Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Uang?

"Kalau menggambar tak menghasilkan uang, berhentilah menggambar" kata seseorang yang tak sengaja bertemu denganku di acara workshop komik kemarin. Uang? Apakah benar itu yang kuperlu? Egoku berontak, ada jawaban "setuju" di dalam diri, setuju terhadap omongan orang itu, setuju juga terhadap pertanyaanku mengenai perlu uang. "Tapi aku tak mau bekerja hanya untuk uang!" Muncul lagi satu pendapat. Robert berkata dalam bukunya "orang kaya tidak bekerja untuk uang, uang bekerja untuk mereka", di sana juga disebutkan bahwa punya banyak uang bukan berarti kaya, bisa juga budak yang dibayar tinggi. Bagaimana agar uang bekerja untuk manusia? Apa alasan bekerja selain uang? Tidak butuh uang, sama gilanya dengan cinta uang. Aku belum selesai dengan buku itu, belum juga paham betul akan konsep bekerja yang dimaksud oleh Robert. Aku juga belum selesai dengan pergumulanku terhadap pikiran dan egoku. Aku masih belum berani jika tanpa uang, a...

Tersenyumlah

Lakukan saja sambil tersenyum, meski kau sedang tak ingin tersenyum, atau kau tak ingin melakukan pekerjaan itu. Menunggu niat datang mungkin saja berakhir dengan kesia-siaan sebab rasa tak berniat bisa makin menjadi-jadi ketika kita hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kerjakan sesuatu di dalam penantianmu, nanti niat itu akan datang. Tersenyum juga begitu, ia bisa mengundang kebahagiaan untuk hadir. Banyak ide tak menjaminmu menyelesaikan sebuah karya. Niat memuncak juga tak menggaransikan, hanya tindakan yang paling menjamin jadinya karyamu, maka mulailah bertindak. Tindakan adalah sebagian dari doa, langkah adalah sebagian dari pencapaian, meningkat adalah sebagian dari puncak. Tempat terjauh hanya dapat dicapai setelah melalui dekat, tempat tertinggi harus memiliki dasar di kerendahan. Kau mungkin saja tak butuh ketinggian atau kejauhan, yang selama ini kau cari mungkin saja hanya sebuah semangat untuk tetap menjaga langkah, sebab dengan tetap melangkah kau takkan peduli sebe...

Tinggi-Rendah

Mengapa manusia suka membuat gedung tinggi, mendaki ke tempat yang tinggi, dan juga suka ditinggikan? Manusia bahkan mengaku sebagai makhuk yang derajatnya paling tinggi di antara semua ciptaan Tuhan. Apakah manusia memang istimewa seperti yang dituliskan dalam kitab suci? Atau itu semua karena kitab suci itu hanya diperuntukkan dirinya? Mungkin keistimewaan manusia adalah dalam kekosongannya, sebab anjing meskipun tidak diasuh oleh anjing tetap saja ketika dewasa akan menggonggong, kucing juga sudah pasti mengeong, cicak berdecak, namun manusia tidak demikian. Manusia harus meniru agar bisa sesuatu, manusia tak punya keaslian seperti halnya kucing dan anjing. Kucing tak perlu membaca buku atau berlatih berjalan agar nampak anggun. Anjing tak perlu mengikuti seminar atau kursus berbicara di depan pubik agar bisa berteman dengan manusia. Secara tidak sengaja, tanpa kehendak, kucing akan otomatis berjalan dengan cara yang anggun, begitu pula dengan kesetiaan anjing, ia tak memilih u...

Anak Baik

Seorang kawanku bekerja di luar negeri, mengirimkan uang ke keluarganya di kampung setiap bulannya. Kutemui dia di internet saat hari raya, ia bilang bahwa ia merayakan sendiri, kawan-kawannya telah pulang sebab kontrak telah habis, sementara anak baru belum datang. Seorang kawanku yang lainnya, tinggal di rumah bersama anak-istri dan kedua orang tuanya. Tawaran pekerjaan datang dari berbagai arah, kawan-kawan sepergaulannya saat di bangku kuliah tak jarang singgah sembari membawa kabar baik – kata mereka. Ia memilih menjadi seorang pengerajin, pekerjaan yang ia sebut sebagai sambilan. Pilihan yang ia ambil agar tetap bisa menjaga ibu dan ayahnya. Kedua kawanku ini kurasa sangat layak untuk dijadikan acuan, yang pertama rela bersusah di tanah orang, bertahun-tahun meredam rindu akan kampung halaman, menuai cemoohan kawan-kawan yang suka berkata “hidup di luar negeri, banyak uang, sampai lupa pulang!”. Dalam hati boleh saja ia mengumpat atau mengutuk orang-orang itu, namun yan...

