Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Teruntuk Guruku

Guruku yang terkasih, sampai kapan kau akan melihat para siswamu sebagai suatu kegagalan? Mereka tak mencapai apa yang kau maui, lalu kenapa? Apakah tujuanmu mengajar hanyalah agar mereka menjadi pencapai apa yang telah kau perintahkan? Ketidakberhasilan kami adalah kegagalanmu juga. Apa kini telah kau sadari bahwa mendidik bukan perkara mudah? Bahwa menyampaikan ajaran tak bisa hanya lewat perintah atau titah. Mana lakumu? Itu saja kau tunjukkan pada kami belum tentu bisa kami ikuti, apalagi jika kau hanya berteori. Kau tak bisa menyuruh kami mengaplikasikan ilmu yang kau berikan jika yang kau apresiasi hanyalah goresan tinta di lembar-lembar kertas ujian. Asam garam kehidupan telah kau rasakan sebelum kami, namun apakah kau sudah pernah merasakan asamnya kopi? Pernahkah kau menemukan rasa pahit dalam gula? Pernahkah kau merasakan manisnya cabai? Jika belum, mungkin saja kau perlu belajar dari kami, karena rasa bukan hanya dari garam. Mungkinkah kepekaanmu juga berkurang akib...

Belajar terlalu banyak (?)

"kau belajar terlalu banyak hal sehingga tidak fokus" kata seorang kawanku. Pikirku, apakah manusia bisa belajar terlalu banyak? Begitu banyak hal yang dapat dipelajari lalu mengapa membatasi diri untuk belajar? Nikmati saja proses belajar itu. Bukankah belajar harus sepanjang hayat? Belajar tak akan pernah cukup. Cukup saja tak akan pernah, bagaimana mungkin bisa disebut terlalu banyak? Fokus mungkin merupakan salah satu hal yang paling kuinginkan sejak dulu, namun rupanya kehidupan telah memerkosaku lewat keluargaku, kawan-kawanku bahkan guru-guruku. Mau tak mau ya terima saja terima, sebab meronta tak ada gunanya, meminta tolong harus pada siapa? Telah pernah kusebut apa yang kumau, di mana letak hasratku, juga kupamerkan bakat serta karyaku. Hasilnya? Kata jangan yang kudengar dari mereka, maka bagaimana solusinya wahai manusia setengah dewa? Aku mental saja ya? Boleh ya? Membangkang sepertinya adalah pilihan bijak ketika kita hidup di dalam kebijakan-kebijakan y...

Jangan dibaca!

Aku berada di sebelah tempat suci siang ini. Ada sebuah ceramah yang disampaikan oleh pemuka di sana. Ia menyampaikan pesan-pesan dan ajakan-ajakan. Terdengar olehku kata "jangan" berulang-ulang kali. Manusia bukanlah makhluk yang suka dilarang bahkan mungkin adalah pembangkang. Kata jangan kurasa tidak akan berpengaruh baik pada manusia. Belum lagi kata jangan hampir selalu diikuti oleh kata yang berkonotasi negatif. Mulai dari jangan menghina, jangan mengolok-olok, jangan memfitnah hingga jangan pamer. Mungkin Tulus merupakan orang aneh sebab ia menyanyikan jangan cintai. "Perkataan adalah doa" katanya, maka untuk apa menyebut begitu banyak kata yang konotasinya negatif? Bukankah itu sama saja berarti mendoa yang tak baik? Bagaimana jika kita ubah konsep ceramah yang selama ini kita gunakan? Mengganti kata jangan menjadi ayo, membuang kata negatif dan memilih yang positif. Ayo membaca, ayo bersedekah, ayo bersabar, ayo membantu, ayo berbenah. Pembangkang ...