Langsung ke konten utama

Teruntuk Guruku

Guruku yang terkasih, sampai kapan kau akan melihat para siswamu sebagai suatu kegagalan? Mereka tak mencapai apa yang kau maui, lalu kenapa? Apakah tujuanmu mengajar hanyalah agar mereka menjadi pencapai apa yang telah kau perintahkan? Ketidakberhasilan kami adalah kegagalanmu juga.

Apa kini telah kau sadari bahwa mendidik bukan perkara mudah? Bahwa menyampaikan ajaran tak bisa hanya lewat perintah atau titah. Mana lakumu? Itu saja kau tunjukkan pada kami belum tentu bisa kami ikuti, apalagi jika kau hanya berteori. Kau tak bisa menyuruh kami mengaplikasikan ilmu yang kau berikan jika yang kau apresiasi hanyalah goresan tinta di lembar-lembar kertas ujian.

Asam garam kehidupan telah kau rasakan sebelum kami, namun apakah kau sudah pernah merasakan asamnya kopi? Pernahkah kau menemukan rasa pahit dalam gula? Pernahkah kau merasakan manisnya cabai? Jika belum, mungkin saja kau perlu belajar dari kami, karena rasa bukan hanya dari garam. Mungkinkah kepekaanmu juga berkurang akibat terlalu banyak makan garam?

Pergerakan kami tak sepenting pergerakanmu di masa perjuangan menuju kemerdekaan pendidikan. Setidaknya begitulah yang kurang lebih pernah terucap dari mulutmu yang agung. Segala peluh kami tak berarti sebab kami "lahir di zaman enak" katamu. Kau hanya tidak terlahir di zaman enak sehingga menggampangkan rintangan yang ada saat ini. Esok jika ada kesempatan bereinkarnasi, mungkin kau harus coba lagi agar tahu betapa kesulitan itu ada di setiap masa bagi setiap manusia. Lahir di zaman enak mungkin akan membuat kepalamu takkan cukup untuk dipasangi helm dengan ukuran extra large sekalipun.

Bangga atas pencapaianmu sebagai siswa boleh-boleh saja. Namun bukankah kini engkau adalah guru? Lakukan saja tugasmu sebagai guru, toh kartu siswamu telah kadaluarsa. Masa kejayaanmu sebagai siswa teladan telah berakhir. Mengingat-ingat dan menggembar-gemborkan itu takkan membuatmu terlihat bak guru teladan di mata kami.

Sebelum mengajar kau harus belajar. Tidak tertutup kemungkinan bahwa kau juga harus belajar dari kami. Belajarlah cara hidup santai di zaman enak dan mendengarkan kaset rusak yang diputar berulang kali setiap harinya. Kau terlalu banyak bicara tentang kehebatanmu sampai lupa bahwa yang perlu diapresiasi di dalam kelas adalah kami. Bicara saja lagi! Bicara sambil menatap papan tulis sehingga kami bisa keluar kelas tanpa terlihat di matamu. Segelas kopi di kantin saat jam pelajaran masih berjalan sepertinya terasa lebih nikmat, apalagi jika bercampur sedikit ketegangan. Masih mendidih pun sruput saja.

Beban kami adalah belajar. Maka bantulah kami untuk jadi lebih kuat memikulnya. Bebanmu adalah mengajar, jika tak mampu memikul itu setidaknya jangan kau timpakan pada kami. Hanya karena kau telah menjadi guru bukan berarti bahwa perjuanganmu telah usai. Jadikanlah proses belajar-mengajar sebagai perjuangan kita bersama. Buatlah itu menjadi menyenangkan sehingga kami secara diam-diam mulai berjanji pada diri untuk senantiasa mengingat dan mengagumimu.

Selasa, 12 Maret 2019
02:00 AM
@Kost Santren


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...