Setiap dari kita adalah donatur
di muka bumi. Kita menyumbang berbagai macam hal mulai dari yang manfaat sampai
yang menjadi sumbat bagi kelancaran kehidupan. Akupun bertanya pada diri sambil
mengingat-ingat yang telah berlalu “Apa saja yang telah kusumbangkan pada bumi?
Lebih condong ke arah mana kah sumbanganku?” yang mana membuatku terpikir juga
terhadap aliran. Jika hidup merupakan aliran, mungkin memang lebih baik untuk
mengikuti arusnya daripada harus menyumbat perjalanan. Melawan arus yang selama
ini didewa-dewakan oleh orang-orang yang sukses dalam kehidupan dunia – atau setidaknya
mereka yang menginginkan kesuksesan – apakah itu tidak sama dengan melawan
kehendak Tuhan?
Masih saja aku
berkutat dengan diriku setelah seperempat abad mengedarkan diri ke berbagai
penjuru di muka bumi. Orang-orang yang kukenal pun yang mengenalku, orang-orang
yang mengajariku dan kuajari, orang orang yang membantuku dan yang kurasa aku
telah membantu mereka, apakah hadirku dalam hidup mereka telah memberi manfaat?
Orang tuaku, orang-orang yang tak mungkin lunas hutangku kepada mereka. Guru-guruku
yang mengajarku setiap hari meskipun jasanya tak pernah dibalas setimpal dengan
bulanan yang ia terima yang dikenal sebagai gaji. Kawan-kawan sekelas di
sekolah yang selalu kuajak bermain meskipun jadwal ujian telah tinggal beberapa
hari. Teman sepermainan yang usianya jauh lebih muda dariku, yang
memperlakukanku dengan hormat meski mungkin dari segi kedewasaan sikap aku
tidaklah lebih baik dari mereka. Apakah hadirku menjadi sumbat dalam aliran
hidup mereka?
Dalam aliran
sungai, ada beberapa hal yang terpengaruh ataupun berpengaruh. Hewan air. Batuan,
pasir dan tanah sungai. Kotoran. Sampah baik itu ranting, daun, bangkai ataupun
bungkus permen dari seratus tahun lalu. Air merupakan roh dari sungai, tanpanya
sungai pastilah mati. Jika air adalah rohnya, maka pohon adalah Tuhannya. Aku ingin
kembali pada pohon, jadi apakah aku harus melawan arus sebab pohon ada di hulu?
Ikan yang hidup haruslah melawan arus! Sebab jika mengikuti arus itu sama saja
dengan bangkai, kotoran, atau bungkus permen dari seratus tahun lalu! Namun aku
terlambat menyadari bahwa aku bukanlah itu semua. Aku bukan ikan apalagi
bungkus permen. Aku adalah air. Air, dengan menjadi arus, mengalir ke laut,
menguap ke awan, menjadi hujan, ia dapat kembali kepada pohon. Maka yang harus
aku donasikan kepada bumi dan kehidupan, adalah hidupku.
Selasa, 14 Mei 2019
@PerpustakaanUSD
03:04 PM
@PerpustakaanUSD
03:04 PM
Komentar
Posting Komentar