Ia datang lagi, kawanku yang satu
frekuensi. Kami berbincang selama dua hari ia singgah, bagai tak punya rasa
lelah. Ia tak lagi rajin sholat seperti dahulu, ia juga tak rajin puasa seperti
beberapa tahun lalu saat aku masih nyaman dengan kondisi berkumpul tinggal
bersama kawanku yang Hindu.
Banyak hal
yang terjadi padanya. Ia mendapat beasiswa kuliah dan mengambil jurusan
sejarah. Ia juga sempat menjadi sangat mudah marah-marah karena Ibunya
meninggal dunia hanya selang beberapa waktu setelah ia mendapat beasiswa
tersebut. Kakak laki-lakinya meremehkannya. Kakak perempuannya tidak lagi
sesolehah yang ia tahu dulu. Kakak perempuan yang mengenalkan ia denganku.
Dunia kuliah
tak semenyenangkan yang ia bayangkan membuat ia beberapa kali mengatakan bahwa
ia ingin menyudahi saja. “Seandainya beasiswaku dicabut, ya sudah.” katanya,
yang tak kusanggah sebab menurutku setiap orang berhak menentukan pilihan jalan
hidupnya sendiri. Aku sendiri juga pernah berpikiran serupa, sebelum semangat
menyelesaikan itu bangkit lagi. “Aku harus membuat diriku sendiri bangga. Dan salah
satu hal yang membuatku bangga adalah kebanggaan orang tuaku” itu yang pernah
kuucapkan pada diriku sendiri, yang entah bertahan sampai kapan. Mungkin saja
sebenatar lagi teori itu sirna dan digantikan teori yang menurutku lebih cocok.
“ ‘Pikirkan
tentang orang tuamu.’ Begitu kata dosenku yang membuatku terpikir padamu”
kataku. “Kalau kau yang dinasihati dengan kalimat itu, pasti mental” lanjutku
yang ia jawab dengan “Tentu saja, aku malah akan langsung tidak respek padanya.
Sebab ia berbicara tanpa memahami duduk perkaranya”. Ayahnya telah meninggal
sejak kawanku masih kecil, padahal menurutku laki-laki selalu memerlukan sosok
laki-laki lain untuk dijadikan panutan, dijadikan sosok pahlawan, atau
setidaknya teman berlatih. Ditinggalkan Ayah sejak kecil, dan kakak laki-laki
yang tak terlalu peduli tentu saja membuat ia mencari-cari sosok hero
itu. Beberapa kali ia berganti panutan, dari ustad botak sampai ustad gondrong.
Saat ia memanut ustad botak sebenarnya aku kurang suka, namun lagi-lagi aku
berupaya memberi kebebasan memilih. Ia memilih sosok itu dan menjadi sumbu
pendek. Ketika ia berpindah kepada ustad gondrong, ia menjadi lebih sabar dan
toleran meskipun ia meninggalkan “sholatnya yang nampak”.
Aku sempat
mengatakan tentang kepergian Ibunya ketika sedang merasa bangga sebab anaknya yang
cerdas lulus tes kuliah. Ia tidak tersenyum namun kuharap ia menghargai perjuangannya
sampai kini, menyadari bahwa tindakannya layak diapresiasi oleh dirinya sendiri.
Sebab tak mungkin diri akan merasa senang pun bahagia meski semua orang
mengapresiasi, jika diri sendiri tidak ikut serta dalam apresiasi itu.
Malam hari
sebelum keberangkatannya ke kota tempat ia berkuliah, ia mengatakan bahwa
kostku seperti “Oase di tengah gurun di kala melakukan perjalanan”. Aku jelaskan
padanya bahwa kamar kostku kini telah menjadi oase bagi diriku sendiri. Tempat melepas
lelah setelah menghadapi hiruk-pikuk dunia. Tempat mengisi tenaga setelah
seharian berhadapan dengan para penguras tenaga. Tempat paling nyaman yang bisa
kutemukan di Jogja.
Oase itu saat
ini masih sebatas di tempat tinggalku. Kuharap nanti aku menjadi oase bagi
diriku sendiri, menjadi hero bagi diriku sendiri, menjadi orang yang bisa
memukau diriku sendiri. Mengidealkan diri dengan idealisme yang kupercaya. Menjadi
orang yang paling ingin aku temui. Sebab kata orang-orang bijak “hidup adalah
perjalanan”, yang mungkin saja melelahkan, membosankan bahkan mungkin
mematikan. Itulah mengapa aku harus menjadi oase. Sebab dunia sudah cukup
melelahkan, maka saat kehabisan tenaga aku dapat mengisi energi hanya dengan
menghadapi diriku sendiri.
Selasa, 23 April 2019
06:56 pm
@Kost Santren
Komentar
Posting Komentar