Langsung ke konten utama

Karyawan

"Aku tak mau menjadi karyawan!" Kata anak muda itu sambil menggelengkan kepala. Bibirnya sedikit cibir, kemudian ia melanjutkan kata-katanya "bekerja untuk orang bukanlah gayaku. Aku akan mempekerjakan orang". Sepertinya ada bara di dalam dadanya, bara yang muncul akibat gesekan-gesekan dengan kerja.

Seorang tua berkata "lihat dia, dia bekerja di perusahaan besar. Jadi karyawan sukses" kepada anaknya, yang entah berusaha membandingkan orang sukses tersebut dengan siapa. Si anak menghela napas dan memalingkan pandangannya, entah sudah ke berapa kali ia mendengar kata-kata itu dari orang tuanya.

"Tujuan bekerja itu apa sih? Bukankah untuk menghasilkan uang?" Kata seorang pemuda yang telah berpenghasilan namun belum punya pekerjaan tetap. Kata aman, baginya hanya sebuah kesemuan "sebab pegawai pun masih bisa kena PHK" lanjutnya.

"Mengapa batas ukur produktivitas harus uang?" Tanya seorang yang bercita-cita menjadi biksu.

"Tetaplah berkarya walau habis terang" kata seorang seniman. "Uang hanyalah bentuk apresiasi, sama seperti tepuk tangan" jawab kawannya.

"Tunjukkan karyamu" kata seorang penulis lewat judul bukunya. "Jangan cuma komentar, balas karya dengan karya" kata penulis lain dalam novelnya. "Lalu, apa aku pantas menyebut diri 'berkarya'?" Tanya seorang pembaca setelah selesai dengan buku yang baginya menakjubkan.

"Ketika kita terus berkarya, kita telah menjadi karyawan. Entah untuk apa atau untuk siapapun karya itu ditujukan" kata hati seorang yang berusaha membangkitkan rasa percaya dirinya. "Benar, kata kuncinya ada pada karya itu sendiri." Ia menjawab kata hatinya.

"Menjadi kreatif itu mudah, terus saja membuat sesuatu. Sebab kata kreatif, berasal dari create yang berarti membuat" yang ini, kataku pada diri sendiri. Hey..... Kita semua berhak berpendapat bukan? Bagaimana menurutmu?


6 Desember 2018
@Student Center UNY
11:52 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...