Pagi ini kubakar plangkiran peninggalan pendahulu kost. Kurasa itu sudah tak diperlukan lagi. Simbol yang selama ini kuanggap sakral kini tak perlu kugunakan lagi. Tuhan tak pernah duduk di sana, namun juga selalu di mana saja. Jadi untuk apakah segala simbol tempat bersemayam yang kita sakralkan? Tempat ibadah pun kurasa hanya diperlukan untuk berkumpul saja, bukan untuk bertemu dengan Tuhan. Namun demikian, aku tetap akan datang ke sana sebab aku masih merupakan mahluk sosial yang perlu berkumpul dengan sesamanya. Aku hanya menghilangkan simbol itu dari kehidupan pribadiku.
Sama halnya dengan agama, yang juga kurasa hanya merupakan simbol kedekatan manusia dengan penciptanya
Aku ingin menghilangkannya dari kehidupanku sebagai individu, meskipun aku menjalankan ajarannya. Kusebutkan salah satu dalam kartu identitasku hanyalah untuk memenuhi syarat bernegara dan bermasyarakat saja. Pelaksanaan sehari-hari yang kujalani tidak perlu diatur oleh siapapun juga selain diriku sendiri sebab beribadah adalah urusan hamba dengan Tuhannya.
Aku ingin bebas dalam beragama, meskipun masih juga memperhatikan apa yang diterima oleh kebanyakan orang. Kamuflase aku menyebutnya, sebab manusia suka memakai topeng dan tak juga siap menghadapi orang yang tanpa topeng. Setiap dari kita adalah individu yang pandai berpura-pura di balik topeng-topeng kita. Kadang memang harus demikian sepertinya, demi keamanan dalam menjalani kehidupan, demi kenyamanan bersama, demi apalah yang intinya adalah memuaskan orang lain yang bahkan tak berpengaruh di dalam hidup kita.
Sebatang dupa dibakar oleh kawanku yang beragama Islam, sebatang lainnya dibakar oleh ia yang Nasrani, kekasihku menyapa Ayahku dengan Om Swastyastu sementara Ayahku mengatakan "Alhamdulillah sehat" ketika ditanya kabar oleh kekasihku. Kurang syahdu apa keberagaman dan keberagamaan kami? Saling kasih, saling belajar menggunakan tata cara satu sama lain, saling menghargai, meski di dalam hatinya masih ada perasaan ragu untuk mengakui bahwa mereka takut menjadi murtad dari ajaran yang diwarisinya sejak lahir. Aku yang sejak dahulu sudah pernah mencoba menjadi ateis hanya melihat sambil tersenyum, berharap mereka juga melepaskan agamanya dan memandang semuanya sebagai satu. Aku juga belum mampu, namun setidaknya aku berani bermimpi. Semoga kelak jumlah agama sejumlah manusia sehingga tak ada yang berhak berkata tentang cara beragama orang lain yang masih salah atau apapun itu.
Aku rindu masa-masa di mana aku belum mengenal agama. Masa di mana Ibuku tak menyuruhku sembahyang dengan cara yang benar, ayahku belum memiliki Genta, aku belum membaca Bhagavad Gita, kakakku belum mengatakan "Tuhan mereka nanti marah" pada anaknya. Namun itu semua telah terjadi, dan masa bocah telah berlalu, jadi ya terima saja terima. Kini waktuku untuk berbenah agar menjadi selayaknya bocah lagi.
Plangkiran yang kubakar telah menjadi bara dan sepertinya sebentar lagi akan menjadi abu. Jika ada yang bertanya mengapa aku membakarnya, mungkin akan kujawab dengan "tubuhku jika telah kutinggalkan juga akan dibakar sebab sudah tak berguna, lantas mengapa plangkiran harus dibiarkan ketika sudah tak digunakan?" Selamat tinggal simbol singgasana Tuhan, kini aku akan mencoba menyimbolkan setiap individu sebagai singgasana itu, dan semoga itu berhasil membawaku pulang padaNya.
19 Desember 2019
@kost amal
02:59 AM
Komentar
Posting Komentar