Langsung ke konten utama

Biasa Saja


Mudah sekali mengingat mereka yang pintar, begitu mudah juga mengingat yang bodoh, bagaimana dengan yang biasa-biasa saja? Si biasa, apakah hanya berlalu begitu saja? Menjadi biasa mungkin membuat kita tak diingat, namun sepertinya kita memang tak perlu diingat.
Demi diingat oleh kawan-kawanku, aku berusaha menjadi yang terbaik. Mulai dari mencoba berbaik hati, sampai menjadi jawara kelas, semua demi diingat, atau mungkin bisa disebut “ingin tenar”. Itu waktu SMK, waktu semua ingin terlihat perkasa, seperti nyanyian Nosstress.
Masa SMK berlalu, aku tak lagi menjadi jawara sebab aku masuk ke dalam kelas yang benar, karena katanya “jika kau menjadi yang paling pintar dalam suatu ruangan, mungkin kau masuk ruangan yang salah”. Gelar jawara dimiliki oleh teman kelasku yang lainnya, ia pasti sangat tenar. Aku tak mau kalah tenar, namun aku tak begitu pintar. Bagaimana ini? Kemudian kuputuskan untuk bertingkah bodoh, sebab yang bodoh juga akan mudah diingat.
Hidupku selama ini, apakah hanya sebuah proses pencarian perhatian? Begitu butuhkah diri ini akan sebuah apresiasi hingga aku rela membodoh-bodohkan diri? Mungkin aku hanya berpura-pura bodoh untuk membodohi mereka yang cukup bodoh dan ikut dalam permainan bodoh ini, lalu mereka tertawa. Lalu apa? Mencari jati diri bukanlah proses pengobralan harga diri. Aku belum benar-benar mencoba berkarya dengan hati, dan justru hanya menjadi pengemis apresiasi.
“Kamu tahu? Yang paling hancur dari rentang paling bagus sampai paling jelek adalah yang biasa-biasa saja” kata seorang yang baru aku kenal di sebuah pelatihan, ia berkomentar demikian setelah melihat karyaku. Apakah ia memuji karyaku sebagai “lumayan bagus” karena tidak masuk kategori “paling jelek”? Atau dia ingin mengatakan bahwa karyaku adalah karya paling hancur yang pernah ia temui karena hanya “biasa-biasa saja”? Aku jengkel padanya karena bagiku ia menghina karyaku, tapi aku juga suka dengan pendapatnya sebab yang ia katakan sesuai dengan perasaanku, setidaknya dia tidak palsu.
Gobin juga mengatakan hal yang serupa tentang komentar, menurut percobaan yang ia lakukan terhadap nasi, hasilnya adalah “yang paling buruk antara dipuji sampai dicaci, adalah yang tidak dihiraukan”.
Krisis apresiasi mungkin pernah dialami oleh setiap anak muda, namun krisis sanjungan adalah hal yang berbeda. Sepertinya itu disebabkan oleh kurangnya rasa syukur dan percaya diri. Selalu ingin mendapat seperti yang orang lain dapat, atau ingin melampaui pencapaian orang lain, membuat kita begitu sensitif dengan kata “sama”. Ingin sama atau tak mau dianggap sama, memiliki efek yang sejenis.
Pertanyaanku kali ini,
Bisakah kita menerima diri sebagai yang biasa saja?
Bisakah mengapresiasi setulus hati, bukan karena ingin dibalas dengan puji?
Bisakah tetap berkarya demi memberi manfaat, meskipun hanya pada diri sendiri?

Sebab menjadi biasa mungkin perkara mudah,
namun untuk menerima keadaan biasa itu, kita harus menjadi sederhana,
dan menjadi sederhana, bukan perkara mudah.

09 Desember 2018
@Kost Santren
08:14 PM

Komentar

  1. Aku diingat teman² dan guruku, dan kemungkinan orang-orang yang berjumpa denganku. Siapapun. Dan mereka melihat kesederhanaan yang aku tampilkan. Apakah orang akan selalu diingat bila sudah diapresiasi? Tidak juga. Apresiasi hanya sebagai formalitas saja sekarang. Aku memuji kamu bukan karena aku suka kamu. Jangan terlalu baper dengan apresiasi. Biasa saja. Apresiasi akan membuatmu sombong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemudian kita perlu membeli helm atau topi dengan ukuran ekstra, sebab kepala kita mulai besar. :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...