Kuharap bisa
segera bertemu denganmu, namun jadwal keberangkatanku belum juga kutahu. Kau
telah membelikanku tiket, namun kau titipkan entah pada siapa. Apa aku beli
tiket sendiri saja? Rindu ini tak tertahankan lagi. Namun kau pasti tak mau
bertemu denganku jika caraku seperti itu.
Berapa kali kau
mencoba menghubungiku? Maaf jika aku tak pernah menjawabnya, sebab piranti yang
kini kugunakan belum mampu menyampaikan suaramu, tunggulah sebentar lagi sampai
aku mengupgradenya. Biar kuperbaiki satu per satu kekurangannya. Koneksinya,
daya tahannya, sensor-sensornya, agar saat kau menghubungiku lagi, kita bisa
berbincang sepuas kita.
Kemarin tanggal
lima belas, rembulan melingkar penuh di langit. Kau pasti sangat sibuk,
biasanya orang-orang mendatangi rumahmu setiap di tanggal itu. Aku masih
bertanya-tanya, “benarkah itu rumahmu? Atau orang-orang hanya beranggapan bahwa
di sana adalah rumahmu?” sebab aku juga pernah datang ke sana pada tanggal yang
sama, bersama dengan mereka, namun tak kutemukan kau di situ. Lalu siapa yang
mereka temui setiap tanggal lima belas?
Masih kucoba
mengingat hari terakhir kita bertemu, meski tak dapat kuingat sesuatupun.
Rupamu, suaramu, tak terbayang sedikitpun, namun mengapa aku merasa rindu?
Apakah ini benar-benar kerinduan atau hanya rasa penasaran? Aku yakin betul
bahwa kita pernah bertemu, namun kapan? Di mana? Dalam keadaan apa? Perasaan
yang entah apa namanya ini kerap kali membuatku meneteskan air mata, terkadang
aku jengkel karenanya.
Piranti itu
satu-satunya harapanku, aku harus segera menuntaskan perbaikannya agar bisa
menerima panggilanmu. Piranti baru tak dapat membuatku yakin, jika mengambil
yang baru aku malah takut dirugikan olehnya, belum lagi pemesanan yang lama,
prosedur yang mungkin terlalu bertele-tele. Ah, sudahlah, biar kugunakan yang
ini saja. Kumohon kau bersabar, sebab saat ini jangankan menerima panggilanmu,
panggilan masuk pun tak terdengar olehku. Aku di sini juga akan bersabar
menunggu kurir pembawa tiket itu.
Komentar
Posting Komentar