Mungkin aku mulai lupa bahwa aku suka padamu sejak pertama kita bertemu, sehingga aku berusaha mengubahmu menjadi seperti apa yang kumau. Padahal dalam ke-apaadaan-mu, aku sudah suka. Lantas mengapa aku merasa harus mengubahmu? Semacam omong kosong, namun sok berisi, sebab membenahimu sama saja kurang introspeksi. Ketika aku berusaha membenahi hal-hal di luarku, berarti aku satu-satunya yang harus berbenah. Bukan caramu berperilaku yang harus kukomentari, melainkan caraku memandang perilakumu yang harus kusadari.
Belum lama memang pertemanan kita, namun manfaat besar sudah mulai terasa. Tetaplah pada dirimu, sebab benar atau salah tidaklah ditentukan oleh mataku. Betapa egois kini kurasa kata "seharusnya", apalagi jika yang diharuskan justru orang lain.
Maafkan aku yang telah membandingkanmu dengan temanku yang lain, pun membandingkanmu dengan diriku, juga membandingkanku dengan temanmu yang lain. Seharusnya aku tidak begitu, sebab dulu aku tidak begitu. Yang perlu kubandingkan hanyalah dirimu dengan dirimu yang dulu, diriku dengan diriku yang dulu, dirinya dengan dirinya yang dulu.
Terimakasih telah mengingatkanku pada sudut pandang yang dulu pernah aku gunakan.
Selasa, 12 November 2019
09.23 AM
@RSUD Soppeng
Komentar
Posting Komentar