Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Egois(?)

"Jangan egois dong!" kata seseorang di pojokan kedai kopi. Hentakan suaranya membungkam riuh bincang para pelanggan kedai, meski sejenak. Seketika itu muncul pernyataan di dalam benakku "lalu, membentak semacam itu apakah bukan egois namanya?" Apa sebenarnya arti dari kata egois? Aku jadi penasaran dan bertanya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Muncul penjelasan "orang yang mementingkan diri sendiri". Lalu mulailah aku mengecek ke dalam diriku. Apakah aku orang yang egois? Apakah aku mementingkan diri sendiri? Coba kulihat.... Ketika aku lapar, aku makan. Ketika mataku mengantuk, aku tidur. Ketika aku lelah, aku istirahat. Ketika aku tak suka sesuatu, aku menghindar. Hmmm..... Sepertinya memang sangat mementingkan diri sendiri. Aku belajar supaya aku pintar. Aku olah raga agar aku sehat. Aku jadi vegan karena aku suka. Ketika mereka berkomentar kontra tentang pilihan-pilihanku itu, aku sudah siap senjata berupa data-data. Kelihatannya memang sangat egois....

Objektifikasi

Saat duduk di bangku SMP aku belajar tentang majas “personifikasi” yaitu sebuah gaya bahasa yang berfungsi untuk memanusiakan benda mati atau makhluk yang bukan manusia. Beberapa bulan terakhir aku diberitahu soal “objektifikasi” yaitu sebuah perlakuan menjadikan manusia sebagai objek. Kedua hal tersebut mungkin berbanding terbalik, tapi sepertinya tidak dapat dianggap sebagai antonim. Personifikasi merupakan gaya bahasa sehingga aplikasinya hanya sebatas kata-kata, sementara objektifikasi adalah perilaku. Perlakuan terhadap benda selayak memperlakukan manusia tidak pernah disebut sebagai personifikasi, namun kata-kata yang membendakan manusia tetap termasuk objektifikasi. Hal yang paling sering kudengar tentang objektifikasi adalah “objektifikasi perempuan”. Hal-hal yang termasuk ke dalam objektifikasi perempuan contohnya “cewe itu memang gitu, mereka cuma menunggu dicari”, atau “Cewe ngapain kuliah tinggi-tinggi? Nanti juga bakalan di dapur, di sumur, di kasur”. Jadi yang kupahami ...

Mandiri

Seorang kawan menulis tentang kemandirian. Dia mengatakan bahwa dalam hal kemandirian, setiap orang punya caranya sendiri dan bidangnya masing-masing. Kurasa itu sangat tepat dan masuk akal. Lalu mulai kulihat ke dalam diriku sendiri, seberapa tepat teori kawanku itu dengan kehidupanku. Beberapa teman mengatakan aku adalah anak yang manja sebab belum bekerja. Belum bekerja di perusahaan, sehari-hari hanya mengerjakan pekerjaan rumahan. Aku belum punya penghasilan berupa uang, karena tolak ukurku untuk “penghargaan” berbeda dari kebanyakan orang. Menurutku aku bekerja dan berpenghasilan, jadi kurasa aku bukan anak manja yang layak diberi predikat pengangguran. Penghasilanku adalah kepercayaan, sebuah mata uang paling mahal yang pernah digunakan. Beberapa teman yang lain mengatakan bahwa aku adalah manusia yang mandiri sebab bisa apa-apa sendiri. Masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri~ (sebelum punya istri). Bukan perkara “bisa” dalam sudut pandangku, namun le...