Semalam, seorang kawan bertanya kepadaku setelah beberapa hari melihat unggahanku di media sosial. Pertanyaannya hanyalah sebuah basa-basi yang tiba-tiba “gimana?” berlanjut dengan pernyataan tentangku yang menurut dia “akhir-akhir sangat galak”. Akupun jadi terpikir-pikir “sejak kapan aku tidak terkesan galak?” Sepertinya di lingkarku sebelum-sebelumnya, aku selalu dicap sebagai “paling frontal”. Di beberapa komunitas yang kuikuti, aku bahkan sangat suka menggunakan istilah “tarung bebas” untuk menegaskan bahwa tidak ada senior-junior dalam jajak pendapat ataupun lelucon. Pembina komunitas sekalipun, ketika dia sudah berani melakukan sindiran di depanku, ataupun sekadar melucu – apa lagi sampai menghina anggota komunitas – maka kuanggap itu sebagai tantangan untuk membalikkan senjatanya. Prinsip dasarnya adalah “Kalau kamu merasa boleh melakukan itu pada orang lain, maka kamu harus siap diperlakukan dengan cara yang sama”.
Beberapa tahun lalu dalam perbincangan dengan salah seorang
kawan lainnya – yang sudah lama mengikuti perkembanganku – aku menjelaskan “dia menyerangku menggunakan suatu senjata, dengan
cara pakai yang sembarangan. Aku hanya mengembalikan senjatanya sambil
mengaplikasikan teknik yang paling efektif”, “kamu kejam sih. Psikopat
menurutku” jawabnya. Aku pun menyanggah dengan “Aku hanya mengajarkannya agar tidak
sembarangan lagi. Setidaknya sekarang dia tahu cara pakai yang lebih tepat”
“Lalu bagaimana
dengan prinsipmu soal ‘harus siap diperlakukan dengan cara yang sama’? Maksudku…
Kau membalikkan senjata orang semacam itu, bagaimana jika dia yang melakukan
itu kepadamu?” tanya kawanku lebih lanjut. “Tentu aku terima. Bahkan jika pengembalian
senjata yang kulakukan dibalas olehnya saat itu juga, tentu aku siap menerima” jawabku.
“Ya…. Ya….. ya….. Itupun kalau dia masih bisa bangkit setelah mendapat serangan
darimu” kata kawanku sambil tersenyum sinis. “Kalau dia masih bisa bangkit,
apalagi masih bisa menyerang balik….. berarti.....” kataku memancingnya, “cara yang
kau ajarkan padanya tidak seefektif itu….” Jawabnya sambil tertawa kecil. “Nah….
Tepat sekali!!! Berarti akulah yang harus belajar cara penggunaan yang lebih
baik lagi” jawabku yang membuat kami tertawa lepas sejenak, disusul waktu
hening sekitar 5 detik.
“Tapi bagaimana
jika senjata yang dikembalikan olehnya itu….? Eeh…. Ga deh, ga jadi….” kata kawanku.
“Apa? Kenapa dibatalkan?” tanyaku (pura-pura) penasaran. Dia pun mengatakan “tadi
aku terpikir, ‘bagaimana jika senjatamu yang dikembalikan olehnya?’ sebab tadi
kau hanya membahas soal pengembalian senjatanya, belum ada tentang pengembalian
senjatamu” yang hanya kurespon dengan anggukan. “lalu aku terpikir lagi…. Jika
senjata milik orang lain saja kau bisa tahu teknik terbaik penggunaannya…..” lanjutnya
sambil memberi jeda, yang disusul suara kompak kami “apalagi senjata milik sendiri!!!”
yang lagi-lagi membuat kami tertawa lepas.
“Aku lupa kapan
terakhir kali menyerang orang dengan senjataku sendiri” kataku. Dia pun
bertanya “Kenapa? Senjata yang datang dari mereka lebih seru untuk dieksplor
kah?”, yang kujawab dengan “bukan. Aku hanya merasa tidak perlu memakainya. Tidak
ada urgensi yang mengharuskanku memakainya”. “Berarti semacam Jeet Kune Do-nya
Bruce Lee ya?” kata kawanku. “Seranganmu….” kataku “adalah jalanku untuk
menyerangmu” pungkasnya.
Yaa…. prinsip dasar
itu benar-benar menjagaku untuk tidak sembarangan menyerang orang. Jika tidak
diserang atau melihat penyerangan, aku cenderung santai-santai saja. Memang ada
kala di mana aku menyerang duluan meskipun tidak melihat serangan secara
langsung, misalnya ketika ada laporan dari beberapa korban. Laporan itu bisa
membuatku mengonfrontasi pelaku. Konfrontasi pun seringnya kuawali dengan pertanyaan
“apakah benar seperti itu?”. Beberapa kawan yang sudah pernah kukonfrontasi biasanya
akan lebih berhati-hati dalam menjawab, kemungkinan dia paham bahwa berbohong
hanya akan membuat keadaan jadi lebih buruk untuknya.
03 Maret 2024
@KBNTT
01.07 pm
Komentar
Posting Komentar