Kekosongan bukanlah keadaan yang
sepenuhnya kosong. Kamar kos yang belum disewa orang disebut kosong meskipun
ada kasur dan lemari di dalamnya. Botol disebut kosong meskipun dipenuhi oleh
udara. Omongan disebut kosong ketika yang bicara tidak bertindak sesuai
omongannya, meskipun omongannya baik dan berisi. Tatapan disebut kosong ketika
mata seseorang menatap ke suatu arah namun pikirannya terisi oleh hal lain,
bukan suatu hal yang merupakan tempat mata itu sedang mengarah.
“Sebelum proses
penciptaan, hanya ada Tuhan” katamu, aku mencoba membayangkan, kemudian aku
mengatakan apa yang ada dalam bayanganku “Gelap” yang kemudian kau jawab dengan
“Benar, namun gelap belumlah ada sebab Ia belum menciptakan terang”. “Kosong?”
jawabku yang kemudian kau balas dengan “Benar, Dia maha tiada dan maha ada.
Berarti Ia ada di sana”. “Tak terbayangkan olehku” jawabku lagi, “Mungkin
karena itulah ia juga disebut sebagai Tak Terpikirkan (Acintya)” katamu.
Dia mencipta dari
dirinya, merawat ciptaannya, kemudian menarik segalanya, meleburnya sebelum
proses penciptaan kembali. Berdasarkan konsep ini, berarti tak pernah ada
penambahan sesuatu apapun, tak pernah ada pengurangan apapun, semuanya hanya
berubah bentuk, semuanya hanya berputar di situ-situ saja. Menciptakan dari
dirinya, ciptaan merupakan bagian darinya. Ia dan ciptaannya adalah satu,
ciptaannya adalah dirinya sendiri. Hal baik adalah darinya, hal buruk juga
darinya, namun baik-buruk itu hanya karena pikiran kita, meskipun pikiran juga
berasal darinya.
Aku ingin
kembali padanya, namun rupanya itu takkan pernah bisa kucapai, sebab aku sudah
berada pada dirinya. Segalanya ada padanya, dan ia ada pada segalanya. “Hey, gunakan n kapital saat menulis ‘nya’” kata seorang
yang hormat padanya. Apakah aku perlu menulis hanya dengan huruf kapital sebab segalanya
adalah dia?
12 12 18
@KMHD UNY
02:26 PM
Komentar
Posting Komentar