Balas!

Lebih mudah untuk menulis dua ratus kata per hari daripada mengambar sebuah komik empat panel tanpa tulisan. Hal itu mungkin juga yang dirasakan oleh orang yang mengatakan bahwa satu gambar dapat mewakili juataan makna, cerita ataupun kata-kata. Satu menit saja sudah cukup untuk menuliskan lima puluh kata, sementara untuk menggambar mungkin memerlukan lima puluh menit bagiku untuk menyelesaikan satu panel saja, itupun masih belum berwarna. Keunggulan gambar, adalah dapat dipahami oleh siapa saja tanpa terbatas oleh bahasa, namun pengertiannya akan sangat bergantung pada keadaan emosional ketika melihatnya. Keunggulan tulisan adalah lebih sedikit persepsi dan akan terasa menyenangkan bagi mereka yang suka mengimajinasikan sendiri, namun mungkin sulit dimengerti oleh yang terbiasa dengan gaya bahasa berbeda, juga tak dapat dipahami oleh yang bahasanya berbeda. Tulisan ataupun gambar adalah sebuah karya, intinya si karyawan dapat mengekpresikan diri dan dapat menyampaikan suatu pesa...

NYA

Kekosongan bukanlah keadaan yang sepenuhnya kosong. Kamar kos yang belum disewa orang disebut kosong meskipun ada kasur dan lemari di dalamnya. Botol disebut kosong meskipun dipenuhi oleh udara. Omongan disebut kosong ketika yang bicara tidak bertindak sesuai omongannya, meskipun omongannya baik dan berisi. Tatapan disebut kosong ketika mata seseorang menatap ke suatu arah namun pikirannya terisi oleh hal lain, bukan suatu hal yang merupakan tempat mata itu sedang mengarah. “Sebelum proses penciptaan, hanya ada Tuhan” katamu, aku mencoba membayangkan, kemudian aku mengatakan apa yang ada dalam bayanganku “Gelap” yang kemudian kau jawab dengan “Benar, namun gelap belumlah ada sebab Ia belum menciptakan terang”. “Kosong?” jawabku yang kemudian kau balas dengan “Benar, Dia maha tiada dan maha ada. Berarti Ia ada di sana”. “Tak terbayangkan olehku” jawabku lagi, “Mungkin karena itulah ia juga disebut sebagai Tak Terpikirkan (Acintya)” katamu. Dia mencipta dari dirinya, merawat c...

Kopi Lagi

Kopi membantuku meningkatkan sensitivitas indra perasaku. Mencari rasa selain pahit di saat menyeruput kopi, membuat lidahku bisa menemukan rasa pahit dalam garam, atau rasa manis dalam cabai. Ada kopi yang memiliki rasa buah, ada yang terasa seperti madu ataupun gula aren, namun aku justru tak menemukan rasa itu ketika mencarinya, dan mereka datang saat aku hanya ingin minum kopi agar mata melek saja. Konsumsi garamku menurun semenjak aku menemukan rasa pahit di dalamnya. Dosis gula pasirku juga menurun drastis, namun makan nasi tetap banyak. Penggunaan bumbu dapur berkurang. Makan nasi-garam kadang terasa begitu nikmat dan istimewa. Semua berawal dari ngopi, hal yang sedang naik daun-naik daunnya saat ini. Aku bersyukur mengenal kopi sebelum mengenal Filosofinya, sama seperti mengenal naik gunung sebelum mengenal Lima Sentinya. Saat aku bertemu kopi asam yang dibagikan gratis pada perayaan hari kopi sedunia, aku tak pernah mengira bahwa ngopi tanpa gula akan menjadi kebiasaan ...

