Langsung ke konten utama

Perbaikan Piranti


Kuharap bisa segera bertemu denganmu, namun jadwal keberangkatanku belum juga kutahu. Kau telah membelikanku tiket, namun kau titipkan entah pada siapa. Apa aku beli tiket sendiri saja? Rindu ini tak tertahankan lagi. Namun kau pasti tak mau bertemu denganku jika caraku seperti itu.

Berapa kali kau mencoba menghubungiku? Maaf jika aku tak pernah menjawabnya, sebab piranti yang kini kugunakan belum mampu menyampaikan suaramu, tunggulah sebentar lagi sampai aku mengupgradenya. Biar kuperbaiki satu per satu kekurangannya. Koneksinya, daya tahannya, sensor-sensornya, agar saat kau menghubungiku lagi, kita bisa berbincang sepuas kita.

Kemarin tanggal lima belas, rembulan melingkar penuh di langit. Kau pasti sangat sibuk, biasanya orang-orang mendatangi rumahmu setiap di tanggal itu. Aku masih bertanya-tanya, “benarkah itu rumahmu? Atau orang-orang hanya beranggapan bahwa di sana adalah rumahmu?” sebab aku juga pernah datang ke sana pada tanggal yang sama, bersama dengan mereka, namun tak kutemukan kau di situ. Lalu siapa yang mereka temui setiap tanggal lima belas?

Masih kucoba mengingat hari terakhir kita bertemu, meski tak dapat kuingat sesuatupun. Rupamu, suaramu, tak terbayang sedikitpun, namun mengapa aku merasa rindu? Apakah ini benar-benar kerinduan atau hanya rasa penasaran? Aku yakin betul bahwa kita pernah bertemu, namun kapan? Di mana? Dalam keadaan apa? Perasaan yang entah apa namanya ini kerap kali membuatku meneteskan air mata, terkadang aku jengkel karenanya.

Piranti itu satu-satunya harapanku, aku harus segera menuntaskan perbaikannya agar bisa menerima panggilanmu. Piranti baru tak dapat membuatku yakin, jika mengambil yang baru aku malah takut dirugikan olehnya, belum lagi pemesanan yang lama, prosedur yang mungkin terlalu bertele-tele. Ah, sudahlah, biar kugunakan yang ini saja. Kumohon kau bersabar, sebab saat ini jangankan menerima panggilanmu, panggilan masuk pun tak terdengar olehku. Aku di sini juga akan bersabar menunggu kurir pembawa tiket itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...