Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...
Beberapa hari lalu dalam sebuah tongkrongan, seorang kawan nyeletuk begini “Suami itu biasanya sepulang kerja pengin disambut dengan senyuman oleh istrinya. Tapi dianya sendiri datang dengan wajah cemberut. Tunjukkanlah senyuman tulusmu, supaya istrimu senyum juga!” yang membuat penongkrong lainnya terdiam. Dalam diamku, aku berpikir “apakah aku sudah seperti itu? Apakah aku selalu masuk rumah dengan senyuman?”. Kurasa hadirin lainnya juga memikirkan hal yang serupa. Aku sangat bersyukur karena tidak ada yang menyampaikan “kalimat basi” dalam forum itu. Kalimatnya semacam “tapi kan capek sehabis kerja”. Kata-kata yang sangat sering kudengar digunakan sebagai tameng pembenaran atas perilaku suami yang bermuka cemberut setiap kali pulang kerja. Seolah-olah orang yang “hanya di rumah” tidak bisa merasa lelah. Padahal pekerjaan rumah tidak pernah telah. Tumbuh besar dalam asuhan Ibu Rumah Tangga murni – yang tidak bekerja cari cuan – membuatku sadar sejak dini, bahwa pekerjaan rumah ...