Biasa Saja

Mudah sekali mengingat mereka yang pintar, begitu mudah juga mengingat yang bodoh, bagaimana dengan yang biasa-biasa saja? Si biasa, apakah hanya berlalu begitu saja? Menjadi biasa mungkin membuat kita tak diingat, namun sepertinya kita memang tak perlu diingat. Demi diingat oleh kawan-kawanku, aku berusaha menjadi yang terbaik. Mulai dari mencoba berbaik hati, sampai menjadi jawara kelas, semua demi diingat, atau mungkin bisa disebut “ingin tenar”. Itu waktu SMK, waktu semua ingin terlihat perkasa, seperti nyanyian Nosstress. Masa SMK berlalu, aku tak lagi menjadi jawara sebab aku masuk ke dalam kelas yang benar, karena katanya “jika kau menjadi yang paling pintar dalam suatu ruangan, mungkin kau masuk ruangan yang salah”. Gelar jawara dimiliki oleh teman kelasku yang lainnya, ia pasti sangat tenar. Aku tak mau kalah tenar, namun aku tak begitu pintar. Bagaimana ini? Kemudian kuputuskan untuk bertingkah bodoh, sebab yang bodoh juga akan mudah diingat. Hidupku selama ini, apa...

Berguru

Segelas kopi malam ini mengantarkan mataku pada keadaan terbelalak hingga pukul dua belas malam. Keadaan ini pernah kubayangkan sebagai “keren”, tentunya sebelum aku mengalami hari-hari penuh tugas yang membuat tubuhku tak sempat diistirahatkan dan ia mulai protes dengan mengeluarkan darah dari hidungnya. Kini tidur awal dan bangun siang terasa bagai surga yang nyata, meski kata guruku seharusnya seorang siswa tidur terlambat dan bangun sebelum mentari memerahkan ufuk timur. “Ada berkah dalam menatap mentari terbit dan tenggelam, pun dengan menatap bulan purnama.” Kata Guruku. Aku selalu bertanya-tanya, berapa jam ia tidur dalam sehari? Cukup banyak orang yang menjadi siswanya, dan hampir semua ingin meneladani apa yang dilakukan olehnya, hanya saja keinginan sering kali berakhir kandas di hadapan kemalasan. Aku adalah salah seorang yang ingin mencoba menjalankan pola hidup sepertinya, dan seperti yang lainnya, aku belum sesukses Guruku. “Kau takkan suka jika telah mencapai sepert...

Tentang Dia

Mulailah membicarakan tentang apa yang orang lain inginkan, atau mulailah membuat mereka menginginkan sesuatu. Jangan bahas apa yang kau ingin, jangan bahas apa yang kau mau, pun kalau harus membahas apa yang kau mau, bahaslah dengan cara seolah-olah itu adalah ide mereka. Terlalu banyak sudah cerita tentang “aku”, mengapa tak coba bercerita tentang Dia? Dia lagi dan lagi-lagi Dia. Bicarakan hanya Dia, inginkan hanya Dia, tuju hanya Dia, hiduplah demi Dia. Dia yang kau mau, sebab itulah jangan bahas Dia sebagai maumu di depan orang-orang, tak semua dari mereka memaui Dia. Tiada sesuatupun di muka bumi yang dapat memenuhi kebutuhanmu akan Dia, tak ada sesuatupun yang dapat menggantikanNya. Sumber dari segala yang ada, bagaimana mungkin dapat diwakilkan oleh benda, atau manusia? Mabuk akan Dia mesti membuat kita merasa sangat cukup atas segalanya. Keinginan? Apa itu keinginan? Jika berhasil berada dalam sumber segalanya, apa lagi yang bisa kau inginkan? Kini yang menjadi masalah...

Adu Paradoks

Dulu kau menyuruhku untuk belajar, setelah aku pandai, aku tak ingin akan kepandaianku, begitu juga denganmu. Katamu aku harus berani, namun ketika aku mulai melawan sesuatu yang tak sesuai dengan idealismeku, kau menangis dan memintaku berhenti melawan. Dulu kau ajarkan aku untuk rajin makan sayur, dan ketika aku hanya makan sayur, kau bilang kau khawatir aku takkan bertumbuh dengan baik. Apakah hidup memang hanya sebuah paradoksikal? Seorang pengajar berkata “gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pun jika kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang! Begitulah kata Bung Karno”, setelah berkata sedemikian rupa ia bertanya “Apa cita-citamu?” dan kujawab dengan “Moksa” ia terkejut, memasang tampang tak setuju atau apalah itu yang jelas membuatku merasa bahwa ia menentangku dengan ekspresinya. Dia bilang bahwa aku tak paham pertanyaannya, menurutku, ia yang tak paham akan cita-citaku. Terlalu tinggikah kata moksa itu? Melampaui langit barang kali sehingga ia harus mengupay...

