Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Waktu Bahagia

Aku menunggu datangnya suatu waktu, seolah akan lebih baik daripada yang kini ada di hadapanku. Aku menanti datangnya esok hari yang sepertinya lebih indah daripada hari ini. Sembari menunggu, aku masih sempat merasa takut, takut jika nanti tak berjalan sesuai rencana ataupun jika terjadi sebuah bencana. Aku hanya ingin masa depanku bahagia adanya. Mengharapkan kebahagiaan tiba di waktu yang diinginkan, membuatku berpikiran bahwa manusia tak benar-benar ingin hidup bahagia. Manusia hanya suka membayangkan kebahagiaan di alam pikirannya sementara kebahagiaan telah duduk bersila di sebelahnya berharap akan segera digubris. "Apa kau ada waktu untukku?" Tanya si bahagia yang langsung saja dibahas bentakan oleh si manusia "tidak hari ini kawan! Aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk dapat bersama denganmu!". Alam khayal sepertinya membuatku tak sadar bahwa segala yang kumau telah bertengger di pelupuk mata. Saking buta mataku, saking abai rasaku, saking sempu...

Singgasana Tuhan

Pagi ini kubakar plangkiran peninggalan pendahulu kost. Kurasa itu sudah tak diperlukan lagi. Simbol yang selama ini kuanggap sakral kini tak perlu kugunakan lagi. Tuhan tak pernah duduk di sana, namun juga selalu di mana saja. Jadi untuk apakah segala simbol tempat bersemayam yang kita sakralkan? Tempat ibadah pun kurasa hanya diperlukan untuk berkumpul saja, bukan untuk bertemu dengan Tuhan. Namun demikian, aku tetap akan datang ke sana sebab aku masih merupakan mahluk sosial yang perlu berkumpul dengan sesamanya. Aku hanya menghilangkan simbol itu dari kehidupan pribadiku. Sama halnya dengan agama, yang juga kurasa hanya merupakan simbol kedekatan manusia dengan penciptanya Aku ingin menghilangkannya dari kehidupanku sebagai individu, meskipun aku menjalankan ajarannya. Kusebutkan salah satu dalam kartu identitasku hanyalah untuk memenuhi syarat bernegara dan bermasyarakat saja. Pelaksanaan sehari-hari yang kujalani tidak perlu diatur oleh siapapun juga selain diriku sendir...

Manja

Ada anak yang disebut manja oleh orang tuanya hanya karena ia menangis ketika terluka. Anak yang lainnya dibilang hebat oleh orang tuanya hanya karena menghabiskan makan siangnya. Ada orang tua yang merasa kejam pada anaknya karena anaknya merantau untuk mencari ilmu. Ada juga orang tua yang memisahkan anak dengan kekasihnya dengan alasan "demi kebahagiaan" si anak. Orang tua manja, anak manja, anak kejam, pun kekasih yang dapat membahagiakan kurasa tak dapat disamaratakan tolak ukurnya pada setiap orang. Aku pernah bertemu orang tua yang kekanak-kanakan. Aku pernah bertemu remaja yang bermuka tua. AKu pernah beretemu juga dengan anak yang bersikap dewasa. AKu pernah bertemu dengan anak yang dimanjakan oleh orang tuanya namun memilih hidup mandiri. Aku pernah bertemu orang tua yang masa kanak-kanaknya begitu mandiri kemudian memanjakan anaknya. Aku pernah bertemu kakak yang diposisikan adik oleh adiknya. aku juga pernah bertemu kekasih yang berperilaku seperti orang tua ...

Dulu aku.....

Mungkin aku mulai lupa bahwa aku suka padamu sejak pertama kita bertemu, sehingga aku berusaha mengubahmu menjadi seperti apa yang kumau. Padahal dalam ke-apaadaan-mu, aku sudah suka. Lantas mengapa aku merasa harus mengubahmu? Semacam omong kosong, namun sok berisi, sebab membenahimu sama saja kurang introspeksi. Ketika aku berusaha membenahi hal-hal di luarku, berarti aku satu-satunya yang harus berbenah. Bukan caramu berperilaku yang harus kukomentari, melainkan caraku memandang perilakumu yang harus kusadari. Belum lama memang pertemanan kita, namun manfaat besar sudah mulai terasa. Tetaplah pada dirimu, sebab benar atau salah tidaklah ditentukan oleh mataku. Betapa egois kini kurasa kata "seharusnya", apalagi jika yang diharuskan justru orang lain. Maafkan aku yang telah membandingkanmu dengan temanku yang lain, pun membandingkanmu dengan diriku, juga membandingkanku dengan temanmu yang lain. Seharusnya aku tidak begitu, sebab dulu aku tidak begitu. Yang perlu k...

