Mudah sekali mengingat mereka
yang pintar, begitu mudah juga mengingat yang bodoh, bagaimana dengan yang
biasa-biasa saja? Si biasa, apakah hanya berlalu begitu saja? Menjadi biasa
mungkin membuat kita tak diingat, namun sepertinya kita memang tak perlu
diingat.
Demi diingat
oleh kawan-kawanku, aku berusaha menjadi yang terbaik. Mulai dari mencoba
berbaik hati, sampai menjadi jawara kelas, semua demi diingat, atau mungkin
bisa disebut “ingin tenar”. Itu waktu SMK, waktu semua ingin terlihat perkasa,
seperti nyanyian Nosstress.
Masa SMK
berlalu, aku tak lagi menjadi jawara sebab aku masuk ke dalam kelas yang benar,
karena katanya “jika kau menjadi yang paling pintar dalam suatu ruangan,
mungkin kau masuk ruangan yang salah”. Gelar jawara dimiliki oleh teman kelasku
yang lainnya, ia pasti sangat tenar. Aku tak mau kalah tenar, namun aku tak
begitu pintar. Bagaimana ini? Kemudian kuputuskan untuk bertingkah bodoh, sebab
yang bodoh juga akan mudah diingat.
Hidupku selama
ini, apakah hanya sebuah proses pencarian perhatian? Begitu butuhkah diri ini
akan sebuah apresiasi hingga aku rela membodoh-bodohkan diri? Mungkin aku hanya
berpura-pura bodoh untuk membodohi mereka yang cukup bodoh dan ikut dalam
permainan bodoh ini, lalu mereka tertawa. Lalu apa? Mencari jati diri bukanlah
proses pengobralan harga diri. Aku belum benar-benar mencoba berkarya dengan
hati, dan justru hanya menjadi pengemis apresiasi.
“Kamu tahu? Yang
paling hancur dari rentang paling bagus sampai paling jelek adalah yang
biasa-biasa saja” kata seorang yang baru aku kenal di sebuah pelatihan, ia
berkomentar demikian setelah melihat karyaku. Apakah ia memuji karyaku sebagai “lumayan
bagus” karena tidak masuk kategori “paling jelek”? Atau dia ingin mengatakan
bahwa karyaku adalah karya paling hancur yang pernah ia temui karena hanya “biasa-biasa
saja”? Aku jengkel padanya karena bagiku ia menghina karyaku, tapi aku juga
suka dengan pendapatnya sebab yang ia katakan sesuai dengan perasaanku,
setidaknya dia tidak palsu.
Gobin juga
mengatakan hal yang serupa tentang komentar, menurut percobaan yang ia lakukan
terhadap nasi, hasilnya adalah “yang paling buruk antara dipuji sampai dicaci,
adalah yang tidak dihiraukan”.
Krisis
apresiasi mungkin pernah dialami oleh setiap anak muda, namun krisis sanjungan
adalah hal yang berbeda. Sepertinya itu disebabkan oleh kurangnya rasa syukur dan
percaya diri. Selalu ingin mendapat seperti yang orang lain dapat, atau ingin
melampaui pencapaian orang lain, membuat kita begitu sensitif dengan kata “sama”.
Ingin sama atau tak mau dianggap sama, memiliki efek yang sejenis.
Pertanyaanku
kali ini,
Bisakah kita
menerima diri sebagai yang biasa saja?
Bisakah
mengapresiasi setulus hati, bukan karena ingin dibalas dengan puji?
Bisakah tetap
berkarya demi memberi manfaat, meskipun hanya pada diri sendiri?
Sebab menjadi
biasa mungkin perkara mudah,
namun untuk menerima
keadaan biasa itu, kita harus menjadi sederhana,
dan menjadi sederhana,
bukan perkara mudah.
09 Desember
2018
@Kost Santren
08:14 PM
Aku diingat teman² dan guruku, dan kemungkinan orang-orang yang berjumpa denganku. Siapapun. Dan mereka melihat kesederhanaan yang aku tampilkan. Apakah orang akan selalu diingat bila sudah diapresiasi? Tidak juga. Apresiasi hanya sebagai formalitas saja sekarang. Aku memuji kamu bukan karena aku suka kamu. Jangan terlalu baper dengan apresiasi. Biasa saja. Apresiasi akan membuatmu sombong.
BalasHapusKemudian kita perlu membeli helm atau topi dengan ukuran ekstra, sebab kepala kita mulai besar. :D
Hapus