Karyawan

"Aku tak mau menjadi karyawan!" Kata anak muda itu sambil menggelengkan kepala. Bibirnya sedikit cibir, kemudian ia melanjutkan kata-katanya "bekerja untuk orang bukanlah gayaku. Aku akan mempekerjakan orang". Sepertinya ada bara di dalam dadanya, bara yang muncul akibat gesekan-gesekan dengan kerja. Seorang tua berkata "lihat dia, dia bekerja di perusahaan besar. Jadi karyawan sukses" kepada anaknya, yang entah berusaha membandingkan orang sukses tersebut dengan siapa. Si anak menghela napas dan memalingkan pandangannya, entah sudah ke berapa kali ia mendengar kata-kata itu dari orang tuanya. "Tujuan bekerja itu apa sih? Bukankah untuk menghasilkan uang?" Kata seorang pemuda yang telah berpenghasilan namun belum punya pekerjaan tetap. Kata aman, baginya hanya sebuah kesemuan "sebab pegawai pun masih bisa kena PHK" lanjutnya. "Mengapa batas ukur produktivitas harus uang?" Tanya seorang yang bercita-cita menjadi biksu. ...

Perlu Bergeser

Jam memukul di sembilan lima belas, aku menarik badanku yang sambungan tulang-tulangnya sudah seperti tak berpelumas. Suara menyerupai kentungan pun muncul dari sendi-sendi itu, mungkin karena terlalu lama kudiamkan di posisi duduk, atau karena akhir-akhir ini ada hujan dalam mimpiku, dan aku bermain di tengahnya yang membuat mimpiku jadi basah. Sendi-sendi itu padahal baru berumur dua puluh tahunan, mengapa usia pakainya begitu pendek? Pikiranku berkata bahwa ini masih pagi, sementara orang mulai berdatangan dan mengisi kursi kosong. Mereka membuka komputer jinjing dan mulai mengerjakan hal-hal yang entah apa. Persis sepertiku yang juga tak mereka tahu sedang mengerjakan apa. Mengerjakan sesuatu, bisakah disebut sebagai telah memiliki pekerjaan? Jika batas ukurnya adalah uang, tentu ini adalah pekerjaan dengan efisiensi dan efektivitas yang sangat rendah. Tubuhku merasa bahwa ini masih malam, meski jelas-jelas si kuping mendengar adzan subuh berkumandang beberapa jam yang lal...

Setoples Kata

Ada sebuah toples yang penuh terisi kata, lalu seorang gadis memasukkan tangan ke dalamnya, mengaduk-aduk dan mengambil sebuah untuk dibaca. Gadis itu membacanya namun tanpa suara, membiarkan orang-orang menunggu dalam rasa penasaran. Beberapa mulai bergunjing dan bertanya "mengapa ia tak membacakannya?". Gadis itu menundukkan kepala dan memejamkan kedua matanya. Tangan ia cakupkan di depan dada. Bergeming bibirnya, namun tak juga keluar suara. Menit berlalu, gadis itu mendekatiku, menyodorkan tangan mungilnya yang mengepal. Kutengadahkan kedua tanganku, ia jatuhkan kata itu di atasnya. Kini aku tahu mengapa ia tak bersuara. Kata yang ia ambil adalah "doa", dan untuk membaca doa memang tak harus bersuara. 4 Desember 2018 Masih di @Kopi Genk 03:26 am

Mengistimewa

Aku tumbuh sebagai orang yang merasa istimewa, diistimewakan di keluarga, istimewa di sekolah. Laki-laki sendiri dari empat bersaudara. Orang Bali satu-satunya dalam kelas. Muncul pertanyaan-pertanyaan atas rasa istimewa itu. Apa hanya aku yang merasa istimewa? Apakah salah merasa istimewa? Kata L, setiap orang pasti pernah merasa istimewa, namun itu bukanlah sebuah kesertamertaan yang membolehkanku merasa istimewa, sebab ketika semua orang merasa istimewa, itu artinya tak ada yang istimewa. Kita hanya merasa untuk menyamankan diri, mungkin juga karena bosan dalam rasa kesamarataan. Merasa istimewa, membuat kita memiliki harga lebih (setidaknya di mata kita sendiri). Keistimewaan semu itu menjadi bisnis bagi beberapa yang jeli melihat peluang. Secara tak langsung mereka meningkatkan perasaan istimewa yang kita punya. Apa yang kita bagikan tentang diri kita sendiri lebih banyak memikat minat orang-orang yang juga sama merasa istimewanya akan diri mereka sendiri. ...

