Segelas kopi
malam ini mengantarkan mataku pada keadaan terbelalak hingga pukul dua belas
malam. Keadaan ini pernah kubayangkan sebagai “keren”, tentunya sebelum aku
mengalami hari-hari penuh tugas yang membuat tubuhku tak sempat diistirahatkan
dan ia mulai protes dengan mengeluarkan darah dari hidungnya. Kini tidur awal
dan bangun siang terasa bagai surga yang nyata, meski kata guruku seharusnya
seorang siswa tidur terlambat dan bangun sebelum mentari memerahkan ufuk timur.
“Ada berkah dalam menatap mentari terbit dan tenggelam, pun dengan menatap
bulan purnama.” Kata Guruku. Aku selalu bertanya-tanya, berapa jam ia tidur
dalam sehari? Cukup banyak orang yang menjadi siswanya, dan hampir semua ingin
meneladani apa yang dilakukan olehnya, hanya saja keinginan sering kali
berakhir kandas di hadapan kemalasan.
Aku adalah
salah seorang yang ingin mencoba menjalankan pola hidup sepertinya, dan seperti
yang lainnya, aku belum sesukses Guruku. “Kau takkan suka jika telah mencapai
sepertiku, kau akan merasa bosan sebab kau hanya merasa penasaran” katanya
lagi. Oh, betapa ku saat ini, ingin rajin malas saja tak punya. Jika aku
menjadi Guru, bisakah aku memberi teladan yang baik lewat laku seperti yang ia
lakukan? Guruku itu selalu memasak meski ia tak makan banyak. Ia punya rumah
besar namun tinggal di dalam kamar kost, sementara rumahnya ditinggali oleh
murid-muridnya. Ia punya banyak uang, untuk disumbang-sumbang. Ia orang seni
yang terbiasa menggarap pekerjaan tukang.
Sedikit makan,
perbanyak minum air dingin adalah dua hal yang sering ia sampaikan sebagai
faktor pendukung efektivitas penyerapan asupan nutrisi. Makan terlalu banyak
dapat menyebabkan kantuk datang lebih awal dari jadwalnya, lagipula di zaman
segala sesuau dikerjakan di atas meja seperti sekarang ini, porsi makan mahasiswa
seharusnya tidak disamakan dengan porsi makan petani yang ke mana-mana berjalan
kaki. “Tapi berpikir juga perlu energi kan?” bantahku, kemudian ia menjelaskan
tentang pembodohan yang dilakukan pikiran terhadap si manusia. “Sehari dalam
seminggu, biarkan perutmu kosong.” Katanya lagi, sebab tubuh yang terlalu
dituruti keinginannya akan lebih sulit dikendalikan.
Kata Guruku,
keistimewaan manusia adalah bisa merubah keadaan hidupnya. Binatang lainnya
yang terlahir dengan kasih tinggi seperti sapi, babi, dan anjing, sampai mati
akan tetap sedemikian saja, namun binatang yang menamakan diri sebagai manusia,
bisa meningkatkan diri meski juga bisa menjatuhkan dirinya. Memang hanya
manusia yang ngopi agar matanya melek sampai pagi, hanya manusia yang memasang
jam weker agar bisa bangun lebih pagi, hanya manusia yang memasak makanannya,
hanya manusia yang bertani, dan hanya manusia yang berguru.
Jika Guru
dianggap sebagai akronim dari “digugu dan ditiru”, mungkin kepanjangan dari
berguru adalah “berani menggugu dan meniru”.
7 Desember 2018
@Kost Santren
01:40 AM
Komentar
Posting Komentar