Langsung ke konten utama

Manja

Ada anak yang disebut manja oleh orang tuanya hanya karena ia menangis ketika terluka. Anak yang lainnya dibilang hebat oleh orang tuanya hanya karena menghabiskan makan siangnya. Ada orang tua yang merasa kejam pada anaknya karena anaknya merantau untuk mencari ilmu. Ada juga orang tua yang memisahkan anak dengan kekasihnya dengan alasan "demi kebahagiaan" si anak. Orang tua manja, anak manja, anak kejam, pun kekasih yang dapat membahagiakan kurasa tak dapat disamaratakan tolak ukurnya pada setiap orang.

Aku pernah bertemu orang tua yang kekanak-kanakan. Aku pernah bertemu remaja yang bermuka tua. AKu pernah beretemu juga dengan anak yang bersikap dewasa. AKu pernah bertemu dengan anak yang dimanjakan oleh orang tuanya namun memilih hidup mandiri. Aku pernah bertemu orang tua yang masa kanak-kanaknya begitu mandiri kemudian memanjakan anaknya. Aku pernah bertemu kakak yang diposisikan adik oleh adiknya. aku juga pernah bertemu kekasih yang berperilaku seperti orang tua pasangannya. Jenis-jenis mereka sepertinya tak dapat kita patok dengan kata "seharusnya" sebab tak ada hal yang mutlak benar ataupun mutlak salah selama dilakukan oleh manusia, begitu pula dengan kalimat ini, tidak sepenuhnya benar.

"Saya ingin anak saya bahagia, tidak menderita seperti saya dahulu" kata orang tua yang memanjakan anaknya. "Zaman Bapak muda dulu, mana ada kemudahan seperti yang kamu alami sekarang? Kamu harusnya bersyukur!" kata anak yang sedang berusaha menirukan gerak-gerik orang tuanya yang ia anggap kejam. "Ini semua demi kebaikan kamu sayang....." kata kekasih yang berperilaku sebagai orang tua pasangannya. "Ya.... dia maunya begitu, jadi saya mendukung saja" kata orang tua yang anaknya memilih mandiri. "Maaf tadi aku bersikap kekanak-kanakan di depan Ayahku. Aku melakukannya sebab ia suka ketika aku demikian." kata seorang anak sambil melepas topeng kekanak-kanakannya. 

Sebagai seorang manusia, aku bertanya di manakah posisiku jika disandingkan dengan mereka semua? Aku adalah seorang anak namun juga cukup tua. Aku manja di titik tertentu, mandiri di pojokan lainnya, kejam juga iya, terkadang mencampurkan sikap sok tua dengan kekanak-kanakan. Kadang aku adalah adik yang diposisikan kakak, juga sering menjadi senior yang dijuniorkan oleh adik tingkatku. jadi..... di manakah posisiku jika disandingkan dengan mereka? Atau aku adalah mereka semua? Atau mereka yang kulihat sebenarnya hanya kutemukan di cermin?


Sabtu, 16 November 2019
@RSUD Soppeng
02:18 AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...