Penyeleweng

Orang seleweng, apakah mereka penyebab berakhirnya peradaban? Atau mereka hanyalah penanda? Kita semua adalah penyeleweng yang handal namun mungkin tak menyadari atau berpura-pura lurus untuk mengingkari. Kita adalah pemberontak kecil yang tak mau terlihat memberontak agar hidup tetap aman dalam aliran. Sebagian pemberontak besar atau mungkin mereka yang hanya sekadar berani menunjukkan pemberontakannya menjadi orang yang kita kagumi, atau bahkan kita agung-agungkan. Aturan yang kita anut, apa benar membuat kita manut? Sebuah sentilan terasa di dalam hati ketika kita mulai mengajukan pertanyaan "apakah aku orang yang tunduk pada aturan?" Taat aturan sepertinya hanya sebuah kepura-puraan, kita hanya tak suka dipersalahkan, di belakang layar kita mengumpat, di luar pengawasan kita mulai melepas atribut ketaatan. Aturan apapun -bahkan yang kita buat sendiri- pasti pernah kita langgar baik sengaja maupun tidak. Mengapa kita melanggar? Apakah karena keteraturan itu mulai teras...

Kawan Satu Frekuensi

Seorang kawan datang padaku semalam, ia menginap di kamarku mungkin untuk bebarapa hari ke depan. Aku ingin mengajaknya bertemu dengan beberapa orang yang menurutku menginspirasiku, seperti juga ia yang selalu bisa diajak berbincang dari pagi hingga pagi lagi tentang topik-topik pengembangan diri. Aku menyebutnya sebagai “kawan satu frekuensi”, sebab ketika aku ingin belajar membuka pikiran ia hadir di depanku dengan kesiapan untuk menerima pemikiran baru. Cita-citaku, telah dicapai olehnya yang bahkan usianya lebih muda dariku. Rupanya benar yang dikatakan oleh Svami Vivekananda, bahwa pikiran satu dengan lainya dapat saja terkait, ketika kita membayangkan suatu keadaan, orang lain siap untuk membuatnya jadi kenyataan. Seminggu ini ia libur, sepertinya akan mengasyikkan bertukar pemikiran dengannya, sebab aku percaya bahwa pikiran yang dilempar bolak-balik akan menggetarkan ruang. Pemikiran baik, meskipun masih sebatas pemikiran, jika dilemparkan pada seseorang, kemudian seseoran...

Perbaikan Piranti

Kuharap bisa segera bertemu denganmu, namun jadwal keberangkatanku belum juga kutahu. Kau telah membelikanku tiket, namun kau titipkan entah pada siapa. Apa aku beli tiket sendiri saja? Rindu ini tak tertahankan lagi. Namun kau pasti tak mau bertemu denganku jika caraku seperti itu. Berapa kali kau mencoba menghubungiku? Maaf jika aku tak pernah menjawabnya, sebab piranti yang kini kugunakan belum mampu menyampaikan suaramu, tunggulah sebentar lagi sampai aku mengupgradenya. Biar kuperbaiki satu per satu kekurangannya. Koneksinya, daya tahannya, sensor-sensornya, agar saat kau menghubungiku lagi, kita bisa berbincang sepuas kita. Kemarin tanggal lima belas, rembulan melingkar penuh di langit. Kau pasti sangat sibuk, biasanya orang-orang mendatangi rumahmu setiap di tanggal itu. Aku masih bertanya-tanya, “benarkah itu rumahmu? Atau orang-orang hanya beranggapan bahwa di sana adalah rumahmu?” sebab aku juga pernah datang ke sana pada tanggal yang sama, bersama dengan mereka, na...

