Langsung ke konten utama

Objektifikasi

Saat duduk di bangku SMP aku belajar tentang majas “personifikasi” yaitu sebuah gaya bahasa yang berfungsi untuk memanusiakan benda mati atau makhluk yang bukan manusia. Beberapa bulan terakhir aku diberitahu soal “objektifikasi” yaitu sebuah perlakuan menjadikan manusia sebagai objek. Kedua hal tersebut mungkin berbanding terbalik, tapi sepertinya tidak dapat dianggap sebagai antonim.

Personifikasi merupakan gaya bahasa sehingga aplikasinya hanya sebatas kata-kata, sementara objektifikasi adalah perilaku. Perlakuan terhadap benda selayak memperlakukan manusia tidak pernah disebut sebagai personifikasi, namun kata-kata yang membendakan manusia tetap termasuk objektifikasi. Hal yang paling sering kudengar tentang objektifikasi adalah “objektifikasi perempuan”. Hal-hal yang termasuk ke dalam objektifikasi perempuan contohnya “cewe itu memang gitu, mereka cuma menunggu dicari”, atau “Cewe ngapain kuliah tinggi-tinggi? Nanti juga bakalan di dapur, di sumur, di kasur”. Jadi yang kupahami tentang objektifikasi adalah segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yang membendakan, memperalat atau memperbudak manusia.

Menjadikan perempuan sebagai bahan lelucon supaya banyak followers merupakan objektifikasi. Hal ini sering terjadi di Instageram, Fesbuk, dan media sosial lainnya. Menggunakan perempuan yang diseksi-seksikan untuk iklan juga merupakan objektifikasi. Pembawa acara sepak bola? Sales Promotion Girl yang menjajakan rokok? Sudah barang tentu termasuk juga.

Kucoba untuk memberi jarak agar dapat melihat lebih luas. Kutanyakan pada diri “Siapa saja yang menjadi korban objektifikasi? Siapa saja yang menjadi pelakunya?” dan jawaban pun muncul di depan mata. Ternyata siapapun bisa menjadi pelaku ataupun korban, bahkan sering kali tanpa kita sadari. Meminta bantuan orang tanpa menggunakan kata ”tolong” – baca “perintah” – sudah merupakan bagian dari objektifikasi.

Perintah yang paling sering kudengar adalah perintah Bos kepada bawahannya, mungkin karena aku adalah bawahan dari seorang bos. Perintah serupa itu juga terjadi di rumah ketika orang tua memerintah anaknya. Hal ini tidak hanya terjadi kepada anak kecil, di beberapa kasus malah terbawa-bawa hingga sang anak telah dewasa. Anggapan bahwa seseorang adalah milik pribadi – seperti kepemilikan benda – merupakan objektifikasi yang paling laten. Berapa banyak orang tua yang memperlakukan anak sebagai milik? Berapa banyak anak yang mengaminkan kepemilikan orang tua atas dirinya?

Perintah lainnya yang tak kalah sering terdengar adalah perintah suami kepada istrinya, ataupun sebaliknya. Hal ini kemudian menimbulkan kaum SUTIS (suami takut istri), meskipun sebelum kemunculan kata SUTIS, kaum istri takut suami lebih banyak jumlahnya. Kaum pacar takut pacar pun juga menjamur di mana-mana, takut pada pacar yang posesif misalnya.

Posesif, over protective, diktaktor, adalah sifat-sifat objektifikasi. Keposesifan melahirkan pengekangan. Rela dikekang juga merupakan sifat objektifikasi, yakni objektifikasi diri sendiri. Proteksi berlebih sama saja berarti menganggap orang yang dilindungi tidak bisa melindungi diri sendiri – persis benda. Diktaktor menyampaikan apapun dengan nada perintah, apa-apa didiktekan, sedikit-sedikit menyuruh.

Kata lain dari “menyuruh” yang sering digunakan adalah “menunjuk”. Menunjuk berasal dari kata “tunjuk”. Kata lain dari “tunjuk” adalah “acung”. Itulah asal mula orang yang tugasnya disuruh-suruh disebut “kacung”. Jadi kurasa memang tepat kata-kata Bli JRX yang membuatnya dipenjarakan, sebab yang disebut sebagai “Kacung” olehnya memang bertugas disuruh-suruh.

Menyadari bahwa menyuruh adalah sebuah objektifikasi, aku mulai rajin meminta tolong. Menyadari bahwa disuruh juga merupakan objektifikasi, aku mulai rajin membangkang dan merespon sinis pada mereka yang menyuruhku. Aku manusia sama seperti mereka, dan sebelum memanusiakan manusia lainnya biar kumanusiakan diriku sendiri. Menolak perintah pun memerintah, adalah langkahku melawan objektifikasi manusia.

 

 

@Omah Peace
07 November 2020
20.27 PM


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...