

     Setiap dari kami harus mengerti satu sama lain untuk dapat berkolaborasi, aku memerlukan kecerdasan yang telah ia capai dari pengalamannya selama ini, ia memerlukanku untuk menuangkannya dalam karya yang dapat diterima oleh manusia masa kini.

     Kekerasan kepala kami? Sama saja..... 
Mungkin telah mengkristal, namun apakah harga pemikiran kami semahal itu? Atau lebih?
Tentu akan berharga ketika kami menuangkannya ke dalam karya.

11 November 2017
12:40 AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...