Badai Ringan

Angin bertiup kencang bersama gemuruh suara air yang menghujam atap, jalanan bahkan rumputan. "Badai ringan" aku memanggilnya, sebuah fenomena wajar yang disepelekan oleh orang-orang yang berada di dalam rumah, tentu saja..... dengan atap tanah giling yang dibakar (genteng kita menamainya), tanah itu disangga kayu kualitas premium, dinding-dinding kamar dari batako dan semen becak, bagaimana mungkin badai menjadi tak sepele? Tapi..... Kutengok keluar dengan mata separuh terbuka, Seorang kakek dengan mantel plastik lewat di depan rumah, seperti biasanya, ia membawa sepeda gerobak berisi ubi rebus. Berkeliling di pusat kota istimewa, menyusur Gejayan, berhenti di depan Toko Mirota. Kuingat lagi saat ia bercerita tentang anaknya, yang telah sarjana dan menikah, mendirikan keluarga kecil yang bahagia..... 'Bahagia?' Tanyaku dalam pikir..... . . . Jam 11 malam barulah ia pulang, itupun kalau rebusannya habis terjual. "Di mu...

Sampai kapan?

Tuhan ada di pihak kita? Lantas bagaimana dengan pihak yang lain? Mereka juga diciptakan oleh Tuhan yang sama bukan? Gobin lagi-lagi membuatku berpikir dan berkata "iya juga ya?" Kita selalu menganggap kesuksesan pihak kita sebagai keberuntungan, dan kesuksesan pihak lain sebagai hasil upaya. Mengapa kita begitu enggan mengapresiasi saudara sendiri? Mengapa kita selalu menganggap pihak luar lebih superior daripada kita? Kita merasa Eropa menjajah kita dari segi teknologi, namun kita tak pernah merasa menjajah mereka dari segi budaya. Kita memang mengagung-agungkan kemutakhiran kendaraan yang mereka ciptakan, tapi pedulikah kita bahwa mereka mengagungkan indahnya suara gamelan kita? Tarian kita? Nyanyian kita? Atau mungkin kita tidak tahu bahwa di sana banyak yang belajar budaya kita? Mungkin saja kita akan merasa terjajah lagi sebab sadar diri tak pernah memelajari budaya sendiri, atau mengutuk mereka sebagai pencuri, atau memaki anak-anak muda atas dasar kekecewaan pada...

Hidup itu hutang

Kata seorang kawan, bayi terlahir dengan tangan terkepal, di mana itu membuatnya menyimpulkan bahwa hidup adalah untuk mendapat (menggenggam). Jika kulihat lagi, semakin bertumbuh, bayi itu mulai membuka tangannya, jadi yang pertama harus dipelajari manusia adalah membuka telapak tangan sebelum belajar menggenggam. Ketika seorang mati, tangan jenazah diletakkan di dadanya dengan kondisi telapak yang terbuka, jika memang tangan menyimbolkan sesuatu, bukankah tangan terbuka berarti melepas? Kita terlahir mungkin membawa sebuah bekal, cita-cita, impian, atau justru hutang, yang mana ingin segera kita lunasi agar hidup tak hanya dipenuhi dengan pertanyaan "apa sebenarnya tujuan hidupku". Sayangnya, kita tak benar-benar tahu daftar hutang itu, sehingga kita tak segera membayarnya. Hidup hanyalah pinjaman, begitu pula dengan tubuh yang suatu saat harus kita kembalikan pada alam. Alam selalu punya celah untuk mengambil apa yang merupakan miliknya.

Yang mulia

Kau yang berhati mulia, terimakasih atas perhatianmu padaku. Kau selalu menasehatiku untuk mengamplas kekuranganku, menghaluskan bagian-bagian yang masih saja kasar meski telah kupoles dengan berbagai pernak-pernik. Kau yang ingin aku menjadi sosok sempurna, persis seperti yang ada dalam bayangan idealismemu. Pahat aku lagi amplas aku lagi kritisi aku lagi dan lagi, hingga kau tak ada lagi waktu untuk memperhatikan dirimu sendiri. Aku bersyukur memiliki kawan yang sangat perhatian bagai dirimu, tapi untung apakah dirimu jika nantinya aku menjadi ideal seperti yang kau mau? Pun jika aku sempurna, mungkin kau akan tetap sama saja. Kau sempurna apa adanya kawan, setidaknya mungkin itu yang ada dalam benakku, kau benar, kau baik, kau mulia, setidaknya untuk saat ini menurut sudut pandangmu, dan menurutku memang tak perlu aku mengajarimu ini dan itu. Aku tak akan menyarankan apapun jika kau tak meminta saran, selama kau tahu yang mana seharusnya dan yang tidak, itu saja sudah cu...