Sisi Lembut

Selamat pagi DE KA I, aku hadir memijakmu untuk mencoba buktikan betapa kerasnya engkau. Sayang sekali aku di sini hanya untuk beberapa hari, bukan sampai minggu, bulan apalagi tahun. Tugas dari atasan, aku harus mendampinginya. Jadi aku tak seorang diri, juga bukan mengadu nasib. "Jakarta keras Bung!" Kata teman-temanku yang mungkin tak pernah singgah di sana. Ini kali ke tiga aku singgah dan aku selalu menemukan wajah-wajah keluarga. Kurasa engkau sama saja dengan Jogja, juga tak berbeda dari Denpasar ataupun Karangasem. Kekerasan memang selalu berdampingan dengan kelembutan, mereka seperti sekeping koin yang memiliki dua sisi. Berbeda namun selalu bersama. Jogja keras Bung! Nama Klitih sempat tren di sana. Denpasar keras Bung! Cari kerja terkadang harus bayar DP dahulu. Karangasem keras Bung! Angka putus sekolah tinggi, daerah 3T juga masih ada di sana. Leak yang paling sakti dan arak Bali nomor satu juga berasal dari sana. Jadi, tempat mana yang tak pun...

Ideal?

"Soal idealisme saya tidak pernah kompromi" kata Mas Mice kemarin saat kutanya tentang adaptasi yang harus kulakukan dalam menghadapi tuntutan industri. Ia juga menekankan untuk mencari penerbit lain. Gaya bicaranya menunjukkan bahwa idealisme lebih layak diperjuangkan daripada uang ataupun ketenaran. Tujuan berkarya untuk mencerdaskan pembaca tentu juga mengharuskan si karya-wan memutar otak dengan upaya ekstra. "Kalau lebih banyak mudharatnya, saya tidak akan jadi unggah ke media sosial" juga ia katakan pada kami. Menjadi ideal rupanya bukan soal menyebarkan idealisme, namun lebih kepada bertahan melakukan yang sesuai idealisme tanpa peduli apapun kata orang di luar. Memaksakan idealisme pada orang lain hanyalah sebuah imbas dari rasa ketakutan berjalan sendiri. Sebelum mengingatkan orang lain, ingatkan diri sendiri untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Salah-benar hanya ciptaan pikiran kita, dunia tetaplah netral. Kendati demikian tetap saja kita akan dipe...

Donatur

Setiap dari kita adalah donatur di muka bumi. Kita menyumbang berbagai macam hal mulai dari yang manfaat sampai yang menjadi sumbat bagi kelancaran kehidupan. Akupun bertanya pada diri sambil mengingat-ingat yang telah berlalu “Apa saja yang telah kusumbangkan pada bumi? Lebih condong ke arah mana kah sumbanganku?” yang mana membuatku terpikir juga terhadap aliran. Jika hidup merupakan aliran, mungkin memang lebih baik untuk mengikuti arusnya daripada harus menyumbat perjalanan. Melawan arus yang selama ini didewa-dewakan oleh orang-orang yang sukses dalam kehidupan dunia – atau setidaknya mereka yang menginginkan kesuksesan – apakah itu tidak sama dengan melawan kehendak Tuhan? Masih saja aku berkutat dengan diriku setelah seperempat abad mengedarkan diri ke berbagai penjuru di muka bumi. Orang-orang yang kukenal pun yang mengenalku, orang-orang yang mengajariku dan kuajari, orang orang yang membantuku dan yang kurasa aku telah membantu mereka, apakah hadirku dalam hidup mereka t...

