Aku berada di sebelah tempat suci siang ini. Ada sebuah ceramah yang disampaikan oleh pemuka di sana. Ia menyampaikan pesan-pesan dan ajakan-ajakan. Terdengar olehku kata "jangan" berulang-ulang kali.
Manusia bukanlah makhluk yang suka dilarang bahkan mungkin adalah pembangkang. Kata jangan kurasa tidak akan berpengaruh baik pada manusia. Belum lagi kata jangan hampir selalu diikuti oleh kata yang berkonotasi negatif. Mulai dari jangan menghina, jangan mengolok-olok, jangan memfitnah hingga jangan pamer. Mungkin Tulus merupakan orang aneh sebab ia menyanyikan jangan cintai.
"Perkataan adalah doa" katanya, maka untuk apa menyebut begitu banyak kata yang konotasinya negatif? Bukankah itu sama saja berarti mendoa yang tak baik? Bagaimana jika kita ubah konsep ceramah yang selama ini kita gunakan? Mengganti kata jangan menjadi ayo, membuang kata negatif dan memilih yang positif. Ayo membaca, ayo bersedekah, ayo bersabar, ayo membantu, ayo berbenah. Pembangkang ada sebab ada kata jangan. Tak ada orang yang mampu membangkang pada kata "ayo", pun jika mereka menolak itu bukanlah sebuah pembangkangan.
Manusia adalah makhluk yang memiliki rasa penasaran tinggi. Mereka cenderung akan mencari tahu akibat yang disembunyikan oleh kata jangan. Seolah memiliki jargon "jika aku tak mau dilarang, memang kenapa?" Jika dijelaskan akibatnya maka manusia bisa saja berkata "benarkah demikian? Coba kita buktikan!"
Tak ada manusia yang suka dilarang, sebab kebebasan adalah tujuan sejati dari kehidupan. Sudah terlalu banyak hal yang mengekang manusia dalam hidupnya, tak perlu kita tambah-tambahkan lagi. Lahir ke dalam tubuh, ia dikekang oleh tubuhnya. Terlepas dengan ikatan tubuh, masih ada pikiran yang mengekangnya. Jika pikiran tak terlalu mengekang, maka perasaan yang mengaturnya. Sejak kecil, di keluarga diatur oleh orang tua. Sekolah juga mengatur lewat guru-gurunya. Belajar agama, sudah barang tentu agama merupakan sebuah kumpulan aturan. Setelah dewasa, diatur oleh netizen pula.
Ingin aku berteriak "Jangan gunakan kata jangan!" Namun itu akan membuatku menggunakannya dua kali dalam satu kesempatan. Jadi secara perlahan saja akan kukatakan dan kuketikkan "ayo mengajak dengan kata ayo!"
Ayo menulis!
Ayo berkarya!
Ayo berbagi!
Ayo mengapresiasi!
Ayo memotivasi!
Ayo saling mengingatkan!
Ayo membaca!
Ayo berkomentar!
Ayo belajar!
Ayo menikah! -_-
@kost Santren
1 Maret 2019
12:36 PM
Komentar
Posting Komentar