Amal Terbesar

Katamu, dosa paling besar adalah mencuri dan dosa lainnya hanyalah bentuk lain dari mencuri. Katamu, kau takkan berikan aku mencuri hatimu agar aku tak jadi pendosa besar. Kataku..... Amal terbesar adalah memberi, sebab dengan memberi, telah menghindarkanku dari mencuri. Berikan perhatianmu jika belum juga mampu kau berikan hatimu..... Berikanlah, sebelum aku menjadi pendosa besar. Sleman, 16 November 2018

Musim?

Hujan turun mengguyur kota istimewa. Hal yang selama ini dirindu-rindukan, distatus-statuskan "kapan hujan?" "Hujan turunlah!", telah mewujudkan dirinya setelah beberapa bulan awan memendung tanpa sebuah kepastian. Kini jalanan basah, pohonan segar kembali, kerinduan terobati. Apa yang terjadi berikutnya membuka topeng kita. Hujan turun tepat ketika kita sedang di jalan, seketika umpatan keluar dari bibir yang dulu mengucap rindu. Rindu mungkin memang hanya sebuah kata ketika jauh, setelah dekat kerinduan memudar. Orang yang mengaku rindu tak benar-benar ingin basah diguyurnya , meski juga enggan membawa payung ketika bepergian di bulan November. Sekejap saja waktu yang dibutuhkan manusia untuk mengubah rindu jadi benci, membalikkan kata-kata dengan mudahnya, membenarkan diri dengan menyebut kata tapi di pertengahan kalimatnya. "Aku suka hujan, tapi aku tak suka genangan", "aku suka hujan, tapi aku tak mau kebasahan", "ak...

Kopi enak itu selera

"Semua kopi itu enak, kita saja yang sok tahu" Mungkin bukan soal sok tahu, hanya soal selera dan kebiasaan. Beberapa orang suka minum kopi dengan gula, beberapa lainnya suka jika ditambahkan krimer, ada yang suka kopi pahit, bahkan ada yang suka mengunyah biji kopi. Apakah minum kopi pahit lebih nikmat daripada mengunyah biji kopi? Lagi-lagi..... Ini adalah masalah selera. Tak ada yang salah dan tak ada yang paling benar, meski lebih banyak yang menyepakati cara menikmati yang satu, bukan berarti mereka tidak setuju dengan cara menikmati yang lainnya. Berdasarkan j enis kopi, selera orang juga tentu tak akan sama. Kopi yang punya rasa asam membuat beberapa orang berkata "nikmat" sementara yang terbiasa dengan kopi pahit justru bilang "aneh", ia coba tambahkan gula, kemudian makin kecewa pada rasa asam yang makin pekat. Apa mereka tergolong orang sok tahu? Dari sudut a pa yang dinikmati, juga dapat kita bedakan. Ada yang menikmati pahitnya...

Detik

Kapan detik akan berhenti? Aku masih penasaran sampai kini, akankah berhenti atau ia abadi? Ia selalu menghitung, baik aku sedang rugi ataupun untung, entah dengan langkah yang terlalu pelan, cepat, atau seirama detak jantung. Mungkin banyak yang khawatir "bagaimana jika detik berakhir?", seperti yang semalam melintas dalam pikir saat aku hanya ditemani kopi secangkir. Ia tak pernah menunggu, meski ia juga tak pernah buru-buru. Ia selalu begitu, sejak dahulu sebelum zaman Ibu Bapakku. Yang pasti kutahu, ia bukan musuh, meski juga bukan kawanku. Detik dicipta oleh kita, makhluk yang menamai diri sebagai 'manusia'. Detik disepakati oleh koloni, yang lagi-lagi merupakan manusia itu sendiri. Detik dicinta dan dirindu, terutama yang telah berlalu. Detik didamba dan diharap, ketika ia belum dihadap. Setelah ia menimpa ia berlalu, setelah ia menyapa ia menjadi 'dulu'. Kuakui, aku rindu detik-detik saat aku merasakan dekap dan kasihMu, meski sebenarnya detik h...