Oase

Ia datang lagi, kawanku yang satu frekuensi. Kami berbincang selama dua hari ia singgah, bagai tak punya rasa lelah. Ia tak lagi rajin sholat seperti dahulu, ia juga tak rajin puasa seperti beberapa tahun lalu saat aku masih nyaman dengan kondisi berkumpul tinggal bersama kawanku yang Hindu. Banyak hal yang terjadi padanya. Ia mendapat beasiswa kuliah dan mengambil jurusan sejarah. Ia juga sempat menjadi sangat mudah marah-marah karena Ibunya meninggal dunia hanya selang beberapa waktu setelah ia mendapat beasiswa tersebut. Kakak laki-lakinya meremehkannya. Kakak perempuannya tidak lagi sesolehah yang ia tahu dulu. Kakak perempuan yang mengenalkan ia denganku. Dunia kuliah tak semenyenangkan yang ia bayangkan membuat ia beberapa kali mengatakan bahwa ia ingin menyudahi saja. “Seandainya beasiswaku dicabut, ya sudah.” katanya, yang tak kusanggah sebab menurutku setiap orang berhak menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri. Aku sendiri juga pernah berpikiran serupa, sebelum se...

Iming-iming

Sampai kapan kau akan betah hidup dalam iming-iming? Mereka bilang bahwa mereka akan menghargaimu setelah kau melakukan persis seperti keingingannya. Namun nyatanya apa? Setelah kau lakukan semuanya justru yang dikatakan adalah "baiklah, sekarang lakukan ini". Kau tetap saja lapar akan penghargaan. Nilai dari Ibu-Bapak Guru rupanya tak pernah memuaskan orang-orang. Jika nilaimu kecil, mereka mencemoohmu. Jika nilaimu bagus, mereka hanya bilang "oh" dan pergi. Apakah karena nilai sudah dianggap penghargaan sehingga tak perlu dihargai proses mencapainya? Jika iya, terang saja jadi banyak orang yang memilih untuk mencontek saat ujian. Iming itu masih berlanjut jika kau sudah bekerja. Tak punya uang akan ditertawakan dan disuruh berupaya kerja keras bagai kuda. Jika punya banyak uang mereka akan berkata "hidup itu bukan hanya soal uang" yang biasanya dilanjutkan dengan omongan seputar religiusitas ataupun spiritualitas. Masih mau dengar omong kosong lagi?...

Beres-beres

Sedikit demi sedikit hal yang kucita-citakan mulai tercapai (lagi) setelah sekian lama kurasa hidupku kosong tanpa tujuan, kini harapan telah ada kembali. Hidupku terasa nikmat ketika kusedekahkan untuk pelayanan sesama manusia. Berdatangan orang-orang baik, orang-orang cerdas, orang-orang tulus yang entah ada berapa banyak lagi dari mereka yang masih masuk di daftar antri untuk bertemu denganku. Atau sebenarnya aku yang telah masuk di daftar anri untuk bertemu dengan mereka. Semalam rapat relawan berlangsung di depan kamar kostku. Kamar yang sebelumnya bahkan aku sendiri tak betah berada di dalamnya dan membuatku merasa malu ketika ada orang yang menengok dari luar. Kini kamar itu mulai memancarkan daya tariknya yang mungkin begitu pula dengan diriku. Sesederhana membereskan kamar dengan menyingkirkan hal-hal yang tak menimbulkan rasa senang, begitu pula aku harus membereskan diriku dengan menyingkirkan hal-hal yang tak kusukai. Dulu aku sangat suka mengritik sementara aku tak ...

hening

Sudah terlalu lama aku tak mendengarkan keheningan, mungkin karena aku belum menghening agar dapat mendengar. Kapan terakhir kalinya juga aku tak ingat. Sebab terlalu lama ataukah aku memang kurang menghargainya? Apapun itu, kini seperinya aku sedag membutuhkan hening lagi. Hening agar pikiran lebih bening. Ketika kuperhatikan si hening, ia segera saja menghilang. Hening begitu pemalu sehingga tak boleh diajak berbicara. Menyedihkan memang, apa lagi bagi orag yang suka berteman dengannya. Rasa suka padanya tak bisa disampaikan dengan rayuan gombal. Satu-satunya cara merayu hening adalah dengan mendiamkannya. Bagi orang-orang yang terlalu banyak berpikir sepertiku, mendiamkan hening bukanlah hal mudah. Hening mungkin sempat singgah tatkala aku teridur namun aku tak menyadarinya. Jika aku menyadari kedatangannya mungkin saja ia juga tak suka. Hening benci menjadi pusat perhatian, yang mungkin oleh sebab itulah ia sulit ditemukan di tengah kota. Di desa, meskipun malam selalu diram...