Langsung ke konten utama

Jangan dibaca!

Aku berada di sebelah tempat suci siang ini. Ada sebuah ceramah yang disampaikan oleh pemuka di sana. Ia menyampaikan pesan-pesan dan ajakan-ajakan. Terdengar olehku kata "jangan" berulang-ulang kali.

Manusia bukanlah makhluk yang suka dilarang bahkan mungkin adalah pembangkang. Kata jangan kurasa tidak akan berpengaruh baik pada manusia. Belum lagi kata jangan hampir selalu diikuti oleh kata yang berkonotasi negatif. Mulai dari jangan menghina, jangan mengolok-olok, jangan memfitnah hingga jangan pamer. Mungkin Tulus merupakan orang aneh sebab ia menyanyikan jangan cintai.

"Perkataan adalah doa" katanya, maka untuk apa menyebut begitu banyak kata yang konotasinya negatif? Bukankah itu sama saja berarti mendoa yang tak baik? Bagaimana jika kita ubah konsep ceramah yang selama ini kita gunakan? Mengganti kata jangan menjadi ayo, membuang kata negatif dan memilih yang positif. Ayo membaca, ayo bersedekah, ayo bersabar, ayo membantu, ayo berbenah. Pembangkang ada sebab ada kata jangan. Tak ada orang yang mampu membangkang pada kata "ayo", pun jika mereka menolak itu bukanlah sebuah pembangkangan.

Manusia adalah makhluk yang memiliki rasa penasaran tinggi. Mereka cenderung akan mencari tahu akibat yang disembunyikan oleh kata jangan. Seolah memiliki jargon "jika aku tak mau dilarang, memang kenapa?" Jika dijelaskan akibatnya maka manusia bisa saja berkata "benarkah demikian? Coba kita buktikan!"

Tak ada manusia yang suka dilarang, sebab kebebasan adalah tujuan sejati dari kehidupan. Sudah terlalu banyak hal yang mengekang manusia dalam hidupnya, tak perlu kita tambah-tambahkan lagi. Lahir ke dalam tubuh, ia dikekang oleh tubuhnya. Terlepas dengan ikatan tubuh, masih ada pikiran yang mengekangnya. Jika pikiran tak terlalu mengekang, maka perasaan yang mengaturnya. Sejak kecil, di keluarga diatur oleh orang tua. Sekolah juga mengatur lewat guru-gurunya. Belajar agama, sudah barang tentu agama merupakan sebuah kumpulan aturan. Setelah dewasa, diatur oleh netizen pula.

Ingin aku berteriak "Jangan gunakan kata jangan!" Namun itu akan membuatku menggunakannya dua kali dalam satu kesempatan. Jadi secara perlahan saja akan kukatakan dan kuketikkan "ayo mengajak dengan kata ayo!"

Ayo menulis!
Ayo berkarya!
Ayo berbagi!
Ayo mengapresiasi!
Ayo memotivasi!
Ayo saling mengingatkan!
Ayo membaca!
Ayo berkomentar!
Ayo belajar!
Ayo menikah! -_-


@kost Santren
1 Maret 2019
12:36 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...