Langsung ke konten utama

Postingan

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...
Postingan terbaru

Kalimat Basi

Beberapa hari lalu dalam sebuah tongkrongan, seorang kawan nyeletuk begini “Suami itu biasanya sepulang kerja pengin disambut dengan senyuman oleh istrinya. Tapi dianya sendiri datang dengan wajah cemberut. Tunjukkanlah senyuman tulusmu, supaya istrimu senyum juga!” yang membuat penongkrong lainnya terdiam. Dalam diamku, aku berpikir “apakah aku sudah seperti itu? Apakah aku selalu masuk rumah dengan senyuman?”. Kurasa hadirin lainnya juga memikirkan hal yang serupa. Aku sangat bersyukur karena tidak ada yang menyampaikan “kalimat basi” dalam forum itu. Kalimatnya semacam “tapi kan capek sehabis kerja”. Kata-kata yang sangat sering kudengar digunakan sebagai tameng pembenaran atas perilaku suami yang bermuka cemberut setiap kali pulang kerja. Seolah-olah orang yang “hanya di rumah” tidak bisa merasa lelah. Padahal pekerjaan rumah tidak pernah telah. Tumbuh besar dalam asuhan Ibu Rumah Tangga murni – yang tidak bekerja cari cuan – membuatku sadar sejak dini, bahwa pekerjaan rumah ...

Senjata

Semalam, seorang kawan bertanya kepadaku setelah beberapa hari melihat unggahanku di media sosial. Pertanyaannya hanyalah sebuah basa-basi yang tiba-tiba “gimana?” berlanjut dengan pernyataan tentangku yang menurut dia “akhir-akhir sangat galak”. Akupun jadi terpikir-pikir “sejak kapan aku tidak terkesan galak?” Sepertinya di lingkarku sebelum-sebelumnya, aku selalu dicap sebagai “paling frontal”. Di beberapa komunitas yang kuikuti, aku bahkan sangat suka menggunakan istilah “tarung bebas” untuk menegaskan bahwa tidak ada senior-junior dalam jajak pendapat ataupun lelucon. Pembina komunitas sekalipun, ketika dia sudah berani melakukan sindiran di depanku, ataupun sekadar melucu – apa lagi sampai menghina anggota komunitas – maka kuanggap itu sebagai tantangan untuk membalikkan senjatanya. Prinsip dasarnya adalah “Kalau kamu merasa boleh melakukan itu pada orang lain, maka kamu harus siap diperlakukan dengan cara yang sama”. Beberapa tahun lalu dalam perbincangan dengan salah seorang ...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...

Ikigai

Barusan aku membaca sebuah tulisan kutipan kata-kata Osho . Kata-katanya kurang lebih menjelaskan bahwa kesibukan hanyalah cara kita untuk membunuh waktu. Katanya 99% kegiatan kita hanyalah cari-cari kesibukan, bukan sibuk yang sebenarnya. Maka dia menyarankan untuk beristirahat sambil berproses. Kucoba untuk menariknya ke dalam diriku, melihat kembali kegiatan-kegiatan yang membuat hariku – yang durasinya sama saja 24 jam seperti orang lain – terasa penuh. Pagi-pagi aku bangun antara jam 6 sampai 8. Sebagun itu aku langsung merapikan tempat tidur lalu lanjut dengan membereskan kotoran kucing. Kotoran kucing kumanfaatkan sebagai pupuk di kebun. Kutimbun dengan dedadunan kering agar baunya tidak kemana-mana. Setelah selesai dengan kotoran kucing, aku lanjut menyiapkan sarapan lalu makan. Terkadang aku mandi sebelum berangkat ke tempat kerja, biasanya tidak. Jam 10 pagi hingga 5 sore aku berada di tempat kerja, kebanyakan memang terisi dengan planga-plongo, melihat media sosial dan berma...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Kecewa

“Siapa yang sebenarnya berekpektasi pada siapa?” kawanku bertanya pada dirinya sendiri terkait hubungan asmaranya, yang akhirnya dia munculkan dalam perbincangan kami. “Masing-masing pasti berekpektasi” kataku, lalu kulanjut mengatakan bahwa masing-masing juga pasti kecewa. Kecewa merupakan hal yang wajar. Pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan ketika kecewa? Perasaan kecewa, menurutku merupakan kebalikan dari rasa bangga dan atau puas. Terjadi ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Tidak sesuai di sini adalah kondisi di bawah, alias kurang dari yang diharapkan. Perasaan kecewa sering kali dilandasi oleh perasaan menyesal. Menyesal telah percaya bahwa kenyataan akan sesuai dengan harapan (bahkan mungkin lebih). Menyesal telah percaya, bahwa mereka tidak akan membuat kita kecewa. Biar kukutipkan sepotong lirik dari lagu milik Panji Sakti “meski akhir cerita tak seperti doa dan rencana, sungguh dia tak pernah menjadi kecewa”. Lagu yang beberapa kali menamparku, dan bahka...