Langsung ke konten utama

NYA

Kekosongan bukanlah keadaan yang sepenuhnya kosong. Kamar kos yang belum disewa orang disebut kosong meskipun ada kasur dan lemari di dalamnya. Botol disebut kosong meskipun dipenuhi oleh udara. Omongan disebut kosong ketika yang bicara tidak bertindak sesuai omongannya, meskipun omongannya baik dan berisi. Tatapan disebut kosong ketika mata seseorang menatap ke suatu arah namun pikirannya terisi oleh hal lain, bukan suatu hal yang merupakan tempat mata itu sedang mengarah.

“Sebelum proses penciptaan, hanya ada Tuhan” katamu, aku mencoba membayangkan, kemudian aku mengatakan apa yang ada dalam bayanganku “Gelap” yang kemudian kau jawab dengan “Benar, namun gelap belumlah ada sebab Ia belum menciptakan terang”. “Kosong?” jawabku yang kemudian kau balas dengan “Benar, Dia maha tiada dan maha ada. Berarti Ia ada di sana”. “Tak terbayangkan olehku” jawabku lagi, “Mungkin karena itulah ia juga disebut sebagai Tak Terpikirkan (Acintya)” katamu.

Dia mencipta dari dirinya, merawat ciptaannya, kemudian menarik segalanya, meleburnya sebelum proses penciptaan kembali. Berdasarkan konsep ini, berarti tak pernah ada penambahan sesuatu apapun, tak pernah ada pengurangan apapun, semuanya hanya berubah bentuk, semuanya hanya berputar di situ-situ saja. Menciptakan dari dirinya, ciptaan merupakan bagian darinya. Ia dan ciptaannya adalah satu, ciptaannya adalah dirinya sendiri. Hal baik adalah darinya, hal buruk juga darinya, namun baik-buruk itu hanya karena pikiran kita, meskipun pikiran juga berasal darinya.

Aku ingin kembali padanya, namun rupanya itu takkan pernah bisa kucapai, sebab aku sudah berada pada dirinya. Segalanya ada padanya, dan ia ada pada segalanya. “Hey, gunakan  n kapital saat menulis ‘nya’” kata seorang yang hormat padanya. Apakah aku perlu menulis hanya dengan huruf kapital sebab segalanya adalah dia?

12 12 18
@KMHD UNY
02:26 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...