"Soal idealisme saya tidak pernah kompromi" kata Mas Mice kemarin saat kutanya tentang adaptasi yang harus kulakukan dalam menghadapi tuntutan industri. Ia juga menekankan untuk mencari penerbit lain. Gaya bicaranya menunjukkan bahwa idealisme lebih layak diperjuangkan daripada uang ataupun ketenaran. Tujuan berkarya untuk mencerdaskan pembaca tentu juga mengharuskan si karya-wan memutar otak dengan upaya ekstra. "Kalau lebih banyak mudharatnya, saya tidak akan jadi unggah ke media sosial" juga ia katakan pada kami.
Menjadi ideal rupanya bukan soal menyebarkan idealisme, namun lebih kepada bertahan melakukan yang sesuai idealisme tanpa peduli apapun kata orang di luar. Memaksakan idealisme pada orang lain hanyalah sebuah imbas dari rasa ketakutan berjalan sendiri. Sebelum mengingatkan orang lain, ingatkan diri sendiri untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Salah-benar hanya ciptaan pikiran kita, dunia tetaplah netral. Kendati demikian tetap saja kita akan dipersalahkan jika menjadi netral. Kembali lagi "tanpa peduli apapun kata orang di luar".
Kini aku mulai bertanya lagi pada diri "apa ideal menurutmu?", yang sudah barang tentu memunculkan jawaban-jawaban nyentrik mulai dari "menjadi Budha" hingga "seperti Nabi Muhammad" meskipun aku percaya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Budha. Menjadi guru atas diri sendiri juga muncul. "Menjadi tak terusik akan dunia" keluar dengan balasan pertanyaan "apa bedanya dengan tembok?" Ya, tembok juga tak terpengaruh oleh keheningan desa atau kepenatan kota. Tembok tidak merasa sedih, bahagia, terpuji ataupun hina. Perbedaanku dengan tembok adalah pada segi perbaikan. Semakin lama, tembok hanya semakin tua dan lapuk, sedangkan aku masih bisa berbenah meskipun tubuh ini juga semakin lapuk. Tolak ukur perbenahan itu diri sendiri yang menentukan berdasar pada tata cara hidup pendahulu pun guru yang kupilih. Ketika memilih percaya pada seorang Guru maka tak boleh ada bantah terhadapnya, hanya menggugu dan meniru. Di luar dari ajaran Guru, maka itu masuk kategori yang di-bodo amat-i. Murid dari sang Guru pun belum tentu layak digugu sebab ia bukanlah sang Guru itu sendiri.
Tidur telat, bangun pagi, banyak minum air bening, makan sekali sehari sebelum tengah hari, nyanyikan doa-doa, bersyukur di tiap hela napas, tertawa selagi sempat, senang atau sedih boleh saja namun jangan lewat dari sehari, bekerja, berkeluarga kecil nan sederhana, berpenghasilan, menanam, merawat, meditasi, berbagi, sesekali masuk ke dalam hutan, vegan, menggurui hanya jika diminta.
Masih kurang ideal?
Komentar
Posting Komentar