“Siapa yang sebenarnya berekpektasi pada siapa?” kawanku bertanya pada dirinya sendiri terkait hubungan asmaranya, yang akhirnya dia munculkan dalam perbincangan kami. “Masing-masing pasti berekpektasi” kataku, lalu kulanjut mengatakan bahwa masing-masing juga pasti kecewa. Kecewa merupakan hal yang wajar. Pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan ketika kecewa?
Perasaan kecewa, menurutku merupakan kebalikan dari rasa bangga dan atau puas. Terjadi ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Tidak sesuai di sini adalah kondisi di bawah, alias kurang dari yang diharapkan. Perasaan kecewa sering kali dilandasi oleh perasaan menyesal. Menyesal telah percaya bahwa kenyataan akan sesuai dengan harapan (bahkan mungkin lebih). Menyesal telah percaya, bahwa mereka tidak akan membuat kita kecewa.
Biar kukutipkan sepotong lirik dari lagu milik Panji Sakti “meski akhir cerita tak seperti doa dan rencana, sungguh dia tak pernah menjadi kecewa”. Lagu yang beberapa kali menamparku, dan bahkan barusan menamparku lagi ketika aku mengetikkannya. Tertampar karena penggalan itu menuju kepada sebuah pertanyaan “Sudahkah dirimu seberserah dan sepasrah itu?”. Kepasrahan yang sebenarnya, ternyata bisa membuat kita tak lagi merasa kecewa. Bahkan berharap diri bisa mencapai kepasrahan pun, dapat membuatku kecewa. Bisakah aku menerima diriku yang belum sesuai rencana ini?
Ada yang mengatakan bahwa rencana yang gagal sama saja dengan merencanakan kegagalan. Dulu aku setuju namun kini tidak terlalu, sebab kadang kala ada faktor di luar kendali diri yang dapat menggagalkan rencana, terutama ketika rencana itu berkaitan dengan orang lain. Bicara soal hubungan asmara contohnya. Setidaknya ada satu orang lain yang kita libatkan di situ. Orang yang secara apa-apanya pun sudah berada di luar diri kita. Lantas mengapa begitu yakin untuk berencana?
“Lalu apakah tidak boleh berencana Lik?” bukan itu poinnya, melainkan “apakah kita melibatkan dia dalam perencanaan?” Hubungan asmara bukanlah tentang diri kita sendiri, maka segala ekspektasi perlu dikomunikasikan. Ini dapat meminimalisir kekecewaan, sebab harapan-harapan sudah terbiasa dibicarakan. Mungkin bisa juga membahas soal “Bagaimana jika harapan itu tak tercapai nantinya?” maka kita tidak akan berlarut-larut dalam kekecewaan, sebab kegagalan telah dimasukkan dalam perencanaan.
Rencana A, rencana A+, rencana A-, atau bahkan sampai rencana Z, sepertinya akan lebih menyenangkan membahas itu semua dibandingkan “sejauh apa aku kecewa kepadamu”. Biar kukutipkan satu kata-kata kekasihku yang cukup membekas. Dia mengatakannya ketika kecewa kepadaku. Kata-katanya adalah “Aku hanya tidak menyangka bahwa kamu bisa berbuat seperti itu”. Kata-kata yang membuatku sadar bahwa kekecewaan berangkat dari prasangka baik kita.
Berprasangka baik merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh agama. Semua agama yang kukenal mengajarkan hal itu. Namun prasangka tidak serta merta membuat kita boleh berharap secara terlalu, apalagi hingga memusuhi orang yang tidak sesuai dengan prasangka kita. Apakah tidak sesuai prasangka kita merupakan salahnya? Bukankah kita yang membuat asumsi-asumsi di dalam kepala? Lalu, sebenarnya kita kecewa kepada siapa?
@MHI
07 Juli 2023
05.42 pm
Komentar
Posting Komentar