Langsung ke konten utama

Waktu Bahagia

Aku menunggu datangnya suatu waktu, seolah akan lebih baik daripada yang kini ada di hadapanku. Aku menanti datangnya esok hari yang sepertinya lebih indah daripada hari ini. Sembari menunggu, aku masih sempat merasa takut, takut jika nanti tak berjalan sesuai rencana ataupun jika terjadi sebuah bencana. Aku hanya ingin masa depanku bahagia adanya.

Mengharapkan kebahagiaan tiba di waktu yang diinginkan, membuatku berpikiran bahwa manusia tak benar-benar ingin hidup bahagia. Manusia hanya suka membayangkan kebahagiaan di alam pikirannya sementara kebahagiaan telah duduk bersila di sebelahnya berharap akan segera digubris. "Apa kau ada waktu untukku?" Tanya si bahagia yang langsung saja dibahas bentakan oleh si manusia "tidak hari ini kawan! Aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk dapat bersama denganmu!".

Alam khayal sepertinya membuatku tak sadar bahwa segala yang kumau telah bertengger di pelupuk mata. Saking buta mataku, saking abai rasaku, saking sempurna mimpiku, hingga aku lupa bahwa mimpi baru dapat dibilang sempurna ketika telah nyata adanya. Sementara ketika mimpi-mimpi tua yang telah usang mulai menyatakan dirinya, aku sibuk dengan mimpi baruku.

Tak ada ruang bagi bahagia tuk singgah, pun tak ada izin baginya untuk menjamah, mungkin karena kuhabiskan waktuku untuk berbenah.

@Kontrakan Concat
09:00 AM
20 Desember 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...