Langsung ke konten utama

Uang?

"Kalau menggambar tak menghasilkan uang, berhentilah menggambar" kata seseorang yang tak sengaja bertemu denganku di acara workshop komik kemarin. Uang? Apakah benar itu yang kuperlu? Egoku berontak, ada jawaban "setuju" di dalam diri, setuju terhadap omongan orang itu, setuju juga terhadap pertanyaanku mengenai perlu uang. "Tapi aku tak mau bekerja hanya untuk uang!" Muncul lagi satu pendapat. Robert berkata dalam bukunya "orang kaya tidak bekerja untuk uang, uang bekerja untuk mereka", di sana juga disebutkan bahwa punya banyak uang bukan berarti kaya, bisa juga budak yang dibayar tinggi.

Bagaimana agar uang bekerja untuk manusia?
Apa alasan bekerja selain uang?
Tidak butuh uang, sama gilanya dengan cinta uang.

Aku belum selesai dengan buku itu, belum juga paham betul akan konsep bekerja yang dimaksud oleh Robert. Aku juga belum selesai dengan pergumulanku terhadap pikiran dan egoku. Aku masih belum berani jika tanpa uang, aku masih belum mengurangi daftar keinginanku.

Apa yang sebenarnya paling kubutuhkan hingga aku tetap berkarya?
Apa yang paling mendasari karya-karya manusia dari masa ke masa? 

Jika dalam sehari hanya butuh makan tiga kali, satu set pakaian, tidur di tempat teduh, lantas mengapa aku masih khawatir?
Uang tak memberikan rasa aman, orang beruang justru takut jika uangnya habis atau berkurang.

Apa benar uang yang kita tuju dalam setiap karya?
Belajar lagi, sebab hidup tak senaif itu. Aku merasa dipermainkan (lagi) oleh hidup, jaminan rasa aman bukanlah jaminan dalam alur yang tak menentu, meski juga manusia menentukan sendiri alur cerita hidupnya.

Tujuan berkarya, keinginan, kebutuhan, emosi, pikiran, rasa takut, berputar-putar di kepalaku membentuk sebuah komedi, yang tak lucu sama sekali.
29 Desember 2018
1:16